Langit Seoul hari itu berwarna biru cerah. SMA Donghwa baru saja memulai semester baru setelah libur musim semi. Di dalam kelas 2-3, Jennie Kim sedang duduk membungkuk di atas meja, menggambar wajah tersenyum di halaman belakang bukunya. Kepalanya bersandar di lengan, dan rambut cokelat panjangnya tergerai ke depan menutupi sebagian wajahnya.
"Jennie," panggil Joy dari meja depan. "Ngapain lo dari tadi senyum-senyum sendiri?"
"Nggak tau," jawab Jennie pelan sambil mengunyah permen karet. "Kayanya hari ini bakal seru."
Seulgi, yang baru masuk ke kelas dengan botol susu cokelat di tangan, mengangkat alis. "Seru apanya? Hari pertama semester, tugas baru, guru baru, serunya di mana?"
Jennie tidak menjawab. Dia hanya merasa ada sesuatu yang berbeda hari ini. Bukan perasaan magis atau pertanda apa pun. Cuma insting khas anak remaja semacam excited tanpa alasan jelas.
Lalu, pintu kelas terbuka. Semua murid otomatis menoleh. Pak Namgil, wali kelas mereka yang selalu tampil dengan dasi kusut dan rambut tipis itu, berdiri di ambang pintu sambil membawa seorang anak laki-laki berseragam rapi. Siswa baru.
Suara riuh kecil langsung memenuhi ruangan. Jennie otomatis menegakkan punggung. Matanya menyipit, menilai.
Laki-laki itu tinggi. Seragamnya rapih, dasinya terikat sempurna. Tapi, ada yang aneh, rambut hitamnya jatuh ke depan, poni tipisnya menutupi sebagian matanya. Wajahnya datar, bahkan saat seluruh kelas memandanginya seperti objek wisata baru, ekspresinya nyaris tisak berubah.
"Selamat pagi semua," sapa Pak Namgil.
"Pagi, pak....."
"Hari ini kita kedatangan siswa baru, Ini siswa pindahan dari Busan. Namanya Kim Jisoo."
Kim. Jisoo. Jennie menyandarkan dagunya ke tangan, matanya tidak lepas dari laki-laki itu.
"Hm. Lucu juga. Tapi kok kaya... Ada yang aneh ya?" Gumam Jennie.
"Saya Kim Jisoo." Suaranya terdengar pelan. Datar. Seolah dia bukan memperkenalkan diri, tapi membaca daftar menu makan siang.
Pak Namgil menunjuk kursi kosong di sebelah Jennie. "Jisoo, kamu duduk di sebelah Jennie. Jennie, tolong bantu dia adaptasi ya."
Jennie langsung memutar badan dan tersenyum manis. "Hallo, Kim Jisoo." ucapnya dengan genit, nada suaranya seperti anak kecil yang manja.
"Kayaknya hari ini kamu beruntung banget duduk di sebelah aku." lanjutnya.
Jisoo hanya menoleh sedikit, lalu mengangguk pelan. Tidak menjawab, tidak tersenyum, bahkan tidak memandang matanya.
Jennie memiringkan kepala. Oke. Mister cuek detected. Tapi justru itu yang menarik.
Ketika laki-laki lain biasanya mudah dibaca atau gampang tersipu, Jisoo, datar. Misterius. Seperti papan tulis kosong. Dan Jennie suka tantangan.
Saat Jisoo duduk dan meletakkan tasnya, Jennie mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat.
"Aku Jennie. Jennie Kim. Tapi kamu bisa panggil aku sayang aja. Karena kalau kamu manggil aku dengan nada formal, aku bisa mati geli," katanya sambil tertawa sendiri.
Jisoo hanya tetap diam. Tidak tersenyum, tidak merespon, atau bahkan menoleh.
Jennie berpura-pura menepuk meja. "Wah! Berat, ya. Aku bisa ngerasain aura kamu dari sini. Aura sedingin kulkas kosan!"
Seulgi dari belakang mendengus. "Ya Tuhan, Jennie...."
Joy hanya tersenyum sambil menyalin dialog Jennie di buku catatannya. "Di jadiin novel juga laku ini."
