[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Hallo~ Akuu kembali!! Senang tidak Riki dan Abang"nya comeback?? Tapi, di sini fokus Juna ya
BTW, 4 NOV NIH, HARI APA INI??? YAAA HARI ULANG TAHUN AUTHOR🥳 Author juga 05L lohh, seumuran ama Ni-ki, hihii~
Happy reading ya Ners!!
'☀️|Sun and Sunflower|🌻'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebenarnya, saat masih di kota, ketika 3 bersaudara pergi jalan-jalan lalu 4 serangkai ditinggal. Juna sempat dijenguk oleh orang tuanya, tapi hanya ia yang bertemu kedua orang tuanya di taman hotel sebab ia takut mengganggu teman-temannya.
"Beneran kamu ngga pulang aja? Papa khawatir nih kamu demam gini," Danar, sang Papa berucap seraya mengusap pucuk kepala Juna.
"Beneran, Pah. Aku udah mendingan kok, lagian ini salah ku bandel," ucap Juna jadi seperti anak-anak jika sudah di hadapan Mama Papanya.
"Ah, syukur deh kalo gitu," Danar berucap lagi, sehingga senyuman Juna pun merekah.
Beberapa saat kemudian, mereka terdiam. Namun juga tak bertahan lama, sebab orang tua Juna ini ingin mengatakan hal yang perlu anak mereka ketahui, "Nak? Mama Papa mau ngomong sesuatu," ucap sang Mama bernama Jena itu.
Mendadak senyum Juna luntur, udara sekitaran yang tadinya menghangat jadi terasa dingin seakan ada tekanan tak biasa yang tercipta, Juna mengernyit merasa perasaanya tak nyaman. Tapi ia sebisanya tenang, "Hm, mau... Mau ngomong apa Mah? Pah?" ucapnya menatap kedua orang tua di sisinya.
"Kamu janji jangan marah atau apapun itu bisa ngga?" ucap Jena lagi.
Baiklah, Juna yakin ini bukan hal baik jadi sebisanya ia tetap tenang, "Bilang aja, Mah Pah. Hal itu tergantung apa yang mau dibicarakan."
Jena dan Danar saling menatap sejenak, kemudian seakan sepakat bahwa Jena lah yang harus bicara lebih dulu.
"Sayang, kamu punya Abang."
Terhenti sejenak detak jantung Juna saat mendengar ucapan Mamanya, apa-apaan? Juna selama ini hidup sendirian, ia tak pernah melihat sosok Kakak Lelaki yang dimaksud Mamanya, lantas Abang datang dari mana!?
Karena Juna terdiam, Mamanya lanjut bicara, "Kamu punya Kakak Laki-laki yang bahkan sebelum kamu hadir di dunia, Abang kamu udah ngga sama kami."
"Maksud Mama? Meninggal atau apa?" Juna tak paham sama sekali, tapi jika memang tak ada sebelum Juna lahir berarti meninggal kan?
"Bukan. Beberapa tahun lalu saja Abang kamu masih ada di keluarganya," jawab Danar.
"Maksudnya? Kalau ada mana dia? Mana dia?" jujur pikiran Juna terombang-ambing sekarang, tapi ia harus memastikan siapa Abangnya itu walau ia rasa ada firasat buruk juga di hatinya.