50. Bad Desire ♪

1.3K 123 73
                                        

Bubun datang lagi~

Jangan lupa tinggalin komen kalian, itu bikin bubun lebih semangat nulis cerita yang belum ketemu ujungnya ini🙂 hahaha

Ayoo yg mau masuk saluran bubun bisa cek ke profil, masuk link tt terus cek komennya yaa~

Happy reading Ners ❤️

Happy reading Ners ❤️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-☀️🌻-

Lelaki dengan mata indahnya itu mulai sadar, ia yakin sudah di ruang rawat inap tanpa harus bertanya-tanya. Bukan memikirkan bagaimana keadaan dirinya sendiri, lelaki itu malah langsung memikirkan Riki juga Jaka, serta teringat jelas pada kejadian pertengkaran hebatnya dengan Saka. Kenapa jadi begini? Kenapa jadi terasa berantakan lagi? Seno memejamkan mata, pening kepalanya, ingatan lelaki itu pun kembali ke malam itu.

Sebenarnya, di malam itu, kala Seno berkata akan ke minimarket.

Lelaki yang berjalan santai menuju minimarket itu bersenandung kecil sesekali. Angin dingin sisa hujan berembus, tapi tubuh kecil itu tetap nyaman dalam hoodie abu-abu favoritnya, dengan tudung terpasang dan tangan terselip di saku.

Diam-diam ia merasa senang, orang-orang sekitarnya sudah berkembang jauh lebih baik. Terutama Jian, adiknya yang lahir tanpa sempat dipeluk ibunya, berjuang selama satu bulan dalam incubator karena dilahirkan prematur, dan syukurnya bisa tumbuh sehat dan baik hingga sekarang. Rasanya jadi lebih mudah kehidupannya jika seperti ini 'kan? Seakan ada akhir bahagia yang menunggu ia dan yang lain di depan sana.

Saat menyeberang jalan tepat di depan kafe milik Saka, netranya menangkap sosok yang dicari-cari sedari tadi. Saka di sana, duduk di kursi depan dengan posisi membelakanginya. Seno tanpa pikir panjang pun memanggil Saka.

"Ka? Ngapain?"

"Hah?" Saka refleks berdiri seperti kaget, tangannya terlihat mengusap wajah. Lelaki itu tak menatap Seno dengan satu tangan menutupi wajahnya, padahal di depan kafe itu cukup gelap—belum tentu Seno bisa melihatnya dengan jelas. "Ah itu, Gak kok... Gak ngapa-ngapain!" katanya terdengar tegas, namun ada kepanikan.

Seno mengeryit, sedikit heran, tapi ia singkirkan dulu tanda tanya itu. "Adek-adek lo nunggu, kenapa nongkrong sendiri di sini?"

Saka terlihat menipiskan bibirnya, ia lupa sepertinya, segera lelaki itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja di sisinya bersama selembar kertas. "Eh gue lupa. Ini, ini, g-gue ke sana," katanya tiba-tiba gugup. Lelaki itu langsung melangkahkan kaki, melewati Seno.

"Ka?" Seno menahan lelaki itu dengan memegang bahunya dari belakang.

"Akh," Saka malah meringis, menepis tangan Seno.

Seno kaget dibuatnya, padahal ia hanya menahan bahu lelaki itu, "Hah kenapa? Sakit? Perasaan pelan deh."

Saka pun berbalik badan, kini memberanikan diri menatap balik pada Seno. Meski dengan cahaya minim, terlihat wajah Saka, wajah yang ternyata ada lebam biru di sisi pipinya. Terlihat juga bahwa mata indahnya berembun dan sedikit sembab, tanda lelaki itu habis menangis 'kan?

Sun and SunflowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang