25. Foreshadow ♪

1.3K 133 39
                                        

Jangan baca ditempat umum☺️‼️

Happy reading Ners 💓

Happy reading Ners 💓

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Jaka?"

Jaka mendengar suara itu, tapi dirinya belum sepenuhnya sadar, beberapa saat matanya perlahan terbuka mendapati silaunya cahaya lampu ruangan, mengerjap beberapa kali mata indahnya hingga dapat memfokuskan diri dan menebak dirinya di mana.

Rumah sakit kan?

Dan, ada wanita duduk di sisi brankarnya, ada Saka, juga ada teman-teman Jaka yang lain.

"Jaka masih sakit?" tanya wanita di sisi Jaka.

"Jaka ngga papa," ucap Jaka pelan, ia ingin bangun tapi kepalanya sakit jadi memilih tetap di posisinya.

Wanita itu sedikit tersenyum, menatap penuh arti pada Jaka yang kepalanya dibebat perban, wajahnya pucat dan nampak lemah.

"Ibu? Apa ini Ibu Jaka?" tanya Jaka.

"Iya sayang. Ini Ibunya Jaka," ucap Sekar pelan terkesan menahan kesedihan mendalam yang selalu ia pendam dan tentu rasa bersalah yang juga selalu menghantuinya. Tangannya bergerak meraih tangan kanan Jaka yang tidak diinfus, mengusapnya beberapa kali.

Memasang senyumannya yang begitu tulus, Jaka melirik Riki, Seno, Juna dan Hesa yang ada di samping tembok sana tengah melihat ke arahnya dengan mata berkaca-kaca, "Rik? Abang ngga mimpi sekarang kan?" tanyanya, bagaimana pun Jaka memang jauh lebih dekat dengan Riki dibanding yang lain, saat di keadaan seakan mimpi ia memilih bertanya pada Riki

Riki segera mengangguk, "Iya, ini ngga mimpi Bang. Itu Ibunya Abang, keluarga Bang Saka keluarga Abang juga," ia mencoba menjawab sebaik mungkin.

Jaka lagi-lagi tersenyum, "Benar kata kamu ya? bunga matahari memang selalu ikuti arah mataharinya. Abang di sini sebagai bunganya, yang ternyata masih bisa ikuti di mana mataharinya berada," ungkap Jaka penuh makna, suasana di ruangan jadi benar-benar sendu dan mengundang air mata, tak salah Jaka bersekolah di SMA Matahari, karena ia jadi bersama Abangnya selama dua tahunan ini.

Riki lagi-lagi mengangguk atas ucapan Jaka, "Hm, iya Bang memang gitu hubungan antara matahari dan bunga mataharinya. Dan... Maaf Iki selalu suka jauhin kalian karena iri Abang sama Bang Saka. Padahal, Bang Saka jauh lebih berhak buat deket Abang," ucap Riki terselip penyesalan tersendiri.

Seno yang di samping Riki pun mengusap-usap punggung sang adik, berusaha menyalurkan energinya melalui ini, Seno tau adiknya pasti merasa tak enak hati.

Saka yang tadinya terdiam dalam lamunan langsung sadar karena ucapan Riki tak terlalu nyaman didengar, "Ngga perlu gitu," Saka berucap seraya berpindah ke dekat Riki mengusap kepala Riki, "Abang ngerti, kamu kan dulu selalu nyari-nyari sosok Abang kamu, dan kamu nemuin dalam diri Jaka kan? Wajar kamu kaya gitu, kamu terbiasa dekat sama Abang kamu dulunya," ucap Saka ia memahaminya.

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang