Dia tak memiliki apa pun di dunia fana ini, karna itulah dia milih merebutnya. Menjadikan miliknya selamanya.
Dia terjangkit penyakit, penyakit tak sehat di mata orang normal, penyakit mengerikan jika kau jatuh cinta begitu jauh ke dalam cinta. Terlalu berlebihan jika berhubungan dengan orang yang dicintai hingga berani menghalalkan apa saja untuk orang tercinta.
"Dari mana?" Langkahnya tegas ke arah sang gadis. Setiap langkah tercipta amarah.
"Habis belanja di pasar, maaf." Lirihnya, ia gemetar ketakutan.
Tangan berbalut sarung tangan hitam itu, menyentuh leher sang gadis siap membuat tak bernapas jika ia menambah sedikit kekuatan di tangannya. "Aku sudah bilang kemana pun kau pergi beritahu aku."
"Maaf," Ia tak sanggup menatap mata pria itu. "Aku kira tak masalah jika sebentar."
"Mau sebentar, sedetik, beritahu aku." Dia melepas tangan dari leher si gadis. Tangan itu beralih memeluk pinggang si gadis, menarik ke dalam tubuhnya lantas ia istriahatkan kepala pada bahu kecil ini. Harum bunga segar menguar dari si gadis menjadi aroma penenang. Amarah yang meledak tadi menguap.
Ragu-ragu [Name] membalas pelukan Pantalone. Mencoba menghantar kedamaian dari tangan kecilnya. "Aku tak akan meninggalkan mu."
Ini bukan sekali pria ini berkata begitu, bukan sekali juga [Name] berusaha menenangkan pria ini. [Name] naif, ia tak tau penafsiran di balik kalimat itu. Jika kekhawatiran Pantalone adalah bentuk cinta kepadanya, maka [Name] akan menerima semua kekhawatiran dan kecemasan si pria.
Karna untuk pertama kalinya, ia terkena penyakit yanv di sebut 'cinta'.
[✨]
"Apa Pantalone ada?"
Tartaglia menatap dari atas hingga bawah pada wanita mungil nan manis yang bertanya padanya. Di tangan kecilnya keranjang rotan di remas erat agar tak gugup. Satu hal yang muncul dalam benak Tartaglia dari wanita ini ialah—
"Ah, anda kekasih Tuan Pantalone."
[Name] mengangguk-angguk. Ada rona meeah di pipinya. Mendengar seseorang mengatakan ternyata memalukan juga.
"Tuan ada di dalam, mari saya antar." Tartglia mengulur tangan, sebagai sopan santun kepada lady.
"Ya, terimakasih."
Pergelangan tangan Tartaglia di remas kuat oleh seseorang yang muncul tiba-tiba. Itu Pantalone. "Jangan coba-coba menyentuhnya." Di balik kacamatanya kemurkaan terpancarkan.
"Aw~ menakutkan~" Tartaglia tak merasa takut akan ancaman ini. Ia hanya berakting.
Pantalone bisa saja membunuh si nomor 11 sekarang juga. Dia melepas tangan Tartaglia. Ia harus menahan perasaan membunuhnya, karna badut ini masih berguna untuk Fatui.
Pantalone menyambar tangan [Name], membawa sang kasih terburu-buru ke dalam ruangannya.
Setelah menutup pintu, Pantalone mengurung gadisnya di dalam tangannya. Ia terlihat marah namun berusaha untuk tak menunjukkan. "Kenapa datang nggak bilang?"
"Aku membawa makan siang untukmu," Ia mengangkat keranjang rotan yang di bawa. "Dan... Ada yang ingin ku beritahu." Suaranya pelan, takut membuat Pantalone murka.
"Aku akan mendengarkannya setelah makan siang." Pantalone menjauh, ia melangkah ke sofa hitam di ikuti oleh [Name].
[✨]
"Aku mau minta izin pada mu." [Name] memainkan jarinya, selama makan ia sudah memikirkan untuk berani mengatakan pada Pantalone. Pantalone diam, menyimak.
"Tadi ada seseorang yang datang menawarkan ku membantu mengajar di sekolah." Ia mengatur napas. Berusaha agar suaranya tak bergetar. "Bolehkah aku melakukannya?"
"Pastikan setelah selesai langsung pulang ke rumah."
"Kan ku lakukan!"
[Name] menjadi tenaga kerja di sekolah, tentu ia mendapatkan upah. Dia memenuhi persyaratan yang diberi Pantalone. Setiap selesai mengajar langsung pulang ke rumah.
[Name] menceritakan semua yang ia alami pada Pantalone. Pantalone mendengarkan dengar hari-hari [Name] namun ia sudah tau karna meletakan bawahannya untuk mengawasi setiap gerak gerik [Name]. Selain memastikan [Name] tak berbohong dan mencoba pergi darinya, ia menyukai [Name] yang bercerita layaknya anak kecil yang menghadapi petualang hebat.
[✨]
"Pantalone! Lihat!" [Name] memunggungi si pria untuk menunjukkan rambutnya yang tersanggul apik dengan hiasan bunga kecil. "Cantik kan!"
Sorot mata yang diberi sulit terjelaskan, perasaan kosong dan kesal bersatu di mata obsidiannya. "Ya cantik."
"Teman ku yang buat."
Tangan di balik sarung tangan hitam mengelus lembut surai malam [Name], lantas melepas uraian-uraian rambut tersebut.
"Tapi aku lebih suka rambut mu terseperti ini." Ia mengecup surai legam jelita. Ia tersenyum 'kan telinga [Name] yang memerah. "Sangat cantik."
[✨]
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku." Pria itu terus mengulangi ucapannya.
Air mata yang membasahi pipi telah kering. Dari ujung jari darah mengalir. Tepat di dekat kakinya, kuku-kuku miliknya yang di paksa lepas berserakan di lantai.
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku."
Apa yang sebenarnya pria ini perbuat?
"Nyalimu besar juga, sampai menyentuh milikku."
. . . . . . . . . . Aku gak tau pantalone tuh kek mana sifatnya whehehe.