thirty

1K 184 84
                                    

"Hanafi!"

Rinoel, atau dengan nama akrabnya Rino tersebut berlari antusias ke arah Hanafi yang baru saja turun dari mobilnya. Hanafi yang merasa namanya terpanggil pun menoleh cepat dan mendapati Rino yang mendekat ke arahnya dengan senyum manis pemuda itu yang sudah menjadi ekspresi tetapnya.

"Ini, strap gitar titipan lu semalem," ujarnya seraya menyerahkan sebuah strap hitam polos yang Hanafi titip untuk dibelikan oleh Rino. Hanafi menatap Rino dengan senyum manisnya, dalam hati merasa tak enak karena sudah merepotkan teman barunya tersebut.

"Duh, No, ga perlu dianter segala kali. Kan bisa gua yang ambil ke kelas lu, gini kan jadi makin ngerepotin." balasnya.

Tawa Rino sontak mengalun merdu, "Ngerepotin apa sih, Han, ginian doang. Santai." ucap Rino. Hanafi tersenyum kemudian mengangguk, diliriknya jam yang tertera di layar kunci ponselnya yang bergambarkan dirinya yang sedang memainkan gitar sembari duduk di balkon kamar—gambar tersebut diambil oleh Rano—jam menujukkan pukul delapan pagi yang mana artinya masih ada satu setengah jam waktu untuk Hanafi sebelum ia memulai kelasnya hari ini.

"Eh, lu udah sarapan belom?" tanya Hanafi.

Rino menggeleng dengan cengiran, "Kebiasaan deh, sarapan dulu yuk di kantin fbs, gua traktir deh." lanjut Hanafi sembari mengisi strapnya ke dalam tas.

"Duh, kebetulan banget aing lagi pengen nasi katsu di kantin maneh. Ayo dah kalo gitu."

Hanafi tergelak sebelum berjalan beriringan dengan Rino menuju kantin fakultasnya, ini bukan pertama kalinya keduanya sarapan bersama karena Rino seringkali menemui Hanafi di pagi hari seperti ini dan mengajaknya untuk sarapan, meskipun Hanafi mengatakan ia sudah sarapan di rumah namun Rino akan tetap memaksanya.

Tanpa keduanya sadari, tak jauh dari keduanya berada Rano memperhatikan interaksi itu dengan seksama. Rano melihat bagaimana lepasnya Hanafi tertawa dengan candaan ringan atau bahkan hanya celetukan kosong yang dilemparkan Rino padanya, ada perasaan senang melihat Hanafi yang tampak ceria seperti itu, namun enggan berbohong lebih banyak pada diri sendiri, Rano mengakui jika dirinya iri serta cemburu pada Rino yang bisa bebas berinteraksi dengan Hanafi, tidak seperti dirinya yang bahkan hanya untuk sekedar memperhatikan pun harus sedari jauh karena takut si manis itu tidak nyaman dengan keberadaan Rano di sekitarnya.

"Santai aja kali ngeliatinnya." tegur Chandra yang duduk di jok penumpang di sebelah Rano yang menyetir.

Rano menoleh cepat dengan wajah bingungnya, "Hah?"

Chandra berdecak, "Muka lu sepet amat ngeliatin Hanafi sama tu bocah."

Rano hanya membalasnya dengan senyuman kecil, digenggamnya setir erat-erat sebelum menginjak gas dan bergegas melaju pergi dari halaman fakultas Bahasa dan Seni. Rano berjanji, apapun halangan yang ada di depannya mulai sekarang akan ia tabrak liar demi Hanafi, akan ia pastikan dirinya mendapatkan pemuda manis itu lagi. Sekali pun harus bersaing dengan orang asing yang tak ia kenal.

-

Hanafi baru saja menyelesaikan makan malamnya yang ia habiskan sembari menonton anime kesukaannya. Selesai dengan acara mengisi perutnya, Hanafi kini beralih membereskan peralatan makannya dengan senandung kecil yang mengisi sepinya malam ini—seperti malam lainnya.

Setelahnya ia kembali masuk ke kamar dan menduduki dirinya di atas kasur dan memainkan ponselnya. Dapat ia lihat ada beberapa notifikasi pesan dari nomor yang berbeda, dan salah satu diantaranya membuat ia berdecak muak.

+2 notification from kating ganteng.

kating ganteng

| hanafi
| gua di depan, boleh ketemu sebentar ga?

Hanafi mengabaikan pesan Rano begitu saja, bukan sekali dua kali Rano mengirim pesan atau bahkan panggilan tak terjawab untuk mengatakan jika dirinya berada di depan kost Hanafi. Hanafi enggan bertemu, ia takut, takut jika dirinya akan luluh pada tutur kata pemuda itu. Diingatnya selalu bagaimana bajingannya Rano perkara cinta, hal itulah yang menguatkannya selama ini.

Omong-omong, ia tak berniat mengganti nama kontak Rano sama sekali—entahlah, hanya ingin.

Hanafi beralih pada pesan setelahnya yang berasal dari nomor yang berbeda. Senyumnya seketika merekah sebelum mengetikkan balasan untuk pesan tersebut.

rinoel

| ubur-ubur ikan lele
| lagi ngapain lee?
| sudahkah anda tidur jam segini?

belum no, wkwk |
kenapaaa? |

| memastikan
| mamah ngomong, budak awewe teh teu meunang bobo kemaleman, tar ditemenin setan

hah? budak awewe bukannya anak gadis ya?|

| hooh, kan lu anak gadis wkwk

sialan lu wkwk |
gua mau nugas dulu baru tidur |

| yoilah, sok kerjain tugasna
| atau mau gua temenin?
| kalo mau gua call sekarang

jangan deh, lu istirahat aja |
ini banyak soalnya |

| ya kan bisa nyambil geulissss

gausaaa rino |

incoming call from rinoel..

| angkattttttt

Hanafi menghela nafasnya sebelum mengangkat panggilan tersebut, terdengar gelak tawa Rino di seberang sana setelah berhasil membuat Hanafi mendumel kesal. Posisinya sama, duduk di tepi kasur sembari menempelkan benda pipih pada telinganya dan mendengarkan omelan Hanafi yang malah menghibur malamnya kali ini.

Hanafi menyadari sesuatu, Rino dan Rano memiliki beberapa kesamaan; salah satunya sama-sama senang memaksa. Ia ingat bagaimana Rano kerap memaksanya saat pertama kali keduanya berkenalan. Ia dipaksa ini dan itu, persis seperti Rino kali ini. Ternyata dunia memang sebercanda itu, mengirimkan sosok lain untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya, yang serupa tapi tak sama, dan tak akan pernah sama. Dan sialnya lagi, setelah selesai mendumel, Hanafi mendengar Rino menyanyikan lagu "Best Part" dengan merdunya di seberang sana, kembali mengingatkan dirinya kepada Rano.

Ah, seketika Hanafi melupakan keberadaan Rano di luar sana. Penasaran, Hanafi keluar dari kamarnya menuju jendela yang berada di sebelah pintu utama. Disingkapnya sedikit tirai abu-abu yang menutupi jendelanya untuk mengintip apakah benar Rano berada di sana.

Sial, Rano benar-benar berada di sana sama seperti beberapa malam belakangan ini. Rutinitas baru bagi Rano sepertinya, duduk santai di kursi teras Hanafi seraya memainkan ponselnya—menunggu si manis yang tak akan pernah keluar untuk menjumpainya. Meskipun terlihat bodoh, Rano tidak peduli, untuk Hanafi ia akan menjual dunia dan seisinya, akan ia banting keras harga dirinya hingga lebih rendah daripada tanah yang dipijaknya saat ini.

Sebuah notifikasi masuk di sela-sela suara nyanyian Rino yang masih terdengar dari ponselnya, dibukanya notifikasi tersebut;

kating ganteng

| sayang, tolong keluar ya?
| gaperlu ngintip gitu, kakak udah tau

-

tbc

BETWEEN US • MINSUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang