[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Alooo bubun kembali, maap lamaa, sibuk bgt siapin buat CB Enha+ persiapan kuliah 😭🙏🏻 (tapi kabar baiknya, cerita ini sudah dapat ending, tinggal revisi🙂↕️)
Happy reading yaa Ners 🎀
Maaf banget jarang update atau sekedar menyapa, bubun harap Kelen ngga marah ke bubun🙁🌷
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah sore di hari ini. Riki tengah meninggalkan ruang rawat Seno yang sudah ditunggu Anna juga dua bocil. Ini sudah hari kedua ia bolak balik dengan kursi rodanya demi melihat keadaan Jaka dari sebalik pintu kaca. Iya, Riki tidak juga diizinkan untuk menemui Jaka. Ia kini memandangi Jaka, lelaki yang di masa SMA selalu menjadi Abang kesayangannya itu terlihat tengah berbincang dengan Saka. Hanya dengan melihat Jaka dari kejauhan, Riki rasanya lega, setidaknya Jaka terlihat baik-baik saja.
"Ki?"
Ia menoleh, ternyata itu Ayahnya. Riki langsung menatap khawatir pada pria itu. "Ayah kenapa kesini lagi? nggak di rumah aja? Istirahat loh, Yah... Ayah tuh, nggak mau dengerin Iki deh!" Riki menasehati sang Ayah dengan sedikit sebal pada ayahnya yang keras kepala itu. Pasalnya kemarin malam juga sempat tumbang, tekanan darahnya naik sebab banyak pikiran. Mana sang Ayah juga memiliki riwayat stroke, Riki sudah mewanti-wanti Ayahnya agar istirahat saja dirumah, tapi malah datang lagi.
"Nggak papa," kata Ayahnya pelan seraya tersenyum lembut, ia beralih ke belakang Riki. "Belum bisa nemuin juga, kan? Ngga papa lain kali pasti bisa. Sekarang ke ruangan Abang yu? Ayah ada beliin bungeoppang kesukaan kamu."
Riki mengangguk pelan, ia tidak ingin menjawab, hatinya terlampau sesak.
Tau putranya tak akan menjawab, Tae mendorong kursi roda itu, membawanya untuk kembali ke ruang rawat Seno. "Tadinya Ayah mau beliin eskrim yang pernah kamu ceritain, yang bentuk ikan itu. Tapi takutnya kamu belum boleh makan kaya gitu, kalo dah sembuh aja baru Ayah belikan, ya?" kata Tae, ingat Riki pernah mengadu padanya, bahwa remaja itu sangat suka eskrim bentuk ikan yang belum lama ini banyak dipasaran.
Tae menunggu respon tapi sepertinya, Riki hanya diam tanpa berniat menjawab apapun, sejenak ia berpikir bagaimana mengatasinya? Oh begini saja. "Nggak dijawab nih Ayah ngomong? Nanti bungeoppang-nya Ayah kasihkan deh sama orang," biasanya jika begini mempan.
Riki mengernyitkan kening, sedikit mendongak pada Ayahnya di belakangnya. "Iya Ayah iya, mau Iki tu, awas dikasihin ke orang! Kalo udah sembuh juga beliin eskrim ikannya sepuluh, gak mau tau!" kata remaja itu secara cepat seraya menyilangkan tangan. Bibir tebalnya juga melengkung ke bawah.
Tae pun tertawa seketika, putranya yang ini jika sudah bicara cepat, persis kartun bebek yang marah-marah.
-☀️🌻-
Dalam ruangan rawat itu, Jaka menatap kepergian Riki. Ia tak habis pikir pada Abangnya yang tengah menunggu dirinya di sini. Kenapa terus menerus melarang Riki menemuinya? Padahal Riki terlihat sangat putus asa hanya demi bertemu dengannya.