[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Woeeee besok Senin??? Akhh aku sekolah woy, Se-ko-lah. Sekolah?? Magang 6 bulan ga ada materi sama sekali plss, semua tentang akuntansi di kepalaku udah meluap. Gimana ini😭😭
Udah akh, baca aja nih guys!
Happy reading Ners 🎀
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sama seperti rencana sebelumnya. Juna dan orang tuanya begitu juga Jaka dan Saka berangkat bersama untuk berkunjung ke Asrama SMA Matahari. Menyempatkan diri juga untuk mampir di swalayan, membeli berbagai camilan. Untuk susu atau keperluan bayi mereka tak membeli, tahu Seno pun mampu membeli itu dari orang tuanya juga takut salah beli.
Sampai mereka di sana, masuk ke kamar asrama tetapi nampaknya kamar asrama sempit, lalu di luar juga mendung. Ide terlintas dipikiran mereka.
"Piknik belakang Asrama!" seru beberapa dari mereka.
Semua bergotong-royong royong, Jian pun anteng saja digendong oleh Jena memperhatikan para abangnya yang sibuk menggelar karpet, menyusun makanan, bahkan menancapkan payung besar juga. Takutnya bayi di sana masih merasa panas walau cuaca mendung serta rimbun pepohonan ceri di sana. Suasana hangat melingkupi tempat itu, canda tawa juga sesekali mengudara.
Sudah selesai. Saat itu juga terdengar bunyi telpon dengan nada dering orang menjerit-jerit. Orang-orang sampai kaget, bahkan Jian hampir menangis karena itu.
"Apa sih nada deringnya, Ki!?" sentak Seno. Tahu sendiri anak ini sebenarnya emosian. Nada dering ponsel Riki benar-benar mengagetkan mereka semua.
"Hesa nih kerjaanya!" Riki menatap nyalang pada Hesa, sedangkan Hesa malah tertawa-tawa.
"Bang? Di belakang, sini aja kita piknik," ucap Riki pada ponselnya kemudian memutuskan panggilannya.
"Bang Jay, ya?" tanya Jaka dibalas anggukan oleh Riki.
Tak berselang lama datang James, Ketrin, Jay, Anna dan Ayen. Seperti biasanya bayi selalu diutamakan, saat Ayen datang langsung dikerumuni oleh Jaka dan Juna lebih dulu.
Ada tiga karpet tebal yang lumayan lebar, karpet yang ada payung diisi Seno, Jena, Ketrin, Jian, Anna dan Ayen. Karpet satunya ada James, Danar, Jay dan Saka yang sibuk menyiapkan alat karaoke-an. Lalu karpet satunya hanya ada Juna tiduran di sana, lantas yang tiga malah main engklek di jalan paping blok tak jauh dari sana.
"Kapan anak-anak Om akur?" tanya Jay pada Danar, mereka masih bersiap untuk memulai karaoke.
"Ngga tau, dua-duanya kepala batu, sama kaya Om pas muda," balas Danar sedangkan Juna yang tak jauh mendengarkan, remaja itu mencebikan bibir meledek Papanya. Memang dasar.
"Udah Om jangan galau, gas karokean," ajak Saka. "Lagu apa nih, Meggy Z atau Hamdan ATT?"
"Lagu-lagu Roma Irama deh coba," usul Danar. Seleranya memang bapak-bapak satu circle ini.