thirty nine

785 152 45
                                    

Di parkiran fakultas Bahasa dan Seni, suasana yang terasa tenang, hanya ada suara mesin kendaraan yang sesekali meraung dan langkah-langkah mahasiswa yang berlalu lalang. Namun, bagi Hanafi, pikirannya jauh dari kata tenang. Ia masih duduk di atas motor Rano, enggan turun, meskipun pemuda itu sudah memarkirkan kendaraan mereka dengan rapi.

Dengan alis berkerut, Hanafi menatap Rano yang kini sibuk melepas helmnya. Ada sesuatu yang benar-benar membuatnya tidak habis pikir sejak tadi.

"Kak, lu serius mau beliin temen-temen lu itu semua?" tanyanya dengan suara sarat akan ketidakpercayaan.

Rano, yang sudah berdiri dengan santai di samping motornya, menatap Hanafi dengan kebingungan. Sejak kapan membeli sesuatu untuk teman-temannya menjadi hal yang perlu dipertanyakan?

"Iya, serius. Kenapa, sayang?" tanyanya lembut.

Hanafi menghela napas, berusaha menenangkan pikirannya. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana cara kerja otak kekasihnya yang satu ini.

"Kak, kalau temen-temen lu minta pajak jadian sekadar mi ayam atau bakso, mah, iya lu nanya gitu. Tapi ini, Haje aja minta HRV, Kak Chan minta dibayarin UKT semester depan, Kak Bernad malah minta apartemen lu! Dan lu iyain itu semua?!"

Nada suara Hanafi naik setengah oktaf, mencerminkan keterkejutannya. Sungguh, ia merasa seperti berada di dunia lain. Apa yang barusan terjadi benar-benar tidak masuk akal baginya.

Alih-alih panik atau menyangkal, Rano justru tersenyum kecil. Ia mendekat, jemarinya terulur untuk membuka helm Hanafi secara perlahan. Gerakan lembut itu membuat wajah sang kekasih akhirnya terlihat jelas—dengan ekspresi penuh gemas yang semakin membuat Rano tergoda.

"Sayang, gini ya," ujar Rano dengan nada pelan, "mereka minta yang ngga ngotak gitu karena tau gua mampu. Gua ngga semata-mata iyain karena gua bisa, tapi ini sekalian buat balas kebaikan mereka selama ini juga. Ngga apa-apa kok, gua masih bisa nafkahin lu seumur hidup."

Mata cokelatnya menatap dalam ke arah Hanafi, seakan ingin meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dengan keputusannya.

"Dan juga, menurut gua, apa yang bakal gua keluarin sebagai pajak jadian itu setara sama apa yang gua dapetin, yaitu lu."

Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja, membuat wajah Hanafi memanas seketika. Ia reflek mengangkat tangannya dan memukul bahu Rano dengan pelan.

"Apa sih, buaya," gerutunya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini mulai bersemu.

Rano hanya terkekeh kecil. Bocah ini memang paling lucu kalau sudah salah tingkah.

Ia lalu mengusap rambut Hanafi yang sedikit berantakan akibat helm yang tadi ia kenakan. "Udah, jangan dipikirin lagi, ya. Sana masuk," ujarnya lembut.

Hanafi mengangguk, akhirnya turun dari motor. Saat itu juga, suara gemuruh langit terdengar, memberikan tanda bahwa hujan akan segera turun.

"Kayaknya bakal hujan," gumam Hanafi sambil menatap langit yang mulai mendung.

Rano ikut mendongak dan mengangguk setuju. "Iya, nanti gua pulang dulu ambil mobil, baru jemput lu, ya," katanya sebelum melepas hoodie yang ia kenakan, menyisakan kaus hitam berlengan panjang yang masih menempel di tubuhnya.

Tanpa ragu, ia menyerahkan hoodie itu kepada Hanafi. "Pake, biar ngga dingin."

Hanafi menerima hoodie itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan—seakan ada sesuatu yang menghangatkan hatinya dari dalam. Rasanya menyenangkan bisa jatuh cinta seperti ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar menikmati perasaan ini, bersama Rano.

"Ya udah, Kak, gua masuk dulu, ya," pamitnya dengan pipi yang masih bersemu samar.

Rano buru-buru menahannya. "Bentar."

BETWEEN US • MINSUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang