[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌻☀️
Riki akhirnya keluar kamar setelah lelah mendekam di kamar kemarin, ia masuk sekolah meskipun absen saja dan kini ia berjalan menuju rooftop asrama untuk melihat kondisi bunganya.
"Siapa lagi yang siram bunga gue?" lagi-lagi bunga sudah disiram, kemudian di sisinya ada sebuah amplop berwarna hitam dengan stiker bunga matahari.
Biasanya, jika itu surat cinta dari para gadis, amplopnya pasti pink atau putih dengan stiker love-love tapi kali ini berbeda. Riki penasaran, ia mengambilnya.
Ada selembar kertas berwarna kuning dengan tulisan tangan di dalamnya.
Yang rajin belajarnya, jangan sering bolos, jadi tukang bully itu ngga baik, tetep hidup ya bayi bebek!
"Siapa?" Riki ini malas dalam berpikir lebih, meski semakin bingung sekarang, tapi tak terpikir olehnya manusia dari belahan bumi mana yang memberinya surat itu.
"Riki!!" seruan heboh dari Hesa datang bersama Jaka dan Juna.
Riki langsung mengantongi surat tadi, "Tumben lo ikut," ucap Riki menatap Juna.
"Gabut, kelas pagi lagi jamkos sama gue bawa ini," ucapnya mengangkat satu wadah bening berisi cookies.
"Dari fans lo nih?" tanya Riki.
"Mungkin, ada di meja gue tulisannya buat gue."
"Widihh, Juna udah ada yang naksir," ledek Hesa kini duduk lesehan di bawah.
"Tapi S siapa ya?" Juna bertanya-tanya sendiri. Sebab di sana ada tulisan --to Kak Juna-from S.
"Saka tuh S," sambar Riki
"Nama S bukan Saka doang ya! Bisa jadi Sarmiati, Sarmidun, Sulis, Susi, Sinchan dan seterusnya!" Juna sewot, mana mungkin Saka yang memberinya.
Tapi sudah, Riki sih acuh saja dan membiarkan Juna.
"Ki. Lo inget bocah yang waktu itu babak belur gue pukulin?" tanya Hesa kini ke samping Riki sambil menyuap snack.
"Hm napa?" Riki tak minat.
"Kira-kira kalau besok kita palak lagi gimana? Duit gue abis," ucap Hesa lagi.
"Lo aja lah. Gue males," balas Riki acuh, padahal ia hanya tak ingin ikut-ikutan lagi, Lelaki itu kan sudah menggagalkan dirinya bundir.