eight

1.1K 184 62
                                    

Benar saja apa yang dikatakan Hanafi tadi, jika mereka tidur terlalu awal kemungkinan mereka akan terbangun di tengah malam seperti sekarang. Keduanya terbangun kisaran pukul dua malam dikarenakan lapar, dan saat ini Hanafi sedang memanaskan makanan sore tadi dibantu oleh Rano.

"Kak, mau teh ga? biar anget perutnya." tawar Hanafi sambil membuat teh untuk dirinya sendiri. "Boleh." jawab Rano yang berdiri di sebelahnya sambil mengaduk sup yang sedang direbus kembali. Lantas Hanafi membuat secangkir teh lagi untuk kakak tingkatnya dan dilanjutkan dengan menyiapkan piring nasi.

Sejauh yang Rano perhatikan, Hanafi adalah sosok yang sangat perhatian. Belum genap satu bulan mereka berteman dan banyak sekali nasihat mengenai kesehatan yang Hanafi berikan padanya. Bukan hanya itu, setiap pemuda itu berkunjung ke apartemen Rano ia tidak pernah sekalipun ia pergi tanpa meninggalkan makanan yang telah ia buat untuk pemuda itu dilengkapi dengan pesan-pesan di kertas kecil untuknya.

Semakin hari rasanya Rano makin penasaran dengan sosok di sebelahnya ini, ingin rasanya ia tau lebih dalam mengenai seorang Andrea Hanafi.

Setelah dirasa cukup, semua makanan yang dihangatkan tadi langsung ia tiriskan dan sajikan di atas meja makan. Membuat perutnya kembali berbunyi untuk meminta segera diisi. Rano maupun Hanafi duduk di tempat yang sama seperti sore tadi, setelah berdoa dan mengucapkan terimakasih kepada satu sama lain keduanya langsung makan dalam keadaan sunyi.

Hanya denting antara sendok dan piring yang memenuhi dapur Rano, tak ada percakapan yang begitu signifikan antar dua orang berselisih umur tersebut.

Merasa terlalu sunyi dan sedikit canggung, akhirnya Rano membuka suara, "Abis ini mau tidur lagi, Han?" ujarnya bertanya. Hanafi mengangguk dengan pipi yang semakin besar karena diisi makanan di setiap sisinya, diam-diam Rano tersenyum gemas melihat hal itu. "Iya, kak, gua masih ngantuk soalnya. Besok kelas lu jam berapa by the way?" si manis balik bertanya.

Rano membuka ponselnya sekejap untuk memastikan jadwal mata kuliahnya besok apakah dirubah atau tidak. "Siang deh kayanya jam-jam 2, rencananya besok gua mau nyiapin laprak kemaren dulu baru ngampus." balas yang lebih tua. Hanafi mengangguk-angguk lucu. "Kalo lu?" lanjut Rano bertanya balik.

"Jam 11 sampe jam 2."

"Berarti besok gua anterin lu pulang dulu baru masuk kelas."

"Ga usah deh, kak. Ribet bolak balik, gua pergi sendiri juga bisa, selama ini kan apa-apa sendiri."

"Itu kan sebelum kenal gua, kalo sekarang beda lagi."

"Terserah deh, kak."

Malas berdebat, Hanafi membiarkan Rano menang kali ini. Karena selalu diantar jemput oleh Rano, mobilnya jadi tak berguna di parkiran apartemen Rano. Ya, mobil Hanafi masih berada di tempat Rano sebab tak pernah ia gunakan lagi. Rano selalu saja memaksa dirinya agar mau diantar dan dijemput oleh yang lebih tua. Hanafi tak begitu mengerti dengan jalan pikiran pemuda itu, tapi ya sudahlah, semerdeka Rano saja.

Selesai dengan acara makan tengah malam, kini bagian Hanafi yang mencuci piring berserta peralatan lain yang mereka gunakan untuk makan. Tapi ternyata mencuci piring tidak semudah itu jika ada kucing besar yang terus menempel padanya sehingga si manis jadi susah bergerak ke sana dan ke mari.

"Ih Kak! Duduk dulu bisa ga sih? gua berasa ketempelan tau ga?" ujarnya pada Rano yang melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Hanafi ditambah dengan pemuda itu yang menyandarkan dagunya pada bahu sempit sang adik tingkat. "Ga mau, mau cuddle." balasnya keras kepala. Ukuran tubuh keduanya semakin terlihat berbeda dengan posisi sekarang, bahkan bahu Hanafi tertutupi sepenuhnya oleh punggung lebar Rano.

"Ya iya tar cuddle kalo mau tidur. Lepasin dulu sekarang gua mau nyuci piring biar cepet kelar."

Dengan berat hari Rano menjauhkan tubuhnya dan duduk di kursi yang semula Hanafi duduki sambil menunggu si manis menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah selesai, Hanafi tidak langsung mendekat ke arah Rano melainkan langsung melarikan diri ke kamar dengan tawa lucu yang mengiringinya. "Heh!" seru Rano yang ikut berlari mengejarnya. Hanafi melompat ke arah kasur dan langsung melindungi tubuhnya dengan selimut, tawanya begitu lepas terlebih ketika Rano masuk ke kamar. "Mau lari kemana? hm?" tanya Rano dengan tawa yang sama lepasnya, ia berjalan perlahan ke arah kasur membuat Hanafi semakin mendempetkan dirinya ke dinding.

"Aaaa!" pekik si manis kala Rano berhasil memeluknya erat agar ia tak bisa kabur ke mana pun. "Nakal ya." ucap Rano sembil menggesekkan hidungnya pada ceruk leher Hanafi membuat sensasi geli sehingga ia tertawa tanpa henti.

"Hahahaha... udah kak, geli.. ahahaha.."

Rano menghentikan aksinya sambil menatap lekat Hanafi yang luar biasa menggemaskan di matanya saat ini. Entah karna ini adalah jam rawan atau memang Rano yang baru menyadari kadar manis yang terkandung dalam Hanafi?

Posisinya saat ini adalah, Hanafi berbaring dengan Rano yang memeluknya dari atas. Sebenarnya ini lebih terlihat seperti Rano mengukung Hanafi daripada memeluknya, sedikit intim memang tapi sepertinya Hanafi tidak keberatan.

Manik arang Hanafi seolah menyihir Rano untuk terus melihat ke arahnya tanpa berkedip. Mata bulat nan indah itu juga turut larut dalam pahatan indah wajah di atasnya. Tak dapat dipungkiri jika seringkali Hanafi terpaku melihat ketampanan Rano, tidak heran banyak sekali wanita yang menyukainya.

Mata Rano semakin lama semakin sayu, bahkan ia tak lagi begitu fokus pada manik indah tersebut melainkan beralih pada bibir cherry Hanafi yang mengundang untuk dikecup habis. Perlahan Rano mendekatkan wajahnya dengan kepala yang sedikit miring, bersiap mengecup bilah ranum tersebut.

Rano kehilangan kontrol dirinya hanya dengan menatap Hanafi beberapa saat, sedangkan Hanafi yang sadar akan situasi langsung memalingkan wajahnya ke arah lain sehingga gerakan Rano sontak terhenti begitu saja. "K-kak.." cicit si manis.

Tubuhnya panas dingin saat ini merasakan situasi yang aneh menurutnya, sedikit rasa takut menyelimuti dirinya tetapi juga terpancing di saat yang bersamaan. Hanafi tidak mengerti hal-hal seperti ini, ia gelagapan merasakan gerak-gerik Rano yang mulai menjelajahi pinggangnya dari dalam kaus dengan tangan kekarnya itu.

Rano tak berpindah dari posisinya, ia mengikuti arah wajah si manis hingga deru nafasnya tepat berada di telinga pemuda di bawahnya itu.

"Han.. can i kiss you?"

-

tbc

BETWEEN US • MINSUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang