Venti ✨ Dream Catcher

481 26 0
                                        

[Req:Sunhize_Florance]AU![]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Req:Sunhize_Florance]
AU!
[]

Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas. [Name] juga keluar kelas setelah memasukkan buku ke tas.

Tepat lima langkah ia ambil. Tangan [Name] di tahan seseorang. [Name] berbalik, menatap bingung pada pelaku.

Kakinya selangkah mendekat. [Name] terkejut tiba-tiba pria itu mendekat ke wajahnya. "Apa kau sibuk?"

"Tidak...."

Si pria tersenyum bak malaikat. [Name] curigai arti dari senyuman itu. Firasat buruk. "Ayo main!"

Kan bener.

Pupil obsidian menatap ke udara kosong. Seperti seseorang yang di pukul tongkat baseball lalu hilang ingatan. [Name] tak ingat kenapa ia bisa berada di family restaurant bersama dengan 5 pemuda; Venti, Xiao, Kazuha, Heizou, Wanderer.

[Name] mengamati 5 sekawan ini. Circle angin, sebutan untuk 5 pemuda yang hampir kemana pun bersama-sama. [Name] merasa asing berada dalam lingkaran ini.

Dia entitas luar yang di seret kemari.

"[Name], aaaa~" Venti mengangkat sendok es krim ke hadapan si gadis.

[Name] berkedip, menatap sendok dan Venti bergantian.

"Tangan ku pegal nih."

"Ah, ya!" [Name] melahap es krim vanila tersebut.

"Gimana? Enak kan!"

"Ya... enak."

Venti bangga. Padahal bukan dia yang membuat es krim itu tapi ia bangga!

"[Name], mau kentang goreng gak?" Kazuha menawarkan, mendorong piring kentang goreng miliknya mendekat ke [Name].

"Ya, makasih." [Name] tipe orang yang tak bisa menolak.

Mana Heizou mendelik, memperhatikan Wanderer dan [Name] bergantian. Lantas tertawa pelan. "[Name] setipe dengan Wanderer yah."

Merasa terpanggil Wanderer berseru kesal. "Apa salahnya minum kopi hitam hah!?"

Nggak salah.

"Mau pudding mangga?" Xiao ikut menawarkan pada [Name]. [Name] melahap pudding mangga tersebut.

Venti menyendok es krim vanila. "Mau lagi?"

"Ya!"

[✨]

Acara bersih-bersih sekolah. Terkadang terjadi akan sebab akibat.

Di halaman, [Name] menyapu daun-daun yang berguguran. Mengumpulkan sebelum di masukkan ke tong sampah.

"YEY!" Venti berseru ria. Ia melemparkan daun-daun ke atas [Name] layaknya confetti. [Name] diam memproses, sedangkan Venti tertawa ria tanpa dosa telah membuat orang bekerja dua kali.

Wanderer dan Heizou menarik Venti menjauh dari [Name].

"Apa yang kau lakukan gila!?"

"Udah capek-capek di beresin malah di berantakan lagi!?"

"Hahahaha! Maaf!"

Xiao berdiri di samping [Name]. "Maafkan Venti."

"Maaf, dia membuat mu terkejut." Di susul Kazuha.

[Name] menerima maaf dari Xiao dan Kazuha. Bukan mereka yang salah kenapa mereka yang minta maaf?

[Name] menatap pada Venti yang di paksa menyapu kembali dedaunan dengan omelan Wanderer dan Heizou sebagai musik.

"Venti, memang orang yang mengulurkan tangan ke orang lain?"

Kazuha dan Xiao saling menatap, bertelepati akan pertanyaan [Name].

"Ya, dia seperti itu."

"Tapi [Name] berbeda," Kazuha menambahkan. "Aku tak tau kenapa, tapi dia tertarik padamu."

"Dia sibuk menanyakan tentang mu ke orang lain, setiap hari mengkhawatirkan mu." Xiao ikut menjelaskan.

[Name] diam. Sulit untuknya mengartikan maksud dua pemuda ini. Apa yang membuat pemuda bebas itu tertarik padanya. Apakah di kehidupan sebelumnya [Name] menyelamatkan nyawa Venti? Apakah [Name] seorang yang mirip dengan cinta pertama Venti di kehidupan masa lalu?

"Tertarik yah... benarkah begitu?"

[✨]

Kepala Venti celingak-celinguk mencari seseorang di dalam keramaian. Ia memperhatikan dengan telita di antara para gadis-gadis.

"Dimana [Name]?"

"Dikelas," Xiao menjawab. "Katanya sakit."

"Akhir-akhir ini dia keliatan kurang tidur." Wanderer menambah, khawatir pada si gadis yang suka gak nyambubg pas di ajak bicara.

"Pak guru!" Venti mengangkat tangan ke langit. "Saya izin sakit!"

"Kau gak keliatan sakit, Venti."

Venti memasang wajah cemberut. Rencananya gagal. Namun ia tak putus asa!

Setengah jam olahraga berlalu, Venti menyelinap keluar dari gedung gym. Dia segera berlari ke kelas.

[Name] tidur dengan tangan terlipat di meja sebagai bantal. Dahinya berkerut, tampak gelisah. [Name] mencari posisi nyaman untuk masuk ke dunia mimpi. Dia ingin tidur tapi tak bisa tidur.

Terasa tangan mengusap kepalanya. Sontak [Name] mendongak. Cukup lama bersitatap dengan pelaku yang ikut kaget juga.

"Maaf mengagetkan mu." Lirih Venti. "Katanya kau sakit."

"Hanya kurang tidur."

Iris hijau diam dua detik mengamati si gadis. Venti menderetkan dua kursi menempel ke kursi [Name]. Kasur darurat setiap ingin tidur di kelas.

Venti duduk di kursi ujung, ia menepuk paha. "Berbaring lah."

[Name] sempat ragu, namun ia tetap melakukan. Dia membaringkan kepala di pangkuan Venti. Terasa aneh bersamaan terasa menenangkan.

Venti mengusap surai [Name]. Berhati-hati seperti tukang kebun yang merawat bunga-bunga di rumah kaca. Dengan lembut bak buaian ibunda. Tenang bagai dewa yang memeluk hamba-nya.

[Name] terbuai dalam sentuhan Venti. Sentuhan yang tak asing. Tangan yang selalu menyebar damai ke jantung, menghapus kegelapan di hati. Dia yakin sentuhan tangan itu telah mendarah daging dalam dirinya.

Tapi kenapa tak bisa dia ingat?

"Kau mimpi buruk lagi?"

Kelopak mata tertutup pelan.

Kenapa kau tau aku mimpi buruk?

[✨]

[Name] terbangun. Matanya berkedip beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk, sepertinya ia tidur cukup lama. Suara berisik anak kelas masuk ke telinga. [Name] melirik ke bawah, ada sebuah blaze yang menjadi selimutnya. Lalu ia mendongak, Venti masih di sini menjadi bantal untuknya.

[Name] mengamati pria itu, Venti sedang berbicara dengan Heizou dan Kazuha. [Name] penasaran dengan rasa tak asing tadi. Perasaan familiar itu, bukan halusinasi.

Rasanya kembali ke masa lalu

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Silakan di bayangkan Venti sebenarnya siape
Mars mau turu dulu 😴

𝐕𝐢𝐚𝐭𝐫𝐢𝐱┋𝘎𝘦𝘯𝘴𝘩𝘪𝘯 𝘐𝘮𝘱𝘢𝘤𝘵Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang