[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Senangnyaaa part kemaren diramein sama komen-komen kaliann hihiii jdi mkin syng sama para readers🤩
BTW, VOTE OY VOTE😠😠
🎀Happy Reading Ners🎀
'☀️|Sun and Sunflower|🌻'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌻☀️
Hari selasa ini anak SMA Matahari harus segera kembali bersekolah. Diantara para murid yang harus kembali sekolah, tentu pagi-pagi begini sudah ada yang sibuk ini itu, termasuk Riki. Ia juga sibuk, sibuk tertidur pulas maksudnya.
"Ki bangun Ki, sekolah loh," Seno membangunkan sang adik tapi jelas masih tak mempan, padahal sudah lima belas menit lalu Seno membangunkan tapi Riki masih setia pada kasurnya.
"Hm," saja balasannya, lalu Riki kini malah lanjut membungkus diri dalam selimutnya. Sudahlah Seno kembali dulu ke dapur untuk melanjutkan acara masaknya.
"Seno! Riki!" panggilan beberapa orang di luar sana sambil mengetuk-ngetuk pintu.
"Masuk aja, ngga dikunci," pekik Seno yang kini tengah berperang dengan minyak panas di atas wajan.
Pintu terbuka menampilkan tiga lelaki berseragam sekolah, siapa lagi jika bukan penghuni kamar sebelah, "Belom bangun juga?" Juna berucap ketika mendapati Riki masih setia dengan kasurnya dan selimutnya.
"Gak mau bangun, bangunin deh. Tanggung nih lagi goreng bawang," Seno berucap dan masih berkutat dengan wajan, "Kalian juga belom sarapan, kan? Kita makan dulu."
Mereka mengangguk setuju saja, memang mereka belum sarapan.
"Ki bangun!" Hesa menarik selimut Riki, tapi kembali ditarik oleh Riki.
Juna dan Jaka pun jadi terkekeh dibuatnya, "Gak mempan, pake jurus timpa aja," usul Juna lantas Hesa pun menyengir setuju.
Bugh!
Tubuh Riki ditimpa oleh Juna yang melompat ke atas kasur.
"Woylah lah Jun!" Riki memekik sambil menggeliat ingin bangun tapi terlambat.
Bugh!
Kini gantian Hesa, "Bangun Rik Bangun!" Hesa berteriak-teriak sambil sengaja menghentak-hentakan tubuhnya di atas punggung Juna.
Perasaan Juna justru tak enak, serius sangat tak enak. Tubuh mungilnya dalam bahaya, Hesa saja sudah berat untuknya jangan sampai ditambah lagi!
"Turun anjir berat co!" teriak Riki.
Bukan turun, tapi kini malah Jaka mode bokem pun aktif.
Bugh!
"Wadohh Jak tumben-tumbenan lo! Gepeng nih gue!!" Juna yang paling kecil itu pun memekik paling kencang, merasa tubuhnya gepeng dihimpit dua gapura kabupaten.