Tadinya tuan Yoo mengajak keluarga anaknya untuk pergi jalan-jalan malam ini. Namun mereka bilang masih butuh istirahat, kecuali Yeonwoo. Dia sih memang bersemangat karena perginya untuk membeli mainan. Jadi tuan dan nyonya Yoo pergi hanya bertiga bersama Yeonwoo dan sisanya lagi tinggal di rumah.
"Bu, ayah sama Ibu udah gak berantem?" tanya Minju.
"Enggak, udah nggak papa kok."
"Kenapa kalian berantem? Ayah beneran selingkuh sama cewek lain? Kalo iya, nanti Soobin pukulin sekarang mumpung gak ada kakek sama nenek," kata Soobin yang masih kesal.
"Bin sabar Bin," tegur Jeongyeon.
Suara langkah terdengar berhenti di belakang Soobin dan Minju. Tiga orang di ruang tamu reflek mengalihkan atensinya ke arah sana. Dengan secangkir air putih, Namjoon berdiri dengan wajah khas bangun tidur dan masih mengenakan piyamanya. Soobin beringsut menaiki sofa dan menarik piyama ayahnya sehingga Namjoon sedikit menumpahkan air minumnya.
"Yang Yeonwoo bilang kemaren bener gak?" tanya Soobin menuntut jawaban dari mulut ayahnya.
Dengan ragu Namjoon mengangguk meski Jeongyeon memberi isyarat dengan gelengan kepalanya.
"Bener-bener yah! Tau gak? Ibu tuh sampe bohongin Soobin sama Minju gara-gara ini. Kenapa bisa Ayah lakuin itu? Udah punya anak banyak juga, masih aja godain cewek lain," omel Soobin.
"Tapi itu bukan kehendak Ayah. Ayah gak pernah lagi kok duain Ibu," jawab Namjoon.
Harusnya, kata 'lagi' tak perlu keluar dari mulut Namjoon. Otak Soobin yang cepat tanggap langsung mencerna kalimat ayahnya.
"Maksudnya? Ayah pernah selingkuh dari Ibu juga sebelum ini?"
Bola mata Namjoon terlihat bergerak ke kanan dan kiri karena gelisah mencari jawaban. Minju yang awalnya masih diam, kini ikut mendekati ayahnya dan menatapnya tajam. Dengan pukulan agak keras Soobin melepas ayahnya dari cengkramannya.
"Jawab!" tuntut Soobin. Lamat-lamat Namjoon mengangguk lagi.
"Ayah kok gitu sih? Ayah gak mikirin kita? Ayah tega banget sih, Yah?" tanya Minju.
"Sebenernya ada yang mau sekalian Ayah omongin juga sama kalian berdua," ungkap Namjoon.
Meski Jeongyeon menentang untuk memberitahu rahasia keluarganya, tapi menurut Namjoon hal ini harus segera disampaikan.
"Jangan-jangan alasan kita gak pernah ke Padang itu karena kakek sama nenek gak suka sama Ayah karena Ayah selingkuh?" tanya Minju.
Namjoon mengangguk, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Kakek sama nenek nggak mau nerima Ayah lagi ... karena ... Ayah nikah lagi dan punya anak tanpa sepengetahuan mereka," ungkap Namjoon.
Bagai ditusuk belati tak kasat mata, entah kenapa Minju merasakan kesakitan yang sulit ia gambarkan. Sementara Soobin yang sudah mengepalkan tangan sedari tadi, sudah hampir melayangkan bogemannya ke arah sang ayah jika tidak segera Jeongyeon tahan.
"Soobin tahan emosinya. Duduk aja kita bicarain pelan-pelan," kata Jeongyeon.
"Gak perlu, Bu. Yang kek gini tuh harusnya langsung digampar aja, kurang ajar!"
"Soobin jangan gitu dong Nak. Duduk dulu, yah? Ayah juga udah perbaiki semuanya dan kejadian kemaren juga bukan salah Ayah, kok."
"Jadi siapa anak yang Ayah maksud?" tanya Minju.
Namjoon menatap ke arah Minju, bibirnya bergerak mengatakan, "Min...ju," jawab Namjoon.
Gadis yang sedari tadi menatap tajam ke arah ayahnya kini hanya bisa terjatuh lemas di atas sofa, tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Tubuhnya bergetar hebat menangis dengan sejadi-jadinya. Soobin dan Minju sama-sama bingung dengan semuanya karena sedari dulu mereka hanya tahu bahwa mereka terlahir dari satu rahim yang sama dan memiliki ibu yang sama. Dengan rengkuhan hangatnya, Jeongyeon berusaha menenangkan Soobin dan Minju. Kedua anaknya terlihat begitu syok usai mengetahui soal masa lalu ayah mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDORA
FanfictionCerita keseharian tentang pemukim umum. Beberapa tingkah dari mereka ada yang minim akhlak sampai ada juga yang akhlaknya eobseo. Wanna know it? Let's check this pandora! Bahasa : Formal/Non Formal Update : Jarang Universe : AU Gambar hanya sebagai...
