Siang itu suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Cahaya matahari masuk lembut melalui celah tirai, menciptakan bayangan hangat di lantai marmer kamar utama.
Salsa baru saja selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah, ujung-ujungnya meneteskan air tipis yang membasahi bahunya. Ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan pakaian dalam yang tertutup oleh kimono mandi berwarna lembut yang terikat longgar di pinggangnya.
Lian sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Seperti biasa, sebelum pergi ia sempat mengecup kening Salsa dan berpesan agar ia banyak istirahat. Kini di rumah hanya ada Salsa dan ART yang sesekali terdengar beraktivitas di dapur.
Salsa melangkah pelan menuju cermin besar di sudut kamar. Ia berhenti tepat di depannya, memandangi pantulan dirinya sendiri.
Dengan gerakan perlahan, ia membuka ikatan kimono yang melingkar di pinggangnya. Kain itu sedikit tersibak, memperlihatkan perutnya yang kini membulat sempurna, jelas terlihat usia kehamilannya yang semakin matang.
Ia tersenyum. "Gemes banget..." gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Tangannya terangkat, mengelus permukaan perutnya dengan gerakan lembut dan penuh kasih. Sentuhannya hati-hati, seolah menyampaikan rasa sayang melalui kulit.
Ia memiringkan tubuh sedikit, memperhatikan lekuk perutnya dari samping melalui cermin. Sorot matanya berubah lembut, penuh cinta dan kekaguman.
"Anak Ibu lagi apa di dalam?" tanyanya pelan, suaranya hangat dan manja. "Lagi tidur atau lagi main?"
Ia terkekeh kecil. "Coba kasih ibu tendangan kecil sayang... Nanti kita makan strawberry lagi."
Seolah mengerti ucapan ibunya, tiba-tiba terasa sebuah tendangan kecil dari dalam. Lembut, namun cukup jelas.
Salsa terdiam sejenak, lalu matanya membesar penuh kegembiraan. "Eh..." ia tersenyum lebar.
Tangannya langsung menempel lebih erat di satu sisi perutnya, merasakan gerakan kecil yang kembali terasa. "Pinternya anak Ibu..." ucapnya lirih, nyaris berbisik penuh haru.
Perasaannya menghangat. Ada sensasi yang tak bisa dijelaskan, antara bahagia, terharu, dan rasa tanggung jawab yang semakin besar setiap harinya.
"Sehat terus ya, Nak," lanjutnya dengan suara yang kini lebih serius namun tetap lembut. "Yang kuat. Kita berjuang bareng-bareng, ya. Ibu juga belajar jadi ibu yang baik buat kamu."
Ia mengusap perutnya lagi, kali ini lebih lama, lebih pelan, seolah ingin mengabadikan setiap detik kebersamaan itu. Sentuhannya tak sekadar refleks, melainkan penuh makna, penuh rasa syukur dan cinta yang tumbuh tanpa syarat.
Salsa menghela napas perlahan. Kamar terasa begitu hening. Hanya suara lembut pendingin ruangan dan samar aktivitas ART dari kejauhan yang terdengar.
Di tengah kesunyian yang intim itu, tiba-tiba terdengar dering ponsel memecah suasana.
Salsa sedikit terkejut. Ia menoleh ke arah meja rias tempat ponselnya tergeletak. Layar menyala, menampilkan nama yang sangat familiar.
"Qiyyah."
Senyumnya langsung mengembang.
Tanpa banyak berpikir, ia melangkah mengambil ponselnya lalu menggeser tombol jawab.
"Halo, Qi. Kenapa?" tanya Salsa dengan suara ringan dan santai.
Di seberang sana terdengar suara ceria yang sudah sangat ia kenal.
"Keluar yuk? Kita quality time bareng. Udah lama banget kita nggak quality time," ucap Qiyyah to the point, tanpa basa-basi seperti biasanya.
Salsa tertawa kecil. "Aku sih ayo-ayo aja," jawabnya spontan. "Tapi aku belum izin Lian. Kalau aku nggak bilang dulu, bisa marah dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
