nine

1.2K 175 77
                                    

"Han.. can i kiss you?"

Hanafi semakin gelagapan dibuat oleh Rano, jantungnya berdegup kencang dan juga seluruh tubuhnya terasa kaku. Hanafi seolah tak mampu menjawab, ia mendorong pelan dada bidang Rano untuk memintanya menjauh. Rano masih belum berkutik, sementara sebelah tangannya masih memuja kulit halus Hanafi di bawah sana.

Merasa tak mendapat respon dari Rano, akhirnya Hanafi menguatkan diri untuk bersuara.

"Kak.."

"Hm?"

"No.. this is too far, i cant.." lirihnya dengan wajah memelas yang sialnya semakin menarik di mata Rano. Setengah mati Rano menahan dirinya untuk tidak menerkam Hanafi sekarang juga, dan perlahan Rano menjauhkan tubuhnya dari Hanafi, ia beralih berbaring di sebelah pemuda manis itu sambil memeluknya dari samping dengan wajah yang berada tepat di ceruk leher pemuda itu.

Hey, asal kalian tau Rano itu anti bermain tanpa consent. Meskipun hanya sebatas pelukan atau ciuman namun jika tak mendapat izin dari sang partner maka Rano tidak akan melakukannya.

"Sorry, gua ga bisa ngontrol diri tadi." ujarnya pelan semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher yang lebih muda hingga hidungnya bersentuhan langsung dengan kulit Hanafi. Hanafi bernafas lega setelah merasa dirinya aman, untung saja Rano tidak memaksa dan menghargai pilihannya.

"Iya, kak. Its okay, jangan kelepasan lagi." balas si manis yang mengubah posisinya jadi menyamping dan memeluk kepala Rano sambil mengusap surainya perlahan. Melupakan atmosfer canggung yang hampir menguasai keduanya tadi. Rano mempererat pelukannya pada pinggang ramping tersebut sambil memejamkan matanya untuk kembali tidur, mati-mati juga melupakan wajah memelas Hanafi yang terus menghantui pikirannya.

Ia kembali teringat akan taruhannya yang menjadi alasan ia dekat dengan Hanafi. Rano merutuk sial pada dirinya sendiri, secara tak langsung ia telah kalah telak pada taruhan itu. Tapi, Rano kembali berpikir bahwa dirinya hanya lepas kendali sebab ini adalah jam rawan dan bukan jatuh cinta pada Hanafi.

Tenang saja semuanya, Rano akan lebih berhati-hati lain kali.

-

Pagi-pagi sekali Rano sudah berkutat dengan laptop dan laporan praktikumnya yang akan segera ia selesaikan karena sudah mendekati deadline. Sementara Hanafi masih tertidur pulas di dalam kamar si pemilik rumah, karena ingin merokok dan tidak ingin menganggu si manis, lantas Rano mengerjakan tugasnya di ruang tamu, duduk di karpet lantai dan bersandar pada sofa besar di sana.

Sudah empat batang rokok yang ia habiskan selama mengerjakan tugas sialannya tersebut, benar-benar memusingkan kepala. Untung saja tugasnya kali ini tidak mewajibkan untuk ditulis tangan, jika tidak bisa-bisa Rano menggunakan uangnya untuk joki tugas.

"Ah, brengsek!" umpatnya kala rasa pusing menyerang.

Sudah empat semester ia lalui sebagai anak Teknik Mesin dan rasa pusingnya saat mengerjakan tugas masih sama setiap harinya. Sebenarnya hidup Rano tidak sesantai yang kita lihat, ia hanya terlalu sering menunda-nunda mengerjakan kewajibannya sebagai mahasiswa dan memilih membuang waktu untuk hal-hal tidak berguna.

Rano menyandarkan punggungnya pada sofa empuk sambil memejamkan matanya sejenak. Sudah dua jam ia duduk di hadapan laptop dan kini matanya terasa sakit, "Apa gua joki aja, ya?" gumamnya. Rano memiliki satu orang teman yang merupakan penjoki handal anti ketahuan, seringkali Rano menghamburkan uangnya untuk joki tugas yang mana membuatnya seringkali tertinggal materi.

BETWEEN US • MINSUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang