[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Ingat untuk vote meski baca offline, kalau baca online tolong komen di paragraf ceritanya supaya rame kaya cerita orang-orang hehe🐣
Baca sambil santai, ini agak berbawang
Happy reading Ners🎀
'☀️|Sun and Sunflower|🌻'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari kembali berlalu dengan cepatnya, tak aneh kegiatan Riki selain merawat bunga matahari miliknya, saat ini saja Riki di rooftop untuk mengecek bunganya lalu menyiramnya.
Dering ponsel membuat teralih perhatiannya. Riki ini tipe yang malas telpon-telponan, ia selalu ogah-ogahan saat ada yang menelponnya.
Nama James terpampang di layar ponselnya, mendecak sekali kemudian Riki menjawab telpon itu.
"Hallo? Ki. Pulang dulu kerumah bunda mu, ada yang mau Om bicarain."
"Males Om," balas Riki acuh.
"Ih, pulang dulu! Penting ini tuh!"
"Ya udah, Iki pulang Om," Riki mengiyakan walaupun malas, terakhir kali Riki diminta pulang begini membuat dirinya sangat panik, eh ternyata saat sampai sana, Riki hanya diminta dijadikan wasit sebab James dan Jay tengah adu panco.
Kali ini ntah apa lagi.
Perjalanan panjang dilalui Riki, tentu lumayan lama seperti biasanya, mobil juga dikendarai dengan santai hingga akhirnya sampai di halaman rumahnya.
Lelaki jangkung berseragam sekolah itu menuruni mobilnya sedetik kemudian Riki mengernyitkan kening. Netra tajamnya berpendar kesana kemari, ternyata ramai rumahnya itu, orang-orang berpakaian gelap memenuhi halaman juga teras bahkan sampai ke dalam.
Ada apa?
"Dek!" panggilan dari Jay yang muncul dari ambang pintu langsung memeluk Riki.
Riki tersentak kaget sebab langsung dipeluk, "Ini ada apa? Ada apa ini?" tanyanya mulai merasa tak enak hati.
"Terima ya Rik?" ucapan Jay menggantung.
"Bang! Serius ini kenapa? Terima gimana?" Riki merasa kalang kabut sekarang. Rasa takut dan cemas tiba-tiba menyerangnya, perasaanya tak bagus sama sekali walau belum dapat kabar apapun.
Meringis sebentar Jay jadinya, ia takut Riki akan semakin kacau karena ini tapi tentunya ia harus mengatakannya, tidak ada gunanya jika tetap disembunyikan. "Bunda lo udah ngga sakit lagi sekarang. Dia udah kembali ke Tuhan, Ki."
Darah Riki terasa mengalir dua kali lebih cepat, tangannya mengepal kuat, kenapa rasanya Riki ingin marah. Apa mungkin karena tempramen Riki yang buruk? Lagipula, apa yang didengarnya ini bagaikan petir menyambar di hari cerah ini. Riki tak mau percaya, ia tak bodoh hingga tak dapat mengartikan ucapan Jay, tapi Riki ingin membantah. Itu jelas bohong kan? bilang pada Riki jika ini bohong.