48. Blockbuster ♪

1.1K 113 42
                                        

Eitss stop! Janji ramein dengan komen dan vote dulu ya! Nggak author tamatin nih cerita kalo sampe author ngambek🐱!

Ayo ayo yg mau masuk saluran buat info² dan mungkin Bubun jg butuh beberapa saran kalian di sanaa hehee...

Happy reading Ners 🎀

Pertama kali sampai di sana, setiap mata pasti akan langsung fokus pada batu-batu karang yang sangat banyak dengan berbagai ukuran hampir di sepanjang bibir pantai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pertama kali sampai di sana, setiap mata pasti akan langsung fokus pada batu-batu karang yang sangat banyak dengan berbagai ukuran hampir di sepanjang bibir pantai. Tempat itu berangin lumayan kuat dengan langit yang nampak kelabu, deburan ombak berulang kali menyapu bibir pantai dengan irama yang teratur. Beberapa orang masih menikmati pemandangan laut yang membentang luas, bermain di bebatuan, sementara itu ada juga yang bersantai di pondok-pondok kayu.

"Ki? Serius mau ke pantai sana? Sini aja nunggu bisa kok," ucap Jay menyarankan Riki agar tetap di pondok yang agak jauh dari pantai saja.

"Iki nggak bisa terus turutin ketakutan Iki pas lihat laut, mau berani lagi main di air, Bang!" kata Riki mantap.

Jay terdiam, menatap adiknya yang sudah mantap dengan keputusannya. "Mau gue temenin?"

Riki menggeleng cepat. "Ngga perlu, Bang." Riki sekarang sedikit merendahkan badannya, menatap dua anak kecil yang dari tadi memperhatikan dirinya. "Abang mau ke sebelah sana ya? Adek-adek sama Mama Anna dan Papa Jay, oke?" kata Riki izin pada Ayen dan Jian. Sebenarnya, Jian itu harus memanggil kakak dan Abang pada suami istri itu, tetapi karena Ayen memanggil mereka dengan sebutan Mama Papa, yah jadinya Jian ikut-ikutan juga.

"Hum!" kata Jian mengangguk tanpa banyak protes.

"Kuut?" Ayen malah mau ikut, ekspresi wajahnya menuntut dengan tangan terangkat minta digendong.

"Jangan, Ayen sini juga, sama Mama. Biar Abang Riki ke sana," kata Anna melarang, takutnya malah merepotkan Riki. Kemudian ia terkekeh melihat putranya manyun sebab dilarang.

Riki pun pergi setelah mengusap pucuk kepala dua bocah itu, ia sengaja melepas sandal jepitnya dekat pondok, melangkahkan kaki pelan sambil merasakan butiran halus pasir di telapaknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Riki pun pergi setelah mengusap pucuk kepala dua bocah itu, ia sengaja melepas sandal jepitnya dekat pondok, melangkahkan kaki pelan sambil merasakan butiran halus pasir di telapaknya. Tatapan tajam itu lurus ke depan, menatap lekat pada deburan ombak yang mendekat kemudian kembali menjauh. Baru sampai di bibir pantai, sekelebat ingatan masa kecilnya muncul kembali, lebih tepatnya ingatan bagian buruknya saja.

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang