Mereka berteman sejak SMP hingga SMA pun, mereka tetap bersama. Mereka selalu bersama. Namun kelas berbeda, Kaeya bersedia menjemput si gadis ke kelas setiap istirahat untuk makan siang bersama.
"Hari ini makan ke kantin?"
"Ho'oh, aku lupa sarapan."
"Pantes lambat tadi."
Begitu dengan pulang sekolah. Kala bel berbunyi, Kaeya akan datang ke kelas [Name] sambil menenteng tas.
"Ayo pulang~"
"Ya. Mau mampir beli es krim?"
"Semalam lu kan dah makan es krim."
"Mau apa kagak."
"Mau lah."
Gampang amat di hasut setan.
Kaeya pun mau menunggu [Name] di gerbang sekolah hanya agar masuk ke gedung bersama-sama.
"Pagi [Name]."
"Pagi Kaeya. Kalian ada di kasih pr sejarah halaman 56?"
"Ada."
"Nyontek, belum ngerjain gw."
"Pulang sekolah traktir boba."
"Deal."
Seakan hal wajar dimana [Name] berada maka Kaeya tentu ada. Tak heran lagi untuk murid-murid SMA Teyvat melihat dua insan ini bersama. Satu paket.
"Kau punya hubungan apa dengannya?" Tanya Diluc. Tak satu atau dua orang yang mempertanyakan hal ini kepada [Name] atau Kaeya.
"Kau cemburu?" [Name] sengaja menggoda Diluc.
"Nggak akan." Diluc tak menyembunyikan perasaan kesalnya. "Apa alasan mu bersamanya?"
"Alasan?" Ia berkedip beberapa kali. Memutar mata kesana-sini tuk menemukan jawaban. "Apakah butuh?"
Pertanyaan ini rumit untuk [Name] maupun Kaeya. [Name] suka berada di dekat Kaeya, menghantarkan kehangatan dari ujung jarinya yang dingin. Secara tak tertulis kedua insan ini memberi cap kepemiliki masing-masing. Tanpa perlu berkata apa pun keduanya tau, mereka membutuhkan satu sama lain. Seakan takdir telah mengikat kedua tangan mereka.
Diluc mengerutkan dahi. "Minta dia untuk tidak bergantung padamu. Jangan terlalu nempel padamu."
[Name] menelengkan kepala. Sulit memahami maksud sebenar dari ucapan Diluc. Teman masa kecil Kaeya ini terlihat punya dendam lama dan secara bersamaan tak terlihat seperti itu.
"Kau beneran cemburu yah."
"Kagak!"
[✨]
Untuk satu alasan khusus, [Name] harus membantu osis yang 'katanya' kekurangan anggota. Karna hal ini waktu yang Kaeya habiskan dengan [Name] di sekolah berkurang.
Aku bisa menunggunya pulang
Selama waktu ini, Kaeya bermain dengan 'teman' yang lain. Mudah baginya untuk masuk ke pertemanan siapa saja, karna ia memiliki kepribadian yang disukai orang lain. Semua orang menerima Kaeya.
Kaeya berkumpul dengan anak kelasnya di bangku halaman sekolah. Sosok familiar tertangkap oleh mata birunya. [Name], yang tampak sibuk membantu pekerjaan osis. Gadis itu tak sendiri, ia bersama Ayato salah satu anggota osis.
Kaeya mengamati [Name] dari kejauhan. Dia tak tau apa yang gadis itu bicarakan dengan Ayato, hanya terlihat membicarakan hal serius.
[Name] menyadari ada seseorang yang memperhatikannya. Kaeya sedikit sentak karna telah tertangkap basah memperhatikan si jelita.
[Name] melambaikan tangan padanya. Kaeya mengangkat tangan untuk membalas kembali. Sayangnya [Name] tak melihatnya, karna gadis itu langsung pergi.
nyut.
hm? nyut?
Ia menyentuh dadanya. Kebingung dengan suara yang baru saja di dengar. Apakah ia mengalami aritmia? Bukan, ini perasaan hampa. Sekalipun dirinya dikelilingi oleh keramaian, keberisikan tersebut tak bisa memenuhi rasa kosong ini.
Mungkin ini hal sederhana tentang waktu bermain Kaeya dengan [Name] berkurang. Tetap saja yang bisa memenuhi hatinya, yang bisa mengusir perasaan mati rasa ini hanya [Name].
Ia mengacak rambut. Isi kepalanya berantakan.
Aku membutuhkannya lebih dari yang ku kira
[✨]
"Kau masih sibuk?"
"Ini yang terakhir."
Kaeya mengangkat wajah dari meja. Manik biru menatap pada jelita. Perlahan tangannya menggenggam tangan si gadis, seakan memberitahu ia kesepian.
"Jangan terlalu lama. Aku hanya punya kau."
[Name] mengamati pria surai biru tua ini. Ia mengulas senyum. Tangannya mengelus lembut surai biru tua. Penuh rasa kasih sayang nan kelembutan seperti bulu eiderdown.
"Aku juga, hanya punya kau di dunia ini."
. . . . . . . . . . . . . . .
Rating gais aku agak bingung sendiri sama apa yang ku tulis. Mau nyampaikan kalo Kaeya sama mbak nem tuh cuman punya satu sama lain di dunia mereka. Semoga tersampaikanlah.