[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Vote meskipun baca offline kalauu bisa ayo ramein komentarnya, biar Author semangat💗🎀
Happy reading ners 🎀
☀️'Sun and Sunflower'🌻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Empat lelaki tengah berkumpul di dapur kantin bersama Saka yang sibuk melayani pembeli, termasuk juga Jay yang ikut-ikut ke sana di jam makan siang ini. Mereka berbincang mengenai masalah Juna dan Hesa yang sepertinya tak ada kemajuan.
"Kayanya memang ngga bisa kita satuin mereka secara langsung, nunggu keajaiban sama kesadaran mereka aja gak sih?" saran Jaka, karena sudah lewat tiga hari masih sama keadaanya.
"Iya, udah tiga hari sekolah aja mereka ga pernah bareng pas di kantin, kek jauh-jauhan gitu," Riki yang tengah bermain dengan kacang panjang di meja dapur itu ikut bicara.
Saka yang tengah melayani pembeli menoleh dulu untuk ikut bicara, "Hm, mungkin gue bisa bilang sama Sella juga deh, gimana pun dia terlibat di sini dan gak tau apa-apa."
"Yah, coba lah, siapa tau dia bisa kasih saran juga kan," ucap Seno kemudian ia melirik Jay, lelaki yang di mata Seno akhir-akhir ini selalu terlihat.
Alias, Jay itu tidak pulang-pulang, selalu di asrama. Jengah juga melihat lelaki itu terus-terusan.
"Lu juga Bang, kok gak balik-balik ke kota?" Hesa bertanya seolah mewakili isi kepala Seno, ia rasa aneh saja. Padahal rumah Jay luar biasa mewah dan tercukupi ini itu, tapi Jay malah memilih tinggal di asrama yang jelas tidak senyaman itu.
"Males," balas Jay kentara sekali malasnya.
"Klinik lu?"
"Ada Chandra kok," ucap Jay benar-benar antara mau dan tak mau berucap.
"Kenapa sih Bang?" tanya Seno sambil sengaja menyikut Jay di sisinya itu.
"Ngga Papa ih, bel masuk tuh. Abang ke asrama aja, sini kunci mau tidur di sana," ucap Jay lagi sambil meraih kunci yang diberikan Seno.
Ya Jay memang begitu, selalu paling depan jika masalah adik-adiknya, tapi kegundahan hatinya sendiri jarang ia bicarakan depan adik-adiknya.
Tentu saja, empat butir remaja di sana berkedip mata menatap heran lelaki yang memang aslinya suka mood-yan tapi kali ini benar-benar berbeda sekali.
Jay melangkah menuju asrama, baru akan memutar kunci pintu kamar asrama, ponselnya berbunyi dengan tertera nama orang yang ia kenali.
"Hah? Napa Chan?"
"Klinik gue tutup ya?"
"Seenak jidat lo aja ye," balas Jay malas.
"Hehlu yang punya klinik aja ga nongol-nongol ye setan!"