Rano tiba di rumah dan memarkirkan motornya, dengan suasana hati yang cerah Rano masuk ke rumah dan segera menuju ke kamar untuk menemui Hanafi.
Ceklek.
Rano membuka pintu kamar dan berdiri di ambang pintu, ia merentangkan kedua tangannya dengan senyuman, "Kakak pulang!" serunya membuat si manis terkejut lalu berlari memeluk Rano kemudian. Rano merengkuh raga kecil Hanafi erat-erat, "Kok cepet amat sampenya? lu ngebut ya, Kak?" tanya Hanafi.
"Engga kok." bohong Rano, padahal kenyataannya ia benar-benar mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi yang mana itu adalah larangan dari Hanafi, "Bohong!" balas yang lebih muda. Ia menjauhkan wajahnya yang semula bersandar pada bahu Rano untuk menatap wajah pemuda itu, "Engga bohong, Hanafiii. Emang ga ngebut, tapi ga macet juga makanya cepet." balasnya lagi. Akhirnya Hanafi mengangguk mengiyakan meskipun dalam benaknya masih mencurigai Rano.
"Udah, sana bersih-bersih dulu trus makan." perintah Hanafi. "Abis makan apalagi?" tanya Rano membuat si manis terlihat bingung, "Ya tidur, apalagi emang?" balas Hanafi. Rano tidak menjawab melainkan menyeringai sembari melirik mata dan bibir Hanafi bergantian. Hanafi yang mengerti hal tersebut segera menutup bibirnya menggunakan tangan, "Ga mau!" serunya membuat Rano terbahak dan mengusak surainya gemas.
"Gua mandi sama makan dulu, nanti gua balik sini lagi kita ciuman."
-
Hanafi duduk bersandar di kasurnya sementara Rano sedang makan malam, saat ini Hanafi sedang panik dan gugup memikirkan kalimat Minho tadi. Entah pemuda itu serius atau bercanda tetap saja membuat Hanafi tak karuan.
Huft, dasar Rano sialan. Hanafi menarik nafasnya dalam-dalam berusaha melupakan hal tersebut, ia rasa Rano tidak mungkin melakukan apa yang ia ucapkan tadi, iya 'kan?
Hanafi turun dari kasurnya dan menyusul Rano di dapur untuk meminumvitamin hariannya, setibanya di dapur Hanafi melihat Rano sedang membereskan alat makannya tadi. Ia susun kembali piring yang sudah dicuci ke tempatnya. "Kak, tolong ambilin vitamin gua dong di lemari atas." ujar Hanafi sambil menunjuk lemari yang sejajar dengan kepala Rano.
Rano berdeham dan langsung mengambilkan vitamin yang Hanafi minta. Setelahnya Rano melenggang begitu saja ke kamar dan meninggalkan Hanafi sendirian di dapur, Hanafi pun segera meminum vitaminnya dan mengisi air ke dalam botol minum untuk di bawa ke kamar.
Tak lama kemudian Rano datang dan langsung memeluk Hanafi dari belakang, "Eh-Kak?" Hanafi jelas terkejut saat tiba-tiba Rano memeluknya dan menciumi lehernya. "Gua udah sikat gigi." ujarnya tanpa konteks yang jelas. Hanafi mengernyit bingung, ia taruh botol minum yang semula ia pegang di atas meja pantry. "Ya udah, sana tidur." balasnya.
Rano tidak menjawab, ia ubah posisi di manis agar menghadap dirinya. Rano tersenyum manis sambil menatap Hanafi intens, ia letakkan tangannya pada pinggang ramping yang lebih muda dan menariknya lebih dekat hingga Hanafi harus menahan dada Rano agar tidak terlalu menempel padanya, "K-kak.." cicit Hanafi.
"Hm?" saut Rano menatap mata dan bibir Hanafi bergantian, dapat Hanafi lihat Rano meneguk ludahnya dengan matanya yang kian menyayu, detik selanjutnya manik keduanya bertemu dan nafas Rano semakin memburu melihat ekspresi polos Hanafi saat ini. Tangan kanannya ia bawa untuk menyingkap kaus yang Hanafi kenakan, ia peluk pinggang itu dengan posesif dari dalam dan sesekali mengelusnya sensual.
Selanjutnya Rano alihkan lengan Hanafi ke lehernya, Hanafi merasa jantungnya berdegup kencang dan udara di sekitarnya pun seolah menipis karena ulah Rano. "Han.." panggil Rano dengan suara rendahnya, mendengar Rano memanggil namanya membuat kupu-kupu di dalam perutnya semakin menjadi-jadi.

KAMU SEDANG MEMBACA
BETWEEN US • MINSUNG
FanfictionKatanya taruhan, tapi kok ciuman? #1-stay (29/11/24) #1-han jisung (3/12/24) #1-leeknow (19/01/25) written by; staylupminsung, 2024.