42

19 6 0
                                        

Liburan Hari Terakhir bag 1


Suasana rumah yang asri membuat dua keluarga besar ini betah menikmati waktu liburan bersama. Angin sepoi-sepoi menambah tentram suasana siang yang lumayan terik ini. Sebetulnya acara makan-makan ini cuma sekedar acara penutup sebelum anak-anak mudik ke kota lagi karena waktu liburan sudah habis. Meski cuma makan di saung, tapi karena pemandangan sawah yang membentang luas, makannya jadi lebih nikmat. Apalagi makan masakan rumahan khas yang kaya cita rasa, moment ini rasanya sulit digantikan dengan hal lain. Sayangnya Yeonjun tidak bisa ikut bergabung, dia sudah kembali ke Depok duluan karena ada jadwal kuliah

"Jake sama Nako harusnya daftar sekolah di sini aja, enakan disini kan?" tanya nenek Kim.

"Gak bisa Nek, sekarang pakenya sistem zonasi. Kalo kejauhan dari alamat tempat tinggal, nanti ribet ngurusnya," ujar Jake.

"Loh kok gitu?"

"Pemerataan siswa, supaya yang pinter gak ngumpul di satu sekolah favorit tapi bisa kesebar di semua sekolah."

"Oooh gitu sekarang. Dulu mah sekolah ya sekolah aja. Papah kamu aja asal Nenek masukin sekolah."

"Nah makanya jadi polisi," kata Jake.

"Emang kenapa sama polisi?" tanya Taehyung.

Jake menggerakkan bola matanya bingung, "...ya enggak, kalo sekolahnya jurusan perawat kan jadinya perawat."

"Papah masa gak tau ada peribahasa 'Tuntutlah ilmu ke negeri China supaya gak jadi polisi'," kata Chaewon.

Jimin terkikik, mulutnya hampir menyemburkan nasi sambal goreng pete gara-gara Chaewon.

"... tapi Papah keren kok Pah, Papah beda dari yang lain, hehe," puji Chaewon dengan nada canggung.

"Orang lain ngejar duit, dia ngejar masalah yah Won," timpal tuan Kim.

"Naaaiseeeuuu Kek," kata Chaewon.

"Saya ngikutin Bapak yah jadi polisi," kata Taehyung sembari menaruh tahu goreng di piring ayahnya.

"Parah papahmu Tae," kata tuan Park.

"Ceritain dong Om jaman Om Jimin ikut demo," pinta Chaewon.

"Om Jimin beneran ngelawan Papah?" tanya Jake.

"Papah tuh justru sering bantuin dia," kata Taehyung.

"Udah jangan ada yang demo-demo lagi, kalo ada demo biar orang lain aja, kalian gak usah ikut-ikut," kata nyonya Park. Kalimat itu diangguki juga oleh nenek Kim.

Ingatan beliau soal putranya yang dulu sempat ditangkap sewaktu menjadi demonstran memang sulit dilupakan, bahkan sepertinya terlalu melekat di otaknya

"Sekarang tuh justru harus Nek, makin kesini makin ngawur soalnya negara kita," ujar Nako.

"Eh! Jangan ikutin Papa kamu, dikira Mama kamu gak khawatir nanti kalo kamu kenapa-napa?"

"Nek, masa muda gak bisa disia-siakan. Kalo kita bisa bantu dengan cara turun langsung, ya harus turun. Tenang Nek, sekarang kita kan udah ada backingannya," kata Chaewon.

PANDORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang