10. Moonstruck ♪

2.6K 265 50
                                        

Hallo aku kembali, kangen Anaa ngga? Eh kangen sama Riki dan abang-abangnya aja ya.

Part bnyak gula meski ada pahitnya, jangan baca di tempat umum sebab mengandung bawang.

Ingat untuk vote meski baca offline, jikalau berkenan silahkan komen juga di paragraf ceritanya, biar aku semangat dan ceritanya rame.

Happy reading Ners🎀

"Buna!! Sakit Bun!!" Riki berteriak lantang, tetapi bundanya terus memukuli Riki dengan sapu lantai, bahkan gagang sapu sudah patah, Riki merasa sekarang tubuhnya mengecil, ia seperti anak kelas 2 SD

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Buna!! Sakit Bun!!" Riki berteriak lantang, tetapi bundanya terus memukuli Riki dengan sapu lantai, bahkan gagang sapu sudah patah, Riki merasa sekarang tubuhnya mengecil, ia seperti anak kelas 2 SD.

Seperti di teleport, Riki tiba-tiba berpindah ke dalam ruangan gelap. Di sana sangat lembap, gelap dan pengap, Riki ingat, ini gudang rumah lamanya di Bandung. Tempat Riki bermalam apabila Rena sedang kumat dan tega mengurungnya di sana.

"Buna! Keluarin Riki! Keluarin Riki! Riki takut gelap!" menangis histeris Riki di sana.

Sedetik kemudian seakan terhempas ke dalamnya jurang, Riki menjerit dan menutup mata, saat membuka mata. Lagi-lagi ia berpindah tempat, kamar mandi, Riki dalam keadaan basah dan ada seorang di hadapannya hanya saja tak jelas wajahnya tapi Riki tau itu Rena dahulu kala.

"Buna! Sakit Bun, sakit!" Riki menangis lagi, terasa perih punggungnya tetapi Rena terus menyirami Riki dengan air berulang kali.

"BUNA CUKUP! RIKI SAKIT RIKI SAKIT!"

"Aaaa!!" Riki terduduk dari tempat tidurnya.

"Akhirnya kamu bangun Dek!" Seno langsung memeluk Riki, sang adik sudah penuh peluh dari dahinya, raut ketakutan juga tergambar jelas di wajahnya.

Seno merasa sedikit lebih lega, tadi ia sempat panik tak terkira karena adiknya terus meracau memohon pada Bundanya untuk berhenti, padahal lelaki itu tengah menutup matanya.

"Riki takut jangan tinggalin Iki sendirian lagi," Riki merengek, semakin memeluk erat tubuh Seno yang jauh lebih kecil darinya itu. Pelukan itu hangat seakan menyalurkan energi kehidupan untuk Riki yang belakangan merasa tak hidup lagi.

Di saat orang-orang di luaran sana banyak yang saling membenci pada saudaranya dengan berbagai alasan, ingatlah di sini ada Riki yang hanya memiliki saudara di kehidupannya, Riki menyayangi saudaranya secara tulus apalagi itu adalah seorang Seno satu-satunya keluarga yang berhubungan darah secara dekat dengannya.

"Ngga akan. Kali ini Abang janji ngga akan ninggalin," ucap Seno berusaha menenangkan Riki dulu dengan mengusap-usap kepala Riki.

Beberapa saat Riki melepas pelukan mereka, Riki menundukkan kepala, ia ini kan gengsian. Berucap seperti tadi membuatnya merasa malu.

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang