30. One In A Bilion ♪

1.2K 148 26
                                        

Udah part 30... Ternyata jauh perjalanan kitaa

Vote meski baca online, komen jika kalian bisa, biar author mu ini seneng dikit.

Jangan baca di tempat umum☺️‼️‼️

Happy reading Ners 🎀

Usai lah kejadian kemarin, tapi ya begitulah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Usai lah kejadian kemarin, tapi ya begitulah. Hesa memang sedikit lebih baik keadaan hubungannya dengan orang tuanya. Bahkan orang tua Hesa sempat saling bertemu Jay dengan orang tua Jay dalam rangka berterimakasih karena merawat Hesa belakangan.

Dengan Juna?

"Terserah mau apapun sama dia! Pokoknya Juna itu gamau Abang kaya dia!"

Kata-kata mutlak dari mulut Juna kemarin dan dibalas singkat yaitu.

"Yaudah." Oleh Hesa.

Jadi ya mereka tidaklah akur sampai detik ini. Intinya orang tua mereka sudah baikan mau dengan Hesa atau Juna, tetapi Hesa dan Junanya tidak.

Tapi mau bagaimana lagi, sudah sulit. Mungkin menunggu kesadaran mereka masing-masing saja, yang penting mereka tidak jotos-jotosan lagi rasanya sudah cukup.

Di room ini, ada Seno, Hesa dan Riki saja. Hesa itu bosan di room nya makanya pindah kemari sejenak mumpung tak ada Juna. Katanya anak itu ikut Mama Papanya.

Untuk Riki kini merasa bosan hanya menyaksikan Abangnya sibuk mengemas paket dengan gangguan kucing motif mujaer alias Toyep di pojok ruangan memilih beranjak untuk ke kamar sebelah, Jaka di sana.

"Bang mau ke sebelah dulu ya," Riki izin pada Seno.

"Iyaa ati-ati," ucap Seno menyempatkan diri melempar senyuman pada adiknya meski sibuk dengan kegiatannya.

Lantas Riki yang baru akan membuka pintu menoleh dulu, "Abang~ Iki cuma ke sebelah, harus banget disuruh ati-ati? Abang ketularan Bang Hesa nih jadi gini, rada gesrek!" suara anak ini tergolong berat, tapi nada bicaranya seperti anak-anak, sungguh menggemaskan jadinya.

"Heh gua lagi gua lagi, heran banget. Mentang-mentang gue seganteng Lee Heeseung," keluh Hesa yang merasa selalu terzolimi.

"Idihh mulai pedenya," ledek Riki.

"Udah katanya mau ke sebelah, gak usah dengerin si Hesa tuh," ucap Seno menengahi.

Riki mengangguk ia melangkah ringan ke room seberang, mengetok pintu beberapa kali seraya memanggil-mangil Jaka.

"Bang Jaka~" lagi-lagi suara berat Riki dengan nada bicara seperti anak kecil.

"Abang? Do you want to build a snow man~"

"Abang??" panggil Riki tak kunjung mendapatkan jawaban.

Riki tercenung di depan pintu itu memikirkan berbagai kemungkinan, "Jam segini Bang Saka pasti ke kota, Juna katanya lagi ke kota, terus Bang Jaka mana ya? Masa mancing di hari panas menjerit gini?"

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang