[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Vote aja kalo pun baca offline, kalau bisaa ya spam komen biar rame~
Udah 13k mata, ini jauh lebih cepat dibanding yang aku kira, makasi untuk dukungannya, jalan kita masih panjang, ayo kawal cerita ini sampai ending~
Yang belum follow, follow Napaa, biar Kalian tau pas aku kasih pengumuman di wall soal WP ini🥹
Happy reading Ners🎀
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiba ujian semester ganjil di SMA matahari yang sudah dimulai sejak tadi siang. Dan tentu tak aneh sekali untuk Riki dan Hesa di mana keduanya mendapat nilai 20-an di dua mata pelajaran hari ini saat guru langsung mengirimkan hasilnya.
Karena sudah ada Seno ada juga Jay yang tidak sibuk, mereka berdua pun dipaksa ikut belajar bersama, tidak sih lebih tepatnya sesi ceramah Jay.
Oh ya, ada Saka juga. Ia katanya ingin bergabung juga.
Delapan butir makhluk hidup di kamar tersebut, kenapa delapan? Karena Toyep bergabung di kardus ternyamannya di pojok ruangan.
"Kalian berdua ini ada cita-cita ngga sih?" Jay yang duduk bersila di karpet berbulu itu mode bapak-bapak, sekarang dengarkanlah para anak-anak.
"Ngga tauu," kompak dua remaja lelaki yang duduk bersila di depannya.
Jay refleks menepuk jidat, "Nilai kalian ini lho, bener-bener parah. Iya kalian mungkin tetap lulus besoknya, tapi apa kalian bangga lulus dengan nilai hasil sokongan? Pengetahuan di masa sekolah itu penting, paham tidaknya kalian dalam belajar dilihat dari nilai yang didapet," ceramah Jay panjang lebar.
"Tapi—" Hesa baru saja akan memotong pembicaraan.
Tidak, tidak jadi Hesa melanjutkan kata-katanya sebab dipotong lebih dulu oleh Jay. "Kesuksesan ngga diukur dari angka? Oke ngga. Tapi belajar aja kalian malas apalagi berusaha buat sukses, coba pikir."
Terdiam dua remaja itu, mendadak sesal memenuhi dada dan kepala mereka, Jay ini ucapannya ternyata mampu menyadarkan mereka.
"Sukses kuncinya juga rajin, kalian dapet nilai jelek karena males belajar 'kan? Males memahami apa-apa, lantas suksesnya mau datang dari mana?"
Masih diam dua remaja lelaki itu, bergelut dengan pikiran masing-masing serta memasang telinga baik-baik.
Jay mengatur nafasnya dulu, walau sedikit emosi berusaha tetap menjaga agar tak meninggi nada bicaranya, "Sukses juga kadang keberuntungan. Tapi coba lihat ke belakang lihat masa lalu kalian, bukan Abang mau ungkit. Tapi kalian ngga inget se-sengsara apa hidup kalian sebelumnya? Kalian udah beruntung masih bisa hidup lebih baik atas izin Tuhan kalian, ngga sakit, tinggal dengan nyaman. Kalian kira keberuntungan bakalan terus hadir di kehidupan kalian?"
Semakin terdiam, bahkan yang tidak bersalah juga jadi merasa ikutan menunduk takut. Apa yang Jay ucap sepenuhnya benar, ia memang benar-benar paling dewasa sesuai umurnya meski lelaki itu juga kadang sama gesreknya seperti mereka.