[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Aku kembali:> Jangan lupa tinggalkan komen dan Vote! Mungkin Minggu depan aku baru up lagi, (biasalah author sibuk, hueee)
Happy reading Ners 🎀
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-☀️🌻-
Berbaikan dan memperbaiki adalah istilahnya. Ya, meski untuk Seno belum bisa sepenuhnya memaafkan sang ayah sebagaimana Riki. Tapi dengan Ayahnya yang mau menyayangi Riki lagi, menyesali perbuatan dirinya pada almarhumah Elia juga mau menerima Jian sebagaimana seharusnya. Rasanya, perlahan Seno akan bisa bersikap lebih baik pada sang ayah. Ajaibnya, setelah dua minggu lebih menemani Tae menjalani terapi dan pengobatan lain, keadaan Tae kini jauh lebih baik. Mereka sudah pulang ke rumah Tae di kota Seoul itu dan memutuskan memanggil dokter ke rumah saja dibanding terus di rumah sakit. Meskipun begitu, Tae masih di kursi roda karena sulit berjalan dengan baik walaupun sudah bisa bicara dengan baik.
"Ayah sudah lebih baik, kalian kalo mau main, main aja. Mumpung masih musim salju di luar. Riki belum pernah kan main salju?" tawar Tae ketika mereka baru saja sampai rumah beberapa menit lalu.
Riki langsung semangat dan mengajak Seno. Ayah mereka duduk di kursi roda di teras, ditemani Jian di stroller bersama seorang babysitter, sementara Riki dan Seno mulai bermain di halaman rumah.
"Waa, dingin! Tapi saljunya banget!" seru Riki heboh, senyum lebar merekah di bibirnya. Tangannya sibuk meremas-remas salju yang menumpuk di hadapannya. "Eh, bisa dimakan gak, Bang?" tanyanya polos.
"Ehh ya nggak, bukan es serut itu," Seno yang tengah berjongkok sambil membukat-bulatkan salju itu berucap.
"Abang bikin apa?" Riki langsung tertarik pada kegiatan Seno dan mendekat ke sisi Seno.
Seno menoleh, lalu meletakkan bola salju yang tadi ia pegang, mengusap tangannya sembarangan pada baju. Setelah itu, ia membetulkan syal Riki yang melorot. "Pakai yang bener. Cuaca dingin gak bagus buat kamu," ucapnya sambil tersenyum, membuat Riki ikut tersenyum senang.
"Uh! Paa!"
Riki dan Seno kompak menoleh pada Jian di teras sana, jaraknya hanya sekitar empat meter saja, "Adek nggak bole ikut! Kamuu masi kicik," seru Riki sambil dadah-dadah pada bayi yang tengah memukul-mukul strolleryang didudukinya. Terlihat sekali Babysitter kewalahan menahan bayi itu.
Sedangkan Tae hanya menatap mereka semua dengan binar bahagia, ternyata begini ya menjadi seorang ayah?
Jian makin tak mau diam, tangannya terus menujuk halaman— tempat abang-abangnya bermain. "Uhh, Bu! Ba! ba!" bayi itu masih mengoceh, ntah apa ocehannya tak ada yang mengerti.
Riki berlari ke arah Jian sambil melompat kecil, kebiasaan Riki saat berlari memang begitu. Sebelah tangannya juga membawa sebuah bulatan salju. "Nah coba pegang," ucapnya pada Jian.