[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Jika membaca online, tolong komen minimal dua, biar aku semangat🐣 Jika kamu membaca offline vote saja, vote nya tetap masuk meski offline.
🎀Happy Reading Ners🎀 ☀️🌻
'☀️|Sun and Sunflower|🌻'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari berikutnya, ini waktunya para murid kembali ke asrama. Tetapi sepertinya kali ini berbeda, sebab Riki dicegat Hesa dan Jaka, padahal niatnya mau kembali ke asrama.
"Jangan lewat sana. Ada Leka," bisik Hesa.
"Mending muter aja jalannya," usul Jaka, tak tega hatinya melihat Riki terus ditempeli Leka.
Riki memang malas menemui gadis itu, benar-benar mengesalkan. Semenjak SMA gadis itu sering cuek pada Riki, saat rumor itu tersebar malah terus mepet pada Riki, seolah memang menyembunyikan kebenaran, "Ya udah gue muter deh."
"Eh Ki, ikut yo? Palak anak kemaren," Hesa berucap sebelum Riki beranjak.
Ya sudah, Riki ikut saja kalau begitu, sekaligus menghindari pertemuan dengan Leka, "Gue nunggu di tempat biasa ya."
"RIKI SAYANG KAMU DI MANA??" pekikan melengking nan menusuk telinga dari seorang gadis yang barusan mereka bicarakan.
"Merinding gue dengernya anjir," Hesa bergumam, sesaat kemudian menoleh lagi ke tempat tadi Riki berada, sudah tak ada anak itu.
"Riki nya udah lari," ucap Jaka karena Hesa menatapnya seolah bertanya.
Lumayan jauh Riki berlari, dari kelas hingga ke ujung gedung asrama bagian luar pagar, di sana sepi dan rimbun pepohonan, biasanya menjadi tempat bolos atau pun perundungan seperti yang saat ini akan mereka lakukan.
Dengan nafasnya yang lumayan bahkan sangat berantakan sebab berlari, Riki memilih duduk di atas tumpukan ptongan kayu-kayu besar, mengistirahatkan tubuhnya sejenak sambil menunggu Hesa dan Jaka kemari. Tidak ada yang ia pikirkan kali ini, saking muak dengan segalanya kepala Riki terasa blank. Ia hanya terdiam, melamun dengan pikiran kosong hingga suara ribut membuatnya menoleh. Mereka yang Riki tunggu sudah datang.
Brakh!
Jaka seenaknya mendorong lelaki yang ia bawa ke tumpukan meja-meja dan kursi-kursi yang sudah lapuk di tempat itu.
"Pelan Bang, mati anak orang," ucap Riki karena khawatir pada Jaka-nya, kalau orang itu sampai mati, kan, Jaka yang terkena masalah. Tolong diingat bahwa Riki sangat sayang Abang Jaka.
"Sans, dia nih menurut gue mayan strong kalo soal gini, kemaren gue bogem gak meringis dikit pun dia," sambar Hesa, ia mewakili Jaka, mana mungkin lelaki itu bicara.
Setelah Riki lihat baik-baik, ternyata benar, orang yang menabrak Riki tempo hari adalah sasaran buli Hesa dan Jaka. Tapi rasanya, seperti tidak asing? Oh, iya... Mungkin karena tempo hari mereka pernah bertemu?