[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-☀️🌻-
Dan waktu memang terus bergulir tanpa tau kapan terhenti, saat ini ujian anak kelas 12 sudah rampung tinggal menunggu acara kelulusan dan ijazah saja sedangkan anak-anak kelas sebelas di hari senin akan mulai ujian juga.
Jadi malam ini Mereka bertujuh tengah berkumpul. Ini sebenarnya dalam rangka ulang tahun Juna, jadi Juna mentraktir mereka semua dengan segala yang ia beli.
Ya walau Juna dan Hesa itu sama kepala batunya, mereka satu ruangan namun seperti tak menganggap satu sama lain, tapi ya biar saja dulu, sudah sangat susah menyatukan mereka tanpa kesadaran keduanya.
Mereka sepakat dan meminta pada Juna untuk gril-grill-an dalam asrama, mereka tak ingin lagi acara-acara di luar, kapok dengan kejadian beberapa bulan lalu.
"Oke, gue gak mau banyak cincong, di umur gue yang sekarang, doain aja yang terbaik, dan makan lah sepuasnya!"
Mereka sontak berseru heboh dan bahkan menyerukan doa-doa untuk Juna termasuk dengan, "Moga Juna ama Hesa cepet baikan!" Saka tiba-tiba berseru.
Sontak dua nama yang disebut meliriknya tajam.
Saka langsung memasang wajah menyebalkan, "Ampun bang jago!"
Yang lain mah tertawa-tawa saja jadinya.
"Thanks Jun, jadinya ngga gue yang modal kali ini," Jay berucap seraya tersenyum lebar.
"Tapi masih lo yang bakal dibabu-in, liat aja dah," celetuk Seno membuat brekele di sana saling melirik saja.
Lihat saja beberapa menit kedepan.
"Abang mau itu," ucap Juna pada Jay menunjuk satu minuman kaleng di sisi Jay.
Jay mengambilkannya.
"Abang kasih kecap dong," pinta Riki pada Jay yang berada tepat di depannya.
Jay mengambilkannya.
"Bang gua mau yang itu juga," Hesa ingin juga minuman yang seperti Juna minum, semacam minuman cincau kaleng begitu lah.
"Nih," Jay memberikannya, meski dalam hati ia merasa seperti dirinya ini babu di sini kah? Benar kata Seno tadi. Padahal masih banyak orang lain, hanya dia yang diminta ini itu.
"Bang daging punya gue jangan masak-masak," Saka mengusulkan keinginannya.
"Iya," Jay menjawab dengan tangan sibuk begini begitu.
"Jaka pengen samain kaya Bang Saka," Jaka si selalu ikut Abangnya.
Jay masih sabar, "Iya-iya."
"Iki pengen samain kaya Bang Jaka," ya si bungsu jelas ikut-ikutan Abangnya.