[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lu ngapain di sini?" Hesa menatap tak suka pada lelaki lebih pendek darinya yang tengah duduk di kursi taman asrama, tempat yang dijanjikan Sella untuk saling bertemu dengannya.
"Lo yang ngapain!" Juna jelas lebih nyolot, ia kan diundang kemari oleh Sella.
Juna mendelik, "Gue juga disuruh dateng sama dia kok," balasnya sinis kemudian membuang muka.
Dan keduanya terdiam di posisi berdiri, sama-sama tahu letak kesalahan masing-masing tapi memang engan untuk berbaikan. Dasar mereka ini. Perlu Rukiyah sepertinya.
"Hai?" sapa Sella, gadis berdress soft pink selutut serta rambut setengah di kepang itu datang dengan senyumannya yang begitu manis.
Hesa maupun Juna tersenyum sumringah, menatap seorang yang datang dengan binar mata, detik berikutnya mereka saling melirik lalu kembali mendatarkan wajah. Juna tak enak hati karena itu pacar Hesa, dan Hesa tak enak hati juga karena Juna kan menyukai Sella.
Anehnya mereka sama-sama engan mengakui satu sama lain.
Sella menghela nafasnya saat sampai di depan keduanya, perlu keberanian besar baginya dalam melakukan hal ini, Saka saja sudah menanyakan berkali-kali apa keputusan Sella ini tepat, tapi ini tepat menurutnya dan ia harus segera mengucapkan maksud kedatangannya, "Kak Juna duduk di sini, Kak Hesa duduk di sini, oke?"
Sella duduk diantara Juna dan Hesa.
"Ada yang mau kamu omongin Sel?" Hesa bertanya lebih dahulu.
Sella nengangguk, "Iya. Jadi kalian dengerin aku ya?" ucapnya diangguki Hesa maupun Juna.
Menoleh pada Juna di kanannya, Sella lagi-lagi menghela dulu nafasnya yang terasa berat, "Kak Juna, maaf sebelumnya. Sella mungkin udah pernah seolah kasih harapan ke Kakak dan maaf, Sella dengar Kakak suka sama Sella--"
Juna nampak akan membuka mulutnya tapi detik itu juga Sella menaikkan satu jarinya di depan mulut Juna, "Stop jangan bicara dulu, dengerin aku baik-baik, oke?"
Juna, hanya bisa mengikuti saja apa yang dikatakan Sella.
"Makasih atas hal tersebut, aku ngga nyangka disukai sama Kakak. Tapi maaf, Kak Juna juga jelas tahu kan? Perasaanku bukan buat Kakak."
Juna menunduk, ia terkekeh merasa miris saja, ia tau ini akan diucapkan Sella suatu saat, tapi ternyata lumayan nyeri di ulu hatinya juga ya?
"Dan untuk Kak Hesa," Sella menoleh ke arah Hesa, menutup matanya sejenak berharap dapat menetralisir perasaan campur aduk dalam dirinya saat ini, "Maaf. Sepertinya.... Aku rasa kita ngga perlu lanjutkan hubungan ini."