[Brothership, Friendship, and humor but this Angst story]
Kalian tau keterkaitan antara bunga matahari dan matahari?
Ya, benar. Bunga matahari itu, selalu mengikuti kemana arah mataharinya.
Sayangnya, untuk mereka yang diumpamakan sebagai bunga mat...
Perasaan komennya anjlok banget deh🥺 padahal bubun itu paling happy pas baca-baca komen kalian, maaf ya kalau gak seru ceritanya Ners... *
Curiga Ni-ki ada disaluran atau kalian ada yg bilang dia suruh update, kan bubun jadi harus update nih☺️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
☀️🌻
Happy reading Ners 🎀
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Angin terasa lebih kencang di malam hari, udara dingin menusuk lebih dari biasanya, ia mengerjapkan mata, menguceknya pelan. Eh, Kenapa gelap? Ia menoleh ke sana kemari. Pikirannya bekerja keras untuk mengingat apa yang terjadi. Oh benar, ia ingat sekarang.
"Aduh... kenapa bisa ketiduran sampe malem sih!? Pasti pada nyariin nih, ish," lelaki itu, lebih tepatnya Riki, yang dari siang dicari-cari. Ternyata, ia hanya tertidur di sebuah batu karang, yang posisinya agak cekung kedalam dan menghadap ke laut. Kemungkinan jika tidak teliti tidak akan terlihat dari darat maupun dari laut, ini juga lumayan jauh dari tempat ramai. Ya, ini dekat hutan posisinya.
Riki terlalu jauh memilih tempat karena siang tadi hanya berlari-lari kecil menyusuri pantai tanpa memikirkan apapun. Ya itu... karena ia merasa senang saja, terlalu menikmati suasana pantai. Ketika merasa lelah, ia pun beristirahat di batu karang, dan ya malah tertidur.
Lantas kini, panik jelas. Perasaanya gelisah, yakin telah membuat orang-orang khawatir padanya, ia turun sedikit tergesa-gesa, padahal tempat itu gelap gulita. Lalu jangan lupa Riki pengidap anemia, bangun tidur langsung berjalan pasti membuat kepalanya keleyengan, langkahnya limbung hingga terjatuh di sana. "Akh!" Tubuhnya jatuh ke depan dengan tangan mencoba menahan, namun tetap saja bersentuhan dengan karang tajam. Sialan, itu sakit. Sakit baik lutut, siku, maupun telapak tangannya.
Riki meringis, kemudian bangkit. Sialnya, kaki yang tidak beralaskan apapun itu menginjak benda tajam. "Aish sialan, apa lagi sih!?" Riki ingin sekali mengamuk di sana.
Riki merabanya, dan menarik benda yang tertancap di telapak kakinya. Sepertinya kerang yang cukup tajam, menciptakan luka cukup lebar. Riki yakin kakinya mengeluarkan banyak darah, terasa sangat perih karena terkena air laut. Sebab perih, ia pun meraba-raba ke belakang, mendapati batu karang besar, sehingga duduk terlebih dahulu di sana. Lelaki itu terus meringis menahan sakit. Pikirannya berkecamuk, bagaimana dirinya pergi dari sini? Berjalan saja susah karena sangat gelap tanpa ada cahaya rembulan atau apapun itu.