53. Too Close ♪

908 87 43
                                        

Hai? Bubun kembali~

maaf bikin nunggu lama😭🙏🏻

ayo temani ini sampai selesai, tinggal dikit kok hihi
Jangan lupa komen komen, bubun kangen komen kalian🥺

Happy reading Ners🫶🏻

Happy reading Ners🫶🏻

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-☀️🌻-

Tempat yang biasa menjadi saksi perpisahan itu tentunya ramai. Langkah kaki orang-orang terlihat cepat, ke sana kemari, semua sibuk mengurus ini juga itu. Ada yang berwajah sedih, ada yang sedikit panik, ada juga yang terlihat bahagia, lengkap. Menunggu take off pesawat, mereka yang akan pergi mengantar Jaka kini masih di ruang tunggu.

Riki duduk di kursi dengan Seno di sisinya, Saka terlihat membereskan tas-tas milik Jaka dibantu sella, juga Jaka yang tengah diperiksa keadaannya oleh dua tim medis dan seorang dokter yang ikut mengantar. Kala itu Tae baru datang, bersama Hesa, Juna, Sekar, Jay, Anna dan dua bocil, kemudian mendekat pada orang yang mereka tuju masing-masing.

Sekar ke sampe Jaka, ia dan sella hanya bia mengantar kemari, keduanya tidak akan ikut. "Jaka harus sembuh ya? Cepat pulang, Ibu tunggu," kata Sekar lirih, air mata wanita itu meluruh begitu saja.

Jaka pun menatap Ibunya, memeluknya meski kesulitan karena dari kursi roda. "Iya bu, Jaka sembuh," bisiknya pada sang Ibu.

"Setelah kak Jaka sembuh, kalian janji cepat pulang ya?" Sella yang berada di sisi Saka berucap demikian. Ia rindu abang-abangnya jika ditinggal terlalu lama. Ucapan itu diangguki Jaka maupun Saka, keluarga kecil yang sudah tidak utuh itu saling merangkul, memberikan kehangatan lewat kasih sayang.

Di sisi lain, Tae menurunkan Jian dari gendongannya, anak itu langsung memeluk Riki. "Hmm nak kuut," Jian langsung merengek, menatap melas Abangnya.

"Hm, yaa! Muu kut Papa..." Ayen yang digendong Anna ikutan bicara, menatap melas pada Jay di depannya.

"Jangan pada sedih dong, kita cuma antar, bisa bolak balik kok Abang sama Papa kamu tuh," kata Jay menenangkan.

Riki sendiri tersenyum, menatap gemas pada Ayen apalagi Jian yang masih memeluk kakinya. "Abang pasti cepat pulangnya."

Jian menatap ragu pada Riki, kemudian beralih menatap Seno, "Papa, apa pat puyang?"

Seno terkekeh, adiknya yang kecil tidak percaya Riki sepertinya? Saat melirik Ayen, anak itu juga menatap padanya, menunggu jawaban. Ia langsung mengangguk, "Iya... Papa cepat pulang."

Dua anak itu pun terlihat mengangguk walau cemberut.

"Kak, titip Toyep juga ya, jangan lupa ajak main," pesan Riki, sayang sekali nampaknya pada si Toyep.

"Jual aja, Na. Toyep kerjanya makan tidur main doang ko," Jay menyambung lantas ditatap sinis oleh Riki.

Anna tertawa, Jay itu memang tidak betah jika tidak usil pada Riki. Ia kemudian mengangguk seraya tersenyum, tanpa dipinta pun pasti ia lakukan, dia tau Riki sayang kucing motif mujaer satu itu.

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang