Alhaitham ✨ Touch

1.2K 53 0
                                        

[Req:Park_seonnA]AU![]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Req:Park_seonnA]
AU!
[]

Dia datang penuh dengan luka

Dari mata [Name] terlihat sudah lelah menghadapi pria bersurai kelabu yang datang ke rumah. Dari ujung rambut si pemuda air jatuh. Kulitnya tercetak pada pakaian basah, tak lupakan warna merah-merah samar di bajunya.

[Name] tak mengerti kenapa Alhaitham datang di saat hujan turun dengan deras. Tapi ia tak mempertanyakan, [Name] tau Alhaitam punya alasan tersendiri.

Untuk datang padanya

"Ku ambilin handuk dulu."

[Name] kembali dengan handuk, ia berikan pada Alhaitham. Lenggang. Alhaitham tak menerima handuk itu.

Sungguh, [Name] tak bisa mengerti dengan pria ini.

Dengan lembut [Name] menggengam tangan dingin Alhaitham. Mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Alhaitham duduk di sofa sesuai pintah [Name]. Si gadis berdiri tepat di depan Alhaitham, antara kedua kakinya. Handuk putih di jatuhkan ke atas kepala Alhaitham. [Name] bantu Alhaitham mengeringkan rambut.

"Kali ini kenapa? Kau berantem dengan siapa?"

Ia diam.

[Name] mendengus, ia menarik rahang Alhaitham untuk melihat lebam biru di sudut bibir si pria. Tanpa sengaja netra bertemu dengan iris hijau permata. Hanya kekosongan yang terasa dari mata itu.

"Aku ambil kotak obat."

Lengan Alhaitham melingkar di pinggang [Name], menahan si gadis pergi. Dia membenam wajah di perut [Name]. Surai abu-abu lembab sedikit mengelitik perut [Name].

[Name] mengelus pelan kepala Alhaitham, menghantarkan kehangatan dan juga kenyamanan bagai buaian ibunda.

Pelan-pelan perasaan kusutnya terurai. Alhaitham mengeratkan pelukan. Ia jatuh ke dalam sentuhan sang gadis. Nyaris tertidur.

Terbangun oleh pagi yang datang. Alhaitham memproses kondisinya, mengingat-ingat apa saja yang dia lakukan. Ah, benar, [Name] menyeretnya ke kamar tidur 'kan ia yang tiba-tiba terlelap.

Decit pintu terdengar pelan. Langkah kaki si gadis menuju padanya. Menumpahkan kasih ke dalam belaian. Suara memanggilnya dengan lembut.

"Alhaitham." Selalu jadi candu kala bibir mungil menyebut namanya. "Sarapannya udah siap."

Alhaitham menarik [Name], membawa masuk ke dalam rangkulan. Dagu ia letakkan di atas kepala si gadis.

"Alhaitham..."

"Sebentar aja."

Ini tak adakan berakhir dengan kata sebentar.

[✨]

Gelembung-gelembung meletus dalam panci. Suara pisau yang mengiris cabai menambah suara dalam lenggang.

Sejak bangun jam 4 sore, Alhaitham terus menempel pada [Name] bak koala. Lelaki itu memeluk si gadis dari belakang, mengikuti kemana pun [Name] pergi. Si gadis biarkan Alhaitham memeluknya, namun terasa berat dan kesulitan bergerak.

[Name] meraih toples garam. Toples biru itu kosong tak berisi. "Tolong lepas, aku mau ke minimarket bentar."

"Aku ikut."

"Sebentar aja."

"Ikut."

"Iyaaa."

Sikap bocah Alhaitham sangat menggemaskan, dan juga menyulitkan.

[✨]

Kaki kurus [Name] berlari kecil ke arah Alhaitham. Di tangan ada sekantong plastik, sepertinya [Name] tak hanya membeli garam saja.

"Lama nunggu?"

"Nggak."

"Kenapa kagak mau ikut masuk aja."

Alhaitham melirik kedua pria yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kedua pria itu menatap ke arahnya.

Benarkah ke arah Alhaitham?

Tangan Alhaitham merangkul bahu [Name], menarik sedikit lebih dekat kepadanya. Netra hijau memberikan tatapan sinis pada kedua pria itu, seakan matanya mengatakan 'dia milikku'.

Kedua pria itu buru-buru pergi.

"Kau dengar aku tadi ngomong?"

"Nggak, Maaf."

Dia mendengus. "Kabarin Kaveh, dia pasti khawatir sama mu."

"Kaveh pasti tau aku pergi kemana."

Alhaitham melepas rangkulan. Ia mengambil kantong plastik di tangan [Name], dan menggenggam tangan mungil itu.

"Makasih," Ucap [Name]. "Kau beneran nginap di rumah ku?"

"Iya. Bukan pertama kalinya aku menginap kan."

"Emang sih..."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jangan tanya aku nulis apa. Semuanya mengalir begitu saja.

𝐕𝐢𝐚𝐭𝐫𝐢𝐱┋𝘎𝘦𝘯𝘴𝘩𝘪𝘯 𝘐𝘮𝘱𝘢𝘤𝘵Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang