Suara jepretan dari kamera ponsel terdengar beruntun. [Name] meletak cup ice americano lalu menilik Scaramouche. "Kenapa kau memfotoku?"
Dibalik gawai, mata ungunya melirik. "Apa salahnya ngefoto pacar sendiri?
[Name] diam tak menyangkal. Tak ada masalah dalam sebuah hubungan memotret pasangan sendiri. Namun, bukankah Scaramouche terlalu sering melakukannya? Seakan-akan ia...
"Kau dapat darimana ice americano?"
"Xiao traktir."
[✨]
[Name] menatap jenuh pada boneka beruang besar yang dibawa Scaramouche sebagai hadiah. Secara normal ia akan gembira karna pacarnya inisiatif membeli hadiah untuknya.
Tapi boneka beruang warna krim dengan pita merah renda itu besarnya tak masuk akal sampai harus diletak di sudut kamar [Name].
"Kenapa tiba-tiba kasih hadiah sebesar ini?"
"Menurutmu kenapa?"
Kenapa? [Name] mengamati boneka beruang itu, dengan hati-hati dan teliti [Name] mengamatinya tak melewatkan satu hal pun.
Ah....
[Name] masuk ke kamar setelah selesai mandi, ia bersiap untuk tidur. Tapi sebelum itu [Name] membalas pesan pada Scaramouche mengatakan ia akan tidur sekarang.
[Name] meletak ponsel di meja. Ia naik ke kasur dan menarik selimut hingga di bawah dagu. Ia menutup mata bersiap ke alam mimpi, tapi terasa hal menjanggal yang membuat ia kesulitan.
Seakan-akan ada yang 'mengawasinya'.
Scaramouche menatap layar ponsel, lebih tepatnya pada pesan yang terakhir di beri [Name]. Pupil ungu tuanya melirik ke layar laptop.
"Dia gak bohong."
[✨]
Scaramouche mengelus pelan puncak kepala [Name] sebelum mereka berpisah. [Name] dan Scaramouche beda jurusan. Scaramouche selalu tak suka dengan ini karna sementara waktu harus terpisah dengan sang kasih.
"Hai [Name]." Kazuha menyapa usai Scaramouche pergi. Ia memperhatikan punggung pria rambut ungu itu. "Dia siapa?"
"Pacar ku."
"Maaf aku berkata begini tapi, pacarmu sedikit aneh."
"Aneh?" [Name] menelengkan kepala. Ia ingat-ingat kelakuan Scaramouche yang bisa disebut 'aneh'. "Dia sering memfotoku, kasih banyak hadiah, lalu..."
[Name] ingat kejadian yang baru-baru ini. Saat Scaramouche ulang tahun. Sebagai hadiah [Name] di borgol dan terkurung di kamar satu harian. Seakan menjadi boneka cantik untuk Scaramouche mainkan. Karna [Name] tak tau mau memberi hadiah seperti apa, ia menyuruh Scaramouche memilih hadiahnya sendiri.
Aku gak bisa bilang yang ini...
"Sebaiknya kau putus dengannya."
Jatung [Name] berdenyut seakan jatuh ke tanah. "Kazuha, ku mohon tarik kata-kata mu."
Kazuha terhenyak dengan sorot mata [Name]. [Name] tak terlihat marah atau menganggap ucapan Kazuha serius ataupun gurauan.
"Maaf seharusnya aku gak bilang begitu, maaf [Name]."
"Ya gak papa."
"Ayo kelas bareng."
"Ya."
Mata Scaramouche menatap lurus, ntah apa yang terjadi dari mata ungu tuanya terpancar kebencian yang mendalam. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari. "Haa brengsek. Siapa dia seenaknya menyuruh?
.... haruskah ku bunuh?"
"Kau dengerin apaan sih?" Tanya Childe tak tau apa yang membuat si teman murka.
[✨]
[Name] tak ingat apa saja yang dia lakukan dari pagi hingga sore. Ia tak punya waktu untuk memikirkan bagaimana harinya berjalan seperti apa, materi yang jelaskan dosen. Semua tersapu.
Sekarang yang ia pikirkan hanya pada seseorang yang menggenggam tangannya saat ini. Selama perjalanan pulang ia sibuk dengan isi kepalanya.
[Name] berhenti. Scaramouche spontan ikut berhenti, ia menoleh ke belakang. Pupil ungu tua ini bertemu dengan iris dwi warna jelita.
"Jangan bunuh Kazuha."
Kalimat si gadis mengagetkan Scaramouche. Lalu ia tersenyum menganggap perkataan [Name] hanya candaan. "Aku tak mungkin melakukannya kan?"
Dua detik [Name] diam menatap senyuman si pemuda. Ia mengambil langkah mendekat, menarik kerah baju Scaramouche membuat wajahnya mendekat tanpa ada jarak tersisa.
"Kau pikir aku nggak tau? Kau yang meletak kamera di boneka beruang yang kau berikan. Memasang peredam di hp ku. Kan kau juga yang melukai Xiao gara-gara ice americano."
Pupil ungu tua membesar akan terkejut sesaat. Lantas mata itu terlihat tersenyum. Seringaian terangkat di bibir, seperti kemenangan yang sudah ia di nanti.
"Karna ini lah aku sangat~ menyukaimu."
Pipi Scaramouche merona. Tangannya membelai pipi [Name]. Sentuhan yang lembut ini membuat [Name] mengigil. "Sesuai permintaan mu, aku berjanji tak membunuhnya."
Scaramouche sengaja menggoreskan kukunya ke pipi [Name]. Darah mengalir dari luka yang dia buat. "Sebagai gantinya, aku akan mematahkan sayapmu."
[Name] tertawa remeh. Tatapannya angkuh. "Bukankah kau sudah melakukannya."