fifteen

1.2K 176 32
                                    

"Kak, yang lu minta gua jangan kemana-mana itu maksudnya gimana?" tanya Hanafi saat keduanya tengah bersiap ke kampus. Hanafi sedang merapikan tatanan rambutnya sedangan Rano berdiri di hadapan cermin sembari mengancing kemeja yang ia kenakan.

Rano mengernyit bingung, "Yang mana?" tanya pemuda itu.

Hanafi berdecak kesal, ia sudah penasaran setengah hidup tapi bisa-bisanya Rano melupakan hal itu begitu saja. "Ish! itu lho yang lu bilang ke gua jangan kemana-mana meskipun lu abu-abu nantinya, trus lu juga minta gua nungguin lu sampe lu balik lagi. Itu maksudnya apa?" tanya Hanafi dengan jelas.

Rano memejamkan matanya, dalam hati ia sibuk mencaci-maki dirinya sendiri. "Tolol banget anjing, ngapain coba gua ngomong begitu si setan. Pantek ah, malu banget kaya mau kemana aja segala minta ditungguin. Emang galau sialan!" batinnya berisik. Jujur saja ketika ia mendengar kalimat itu di pagi hari rasanya menjijikan, berbeda dengan dirinya yang mengatakan itu tadi malam.

"Kak! malah diem."

"Eh-iya, Han. Ya, maksudnya jangan jauh-jauh aja dari gua. Jangan kemana-mana, tetep gini sampe kapanpun." jawabnya dengan tergesa-gesa. Hanafi menampilkan raut curiganya untuk beberapa saat, membuat Rano tersenyum kikuk dengan tangan yang sibuk menggaruk leher bagian belakang.

"Hahaha, apaan sih kak. Kirain apa, emang gua mau kemana si?" ujar Hanafi dengan tawa renyahnya. Rano menghela nafas lega, ia sedikit takut jika Hanafi akan memandangnya aneh.

Setelahnya mereka lanjut berbincang ringan mengenai apa saja yang ingin mereka bahas, tidak lupa dengan tubuh yang selalu berdekatan seolah memiliki magnet di dalamnya. Rano terus meminta Hanafi untuk membantunya ini dan itu, mulai dari bajunya yang Hanafi pilih dan siapkan, rambutnya yang Hanafi tata rapi dan keperluan-keperluannya yang ikut si manis itu siapkan.

"Yah, parfum gua udah abis lagi, mana lupa beli." ujar Rano sambil melirik meja rias milik si manis yang biasanya terdapat parfum miliknya di sana. Di atas meja tersebut hanya terdapat jam tangan dan aksesoris tangan lain miliknya yang memang sengaja ia tinggalkan, kacamata, haircare dan lain sebagainya terkecuali parfum yang memang botolnya sudah si manis buang dari beberapa hari lalu.

"Makanya kak, diingetin itu langsung dilakuin jangan nanti nanti mulu, kan giliran mau dipake susah. Ya udah, pake yang gua aja." omel si manis hingga akhirnya menyodorkan miliknya untuk Rano gunakan. Rano menurut, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai parfum yang memiliki aroma sedikit manis dan soft, tetapi ia tetap menggunakannya sebab itu adalah milik Hanafi.

"Hehehe." cengir Rano kemudian menyemprotkan parfum itu ke beberapa bagian tubuhnya. Harumnya manis dan lembut, persis seperti Hanafi jadi tentu saja Rano menyukainya. Mungkin seharian ini ia akan terus mengingat si manis itu sebab parfumnya yang Rano gunakan.

"Han." ujar Rano sembari bercermin merapikan penampilannya, si manis berdeham singkat dengan tangan yang sibuk menyusun kembali lemarinya yang cepat ia bongkar. "Lu suka risol mayo, ga?" tanya Rano dengan random. Hanafi terkekeh entah kenapa, rasanya lucu saja melihat seorang bajingan kampus yang tiba-tiba menanyakan soal risoles mayonaise padanya.

"Suka banget, kenapa emangnya, kak?"

"Di kantin fakultas gua ada jualan risol mayo, baru beberapa hari si, rasanya enak banget. Mau nyoba, ga?"

"Ih mau! Ajak gua ke sana dong, kak. Lu ga pernah si bawa gua main ke fakultas lu, gua juga eneg kali di fbs tiap hari."

"Hahaha.. iya nanti kita beli yaa. Ntar gua jemput kalo kelas lu udah selesai, sekalian gua kenalin ke temen-temen gua."

Seketika Hanafi terdiam. Oh, ayolah.. biasanya ia hanya melihat teman-teman Rano dari kejauhan atau saat mereka sedang berbincang dengan Rano, tak pernah sekalipun ia bertegur sapa dengan orang-orang yang cukup terkenal namanya di kampus tersebut selain Chandra dan saat dua orang di antaranya datang ke apartemen Rano, Hanafi hanya bisa menampilkan senyum simpulnya dan berbicara dengan kikuk. Jujur saja, Hanafi sedikit takut dengan tampang teman-teman Rano yang persis preman, terlebih Haje, gaya pakaian, lirikan hingga caranya berbicara kerap kali membuat Hanafi takut.

"Eum.. kak,"

"Hm? kenapa?"

"Gua sebenernya rada takut sama temen lu, serem semua udah kek preman. Takutnya salah ngomong tar langsung digambar sama yang badannya paling gede itu, apa ga nyampe Depok tuh gua sekalinya digampar." ujar Hanafi jujur dan terang-terangan, ia membayangkan otot-otot Bernad yang kerap kali ia perhatikan dengan rasa sedikit iri.

Mendengar ucapan Hanafi tersebut, sontak Rano terbahak sembari memeluk si manis itu dengan gemas, bahkan dengan tidak berotaknya ia mengacak-acak surai itu gemas membuat si manis menggerutu sebab ia sudah merapikannya sedemikian rupa dan dirusak oleh Rano begitu saja.

"Ih Kakak!" rengeknya.

"Kan, berantakan lagi!" lanjutnya. Tangannya sibuk menata kembali surainya dan mencoba menjauhkan Rano darinya, meskipun usahanya gagal total dan malah membuat yang lebih tua memeluknya semakin erat. "Hahaha.. maaf, abisnya lu gemes sih, ngapain takut coba mereka mah digetok sekali juga langsung pada diem." ucap Rano. Ia merubah posisi si manis untuk berdiri menghadap dirinya yang lebih tinggi, tangannya ia bawa untuk merapikan rambut Hanafi yang ia rusak menggunakan sisir berbentuk beruang coklat milik si manis.

"By the way, temen-temen gua ga sesangar yang lu liat, kok. Apalagi Haje, sama gua juga kicep tu bocah, emang gayanya aja rada-rada gitu, efek kebanyakan ketemu laprak. Kalo Bernad itu luarnya doang kek preman aslinya soft apalagi sama modelan lu begini, kalo Chandra apalagi, lu tau sendiri dia orangnya gimana, kan?" ujar Rano memberikan pengertian pada Hanafi, si manis menganggukkan kepalanya pelan.

Ya, baiklah. Hanafi akan ikut Rano bertemu teman-temannya hari ini. Entah apa motifnya memperkenalkan si manis kepada temannya tersebut.

Selesai dengan rambut Hanafi, saat ini Rano berbaring di atas kasur sembari menunggu si manis merevisi tugasnya yang akan dikumpulkan hari ini. Rano membuka ponselnya dan mengirim pesan pada grup chat milik ia dan teman-temannya.

budak webe

tar gua mau bawa hanafi ketemu lu pada |
jangan sangar", doi takut |

hj
| BUSETTTTT
| UDAH KEK MAU NGENALIN PACAR AE

chandra
| hah? lu udah jadian, no?

kaga gitu brengsek, gila lu |

chandra
| ya mana tau lu ngaku kalah dari taruhan
| ya ga je, kwkw

hj
| benar sekali chandra
| jangan lupa taruhan kita ya cayank

bernadbear
| udah lupa kali je, nempel ae gua liat"

ya kan emang itu taruhannya tolol |
woi dower jangan berisik mulut lu |
kena lu ama gua kalo sampe |
ngomong yang aneh" ke hanafi  

hj
| perasaan cuma mau ngenalin TEMEN
   dah kenapa banyak amat briefingnya

sekali lagi |

hj
| 🙏🏻🙏🏻

bernadbear
| wkwkwkw
| lu kalo udah suka ngaku aja, no
| tinggal beliin apa yang kita mau juga

chandra
| mana bisa gitu ber, gengsi die wkwk
| egonya yang lu tantangin itu

hj
| YA KAN, ITU MAH UDAH FIX NAKSIR ANJG

dower brengsek |
bacot lu semua |

chandra
| gausa alergi fakta gitu kali, no
| ketauan banget denialnya

ngomong apasih |

hj
| yhh, ak kn mnnggu sj smp wktunya tba..
| dmn ak akn mmnta mobil balu ke lano🥰

bibir lu gua tuker ama mobil baru |

bernadbear
| gua juga dulu ngelewatin fase kaya lu, no
| udah santai aja
| tinggal ngaku ke kita kalo lu udah sayang
   sama hanafi
| iya, kan?

-

tbc




BETWEEN US • MINSUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang