four

1.1K 173 26
                                    

Tepat pukul 7 malam Hanafi menyelesaikan semua kegiatannya, dan saat ini ia sedang bersiap untuk pulang. "Huh, ga sabar sampe kostan, gua mau tidur sampe minggu depan ah." monolognya sambil membereskan barang-barangnya. Diraihnya ponsel miliknya lalu langsung mendial nomor si kating ganteng untuk meminta dijemput.

"Halo, kak, gua udah selesai." ujarnya pada Rano di seberang sana.

Tampaknya Rano sedang bersama seorang wanita karena dapat Hanafi dengar suara rewelnya dan bujukan-bujukan yang keluar dari mulut Rano melalui sambungan telepon tersebut. "Kak." panggil Hanafi berusaha mengalihkan perhatian Rano sekejap meski usahanya gagal karena kakak tingkatnya masih terfokus pada wanita itu.

"Iya Aurel sabar yaa, aku keluar bentar jemput temen."

"Ga lama sayang, bentar doang ini trus aku ke sini lagi."

Hanafi menghela nafasnya kasar, tubuhnya benar-benar lelah dan energinya seolah habis sebab bertemu begitu banyak orang hari ini, ditambah lagi mendengarkan kerewelan kekasih Rano. "Ya udah kak kalo gabisa, gua pulang pake ojol aja." ucap Hanafi lalu mematikan sambungan itu secara sepihak. Ia berdecak malas sambil membuka aplikasi berwarna hijau untuk mencari ojek online.

Tiba-tiba notifikasi pesan dari Rano masuk tepat sebelum Hanafi memesan ojek online.

kating ganteng

| sorry ya han, cewe gua rewel tadi
| diem disitu jangan kemana-mana
| gua otw
read

Hanafi menurut meski tak membalas pesan tersebut, ia duduk di bangku panjang yang ada di depan cafe sambil menunggu kedatangan Rano. Lokasi cafe itu tidak jauh dari kampus dan mungkin kisaran lima belas menit waktu yang akan Hanafi habiskan untuk menunggu Rano, atau bisa jadi lebih jika kakak tingkatnya itu terjebak macet.

Sembari menunggu pemuda berpipi chubby itu pun memainkan game online yang ada di ponselnya sambil menikmati satu cup kopi kesukaannya.

Tak berselang lama kemudian, bahkan tidak sampai lima belas menit seperti perkiraan Hanafi tadi, Rano telah sampai terlebih dahulu tepat di depan cafe itu. Ternyata Hanafi masih belum sadar dengan kedatangan Rano sebab ia terlalu fokus pada game yang dimainkannya.

Menyadari itu lantas Rano pun turun dari mobil dan menghampiri Hanafi. "Hai manis, sendirian aja?" ujarnya tepat saat ia berdiri di hadapan Hanafi yang menunduk sambil menatap lekat layar ponselnya.

Karena kaget Hanafi hampir saja melempar ponselnya begitu saja, untungnya Rano menahan pergelangannya terlebih dahulu saat menyadari reflek dari adik tingkatnya tersebut. "Ih kak! Kaget tau, kaya om om aja deh!" kesalnya sambil berdiri. Sedangkan Rano hanya terbahak sambil menyandang tas Hanafi yang semula ia letakkan di atas kursi tepat di sebelah bagian yang ia duduki.

"Udah, ayo pulang."

Rano dan Hanafi pun masuk ke dalam mobil (seperti biasa, Rano tetap membukakan pintu untuk adik tingkatnya tersebut) yang akan membawa mereka pulang.

"Tadi cewe lu ya, kak?" tanya Hanafi yang sebenarnya penasaran dengan sosok kekasih Rano yang sebenarnya lebih dari satu orang. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa-mahasiswa kampus mereka, dan mungkin saja Hanafi belum mengetahui Rano sejauh itu. Mendengar pertanyaan itu, Rano mengangguk dan tidak memberikan penjelasan lebih mengenai hal itu.

"Iya, emang lagi kangen-kangenan tadi hahaha makanya rada rewel, maaf ya, Han."

"Iya, kak, santai. Btw, kangen-kangenan banget nih? bukannya satu kota ya?"

Rano tersenyum kecil, bagaimana tidak, sebab sudah hampir dua bulan ia tidak mengunjungi Aurel sama sekali dan lebih fokus pada kekasihnya yang lain. "Iya, soalnya gua kan sibuk ngelaprak mulu tiap hari, Han.. gimana sih." balas Rano sekenanya. Hanafi hanya cengengesan menanggapinya.

"Eh, kak, gua sambungin playlist gua boleh ga?" tanya si manis meminta izin untuk memutar musik yang ada di playlist nya di mobil Rano. Tanpa babibu Rano langsung mengizinkan Hanafi melakukan apapun yang ia inginkan. Setelah mendapat izin dari si pemilik, lantas Hanafi menyambungkan ponselnya ke radio mobil yang kini mulai mengalunkan intro lagunya.

"Ini lagu apa?" tanya yang lebih tua.

Bukannya menjawab, si manis malah menyanyikan bait pertama dari lagu itu dengan tubuh dan kepala yang bergerak mengikuti alunan musiknya sambil menatap ke arah Rano yang sedang menyetir dengan sebelah tangan. Sangat tampan.

I wont forget the day when you

Healed my heart at jakarta

Memories of ours will always be home

Rano menoleh dengan senyum andalan yang menghiasi pahatan indah wajahnya, "Liriknya bagus." pujinya yang mendapat anggukan setuju dari Hanafi. "Ini lagunya Yahya, judulnya At Jakarta. Gua suka lagu ini meskipun belum punya someone special di Jakarta HAHAHA.." ujarnya dengan tawa mengejek pada nasibnya sendiri. Sebenarnya Hanafi beberapa kali dekat dengan wanita namun selalu berakhir gagal atau mentok-mentok hanya dianggap teman.

Menyedihkan.

Rano ikut tertawa sembari menghitung berapa banyak pacar dan hts-annya di Jakarta. Ah, ternyata tidak sebanyak itu, belum sampai dua puluh, kok.

"Tar juga ketemu kalo udah waktunya. Untuk sekarang nikmatin dulu waktu yang ada—

bareng gua."

-

tbc

BETWEEN US • MINSUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang