[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Vote kalau readers adalah manusia😭🙏🏻 spam komen kalau kalian mauu, hihii~
Happy Reading Ners 🎀 🧡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Usai kegiatan classmeet sekolah libur hingga seminggu usai tahun baru. Tapi mereka ternyata tak pulang dan memilih membuat acara kemah-kemah apa adanya di halaman belakang Asrama.
Jay tentu pelopor dana dan segala macamnya, ia pusing di rumah jadi tentu larinya kemari.
Dua tenda ukuran besar sudah terpasang, Riki, Seno dan Juna satu tenda, lalu Jaka, Saka, Hesa dan Jay juga satu tenda. Tenda mereka dibangun saling berhadapan dengan karpet di muka tenda juga satu api unggun yang sudah menyala di sisi sana.
"Cape," keluh Saka yang baru usai menghidupkan api unggun di depan mereka, kemudian ia duduk di karpet bergabung dengan Jaka juga Jay yang tengah membuat bumbu dan mengupas jagung.
"Yee idupin api doang juga," ledek Riki yang hanya tengkurap di karpet seberang bersama Seno juga Juna yang duduk di sana.
"Eh lo cuma tiduran ya dari tadi? Kayu bakar gue yang bawain, bangun tenda Hesa, Seno sama Juna, lo berkontribusi apa coba?" Saka melotot tak terima.
Riki menyengir, "Gue bantu menyemangati kalian, lagian gak ada eskrim sama bungeoppang, jadi malas," ucapnya enteng kemudian tertawa dipaksakan dengan suara 'Ha, Ha, Ha'.
"Aduh lucu banget punya adek begini," Seno malah gemas pada adiknya.
"Gue yakin adek orang lain ngga ada yang kaya Riki, limited edition ni bocah," Juna ikutan berkomentar membuat tawa kembali mengudara, membuat Riki salah tingkah tak karuan.
"Woyyyy kangen cewek gua," keluh Hesa saat menaruh ponselnya, gadis yang kata Hesa pacar dia satu-satunya 'kan pulang, jadi ia tak bertemu dengan gadis itu belakangan. Pikirannya jadi dipenuhi gadis kesayangannya itu.
"Crush gue juga cuek akhir-akhir ini," Juna ikutan mengadu kemudian ikut berbaring di samping Riki. Galau berat nampaknya.
"Dah punya laki mungkin," celetuk Saka.
"Tapi dia ngga pernah post story cowok kok," Juna berucap lagi, tolonglah semangati jangan malah membuat Juna overthinking.
"Ah ngmongin cewek mulu, mentang-mentang pada punya cewek. Hargai gue nih, jomblo!" Jay menyela gatal dengan pembicaraan mengenai perempuan.
"Ih iya, keingetan dulu Bang Jay mau nembak cewek sambil kasih cokelat pepero malah ditolak," celetuk Riki ingat hal ini.
"Wajar, Bang Jay dulu 'kan kaya jamet," Seno ikut-ikutan.
"Heh? Sopankah membahas hal itu di sini? Di depan Abangmu ini?" Jay melotot.
Tawa pun mengudara di antara mereka, Jay hanya menggeleng kepala meski sebal sekali.