43. Teeth ♪

1.2K 119 96
                                        

part ini rada hehe:v
Bijaklah dalam membaca!

Vote janlup, komen banyakin dong:v ini part yang bikin aku sendiri takut🙂🙏🏻🗿

Happy reading Ners 🎀

Happy reading Ners 🎀

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-☀️🌻-

Ia pikir, dirinya cukup menderita setelah sedari tadi kehilangan kebebasan dalam bergerak dan dibiarkan sendirian di sana. Nyatanya, kini jadi jauh menyakitkan saat tiga orang itu datang di hadapannya.

Plak!

"Akhh... Sakit," rintihan pilu dari lelaki yang tak mampu lagi berbuat apa-apa melainkan bicara.

"Nangis? Dasar cengeng," ucap seorang yang barusan saja menamparnya, sontak dua lelaki lain di sisinya tertawa terbahak-bahak.

Sudah berjam-jam ia di sini, semacam ruang tamu, tetapi ada juga kasur dan sebagainya, mungkin sebuah kos? Lemas tiga lelaki itu baru saja datang beberapa saat lalu dan sepertinya datang hanya untuk menyiksanya saja. Sialan.

Tak tahan untuk terus diam dan kesakitan, ia menatap orang-orang itu meski ketakutan menyelimuti dirinya. "Kenapa sih? Gangguin gue terus! Gue dah minta maaf, gue udah kasih kalian uang, tugas kalian gue yang kerjain walau bukan sejurusan. "Gak pernah puas kalian?!"

Dadanya naik turun, urat-urat lehernya menonjol dibuatnya. Kemudian, meringis sejenak menahan sakit di kakinya. Saat itu pula, mata kucingnya menatap satu lelaki yang ia sendiri bingung. Bingung harus benci kah? Atau apa? Karena, ia yakin, ia juga punya kesalahan pada lelaki itu.  "Dan lo? Daniel! Gua harus gimana lagi, ha? Gimana?" suaranya serak juga tercekat, ada rasa pasrah serta putus asa yang tersirat di sana.

Daniel terkekeh seakan baru saja melihat lawakan garing. Ya, itu Daniel, lelaki yang di masa lalu pernah bermasalah dengan Juna. "Oh, meong Juna nyoba ngegas ama kita?" ucap Daniel sambil menyeringai ngeri, sedangkan dua temannya hanya tertawa-tawa, seperti orang gila saja jika dilihat-lihat.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Juna mengerang berkali-kali, kakinya terus ditendang tanpa ampun oleh orang-orang di depannya. Juna hanya bisa pasrah, ikatan talinya terlalu kuat untuk bisa ia lepas, hanya suara erangan mulut juga tetesan air bening di ujung matanya yang bisa menjadi bukti, bahwa ia sangat kesakitan, menderita dan takut saat ini. "Kalo ini karena masa lalu, cara apa lagi yang bisa buat gue nebusnya!" ucapnya ketika orang itu berhenti menendang dirinya, mereka menatap dirinya seolah melihat seonggok sampah.

Daniel berjongkok, menatap puas pada Juna yang babak belur, bahkan kini sudah di posisi meringkuk dengan kaki dan tangan masih terikat kuat. "Lo tau? Masa lalu ga bakal bisa diubah, dendam ini kekal dalam hati gua," Daniel berucap dengan suara rendah, tangannya bergerak menyisipkan rambut agak panjang milik Juna ke sisi telinganya, sedangkan Juna bahkan tak bisa bersuara, seriusan. Daniel sangat menakutkan bagi Juna.

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang