forty three

885 150 66
                                    

Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa mereka tiba di penghujung minggu. Seperti biasa, Rano sibuk membereskan rumah, sementara Hanafi hanya boleh beristirahat—peraturan mutlak yang selalu Rano terapkan.

"Kak, kapan mau anter aku pulang ke rumah Mamah?" tanya Hanafi yang tengah berbaring nyaman di sofa ruang tamu, sementara Rano sibuk membersihkan lantai dengan vacuum cleaner-nya.

Rano sempat terdiam, sedikit tersentak mengingat janjinya yang sempat terlewat. "Sore ini, mau?" tawarnya.

Hanafi menoleh cepat, sedikit terkejut dengan ajakan mendadak itu. Namun, semakin dipikirkan, semakin ia merasa itu bukan ide yang buruk.

Tak butuh waktu lama bagi Hanafi untuk menyetujui tawaran Rano. Matanya berbinar, penuh antusias. "Boleh! Trus pulangnya sore besok, gimana?" tanyanya dengan semangat yang mengembara.

Rano tersenyum lembut, menatap kekasihnya dengan penuh kasih. Apapun yang bisa membuat Hanafi bahagia, ia akan melakukannya tanpa ragu. Lima jam atau bahkan lebih perjalanan bukanlah hal yang sulit jika tujuannya adalah mengantarkan Hanafi bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya.

"Iya, sayangku. Sana prepare apa aja yang perlu dibawa, nanti kita beli oleh-oleh juga buat Mamah kamu," ucapnya sambil melirik Hanafi yang kini tampak semakin bersemangat.

Tanpa menunggu perintah kedua, Hanafi melompat dari sofa dan langsung memeluk Rano, menumpahkan rasa rindunya yang sudah terlalu lama ia pendam. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali ia melihat wajah ibunya, dan kini, hanya dalam hitungan jam, ia akan kembali berada di pelukannya.

Tak ingin membuang waktu, Hanafi segera beranjak, mengumpulkan barang-barang yang sekiranya diperlukan untuk perjalanan dan selama di sana. Jantungnya berdetak lebih cepat, membayangkan pertemuan yang sudah lama ia nanti.

-

"Udah semua? ada yang ketinggalan ngga?" tanya Rano yang sibuk memasukkan barang-barang bawaan mereka ke dalam bagasi.

Hanafi menggeleng, "Engga, udah semua," jawabnya.

Rano mengangguk sebelum menutup pintu bagasi rapat-rapat lalu beralih ke sisi mobil untuk membukakan pintu untuk kekasihnya. Hanafi pun segera masuk dan duduk dengan nyaman di dalam mobil yang akan membawanya bertemu sang ibu.

Setelah memastikan Hanafi duduk nyaman di dalam mobil, Rano kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ia keluar lagi dengan membawa sebuah bantal kecil dan selimut tebal yang masih terlipat rapi di tangannya. Udara malam semakin menusuk, dan Rano tak ingin kekasihnya merasa kedinginan selama perjalanan.

"Ini kakak taro di belakang, ya," ucapnya lembut setelah kembali masuk ke dalam mobil.

Hanafi hanya mengangguk singkat. Perhatian sekecil apa pun dari Rano selalu membuatnya merasa begitu dimanjakan. Dulu, saat mereka masih hanya sebatas ‘teman,’ Rano memang selalu bersikap lembut dan penuh perhatian. Hanafi sempat mengira bahwa itulah batas terbaik dari sifat Rano yang bisa ia dapatkan. Namun kini, setelah mereka benar-benar bersama, ia menyadari bahwa yang ia terima jauh lebih dari sekadar perhatian—ia menerima kasih sayang tanpa syarat.

Perjalanan pun dimulai. Delapan jam di jalan raya yang macet mungkin terdengar melelahkan bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi mereka. Waktu seolah berjalan lebih cepat saat dihabiskan dengan berbagi cerita, berpegangan tangan, berbagi musik, hingga bernyanyi bersama. Gelak tawa sesekali pecah di dalam mobil, mengisi perjalanan panjang mereka dengan kehangatan yang lebih dari cukup. Tak ada satu detik pun yang terasa membosankan.

BETWEEN US • MINSUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang