Sesuai dengan namanya, jalanan utama menuju rumah ini memang ditumbuhi banyak pohon angsana. Dahannya yang rindang dengan bunga-bunga menguning terlihat cantik. Walau baru seminggu tinggal di sini, aku langsung betah. Banyak hal yang bisa kulakukan, merakit beberapa furnitur yang kupesan online, atau mencari beberapa pernak-pernik unik untuk menghiasi ruangan.
"Kamu bisa?" Itu komentar Bian saat pertama kali melihatku mengebor dinding teras dapur untuk memasang rak-rak tanaman hiasku.
"Bisa, kok. Gampang. Dulu kan aku juga masang ginian di rumah lama."
Ia hanya manggut-manggut. Mungkin selama ini tidak pernah menyadari kalau aku sering menghabiskan waktu luang dengan mengubah-ubah dekorasi rumah atau menghiasi taman.
Di lain waktu ia juga terheran-heran melihatku merakit sebuah lemari gantung di ruang laundry.
"Di rumah kami di kampung, yang suka ginian, ya, hanya aku doang, Mas." Aku tertawa melihat ekspresinya. "Ini mah gampang, tinggal merakit aja, dulu aku pernah bikin lemari kayu sederhana untuk Ibu. Papannya beli kepingan."
"Aku sama sekali nggak bisa ngelakuin hal-hal kayak gitu, lho." Ia menggaruk-garuk kepala seperti orang tak habis pikir.
Aku tertawa. "Minat orang kan beda-beda, Mas. Aku nggak bisa duduk diam saja tanpa ngelakuin apa-apa. Tangan pokoknya mesti bergerak terus."
"Ya aku akui, tanganmu memang sangat terampil." Ia tersenyum penuh arti. Entah apa maksudnya, tapi aku merasa jengah sendiri karena memikirkan hal lain di balik kata terampil yang ia sebut barusan. Soalnya ia juga menyebutku terampil saat menggosok dan memijit punggungnya waktu itu. Dasar!
"Ya, banyak hal yang bisa aku lakukan dengan kedua tanganku. Mas tinggal sebut saja."
"Benerin genteng?" Sepertinya ia sengaja meledekku dengan pertanyaan itu.
"Pernah, tapi kalau rumah ini aku nggak yakin bisa. Tinggi banget soalnya." Aku tergelak.
"Ngecor lantai?"
"Bisa, dulu lantai kamar mandi kami ada yang rusak, aku bisa perbaiki."
"Wow! Sebagai laki-laki aku merasa gagal." Bian geleng-geleng kepala.
"Keadaan yang bikin aku bisa ngelakuin semua itu. Lagi pula saat kuliah, aku nggak asing dengan alat-alat pertukangan sederhana. Dulu bahkan ada tugas bikin ukiran sama belajar membatik segala."
"Aku pikir kamu jurusan pendidikan "
"Ya pendidikan seni rupa."
"Oh, kirain guru TK."
"Ketahuan banget, ya, Mas nggak pengen tahu asal usulku sebelum kita menikah."
Ia tampak merasa salah tingkah. "Mami pernah bilang kalau kamu sarjana pendidikan, tapi aku nggak nanya lagi.Terus pas kamu ngajar di TK kupikir, ya gitu ...."
"Tapi cara berkebun dan merawat tanaman nggak diajarin kan waktu kuliah? Kamu juga terampil berkebun aku lihat," lanjutnya kemudian.
"Itu hanya hobi, lagi pula cara berkebun dan merawat tanaman itu, bertebaran artikel dan tutorialnya di internet."
"Jadi kita nggak perlu pakai jasa desainer lagi, dong, untuk rumah ini?" Ia tertawa, seraya membantuku memegangi tangga yang kunaiki untuk memasang rak lemari gantung.
"Nggak usah. Mending desain sendiri aja pelan-pelan, sambil cari-cari model yang cocok dengan selera kita."
"Aku jadi penasaran, apa ada hal yang kamu nggak bisa lakuin?"
"Ya pasti adalah. Aku nggak mahir sama sekali memainkan alat musik," ucapku sambil tertawa.
Aku tidak menyangka, kalau pernyataan sederhana itu justru membuat Bian terdiam. Ia tak bertanya lagi sampai kami istirahat untuk makan siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALWAYS YOU
Romantik~Terkadang orang terdekatlah yang menorehkan luka paling dalam~ Innara pikir dinikahi oleh cinta pertamanya, Bian, akan berujung bahagia. Apalagi, keluarga Bian yang menjodohkan mereka sangat menyayangi Innara. Namun, siapa sangka pernikahan tersebu...
