"Kim Jisoo-ssi."
Jisoo membuka kedua matanya yang terpejam lalu menatap malas kearah guru pengawas yang kini tengah berada di hadapan nya.
"Bisakah kau bertingkah dengan sedikit rasa sopanmu?"
Taecyeon, selaku guru pengawas menatap lelah kearah Jisoo yang kini tengah duduk bersandar di sofa sembari melipat kedua tangan di depan dada dan kedua kaki yang bertengger manis di atas meja.
"Huft... Appamu adalah jajaran orang terpandang di negeri ini. Tidakkah kau tau bahwa appamu pemilik sekolah ini menyetujui tentang komite anti bullying?" ujar Taecyeon.
"Kenapa kau malah melakukan pembullyan dan menyuruh anak-anak lain untuk melakukan kekerasan? Masalah tentang Minjeong saja belum selesai, dan kini kau menambah masalah dengan kembali membully Jin Jiwoon dan juga Han Junghwan. Apa kau tidak berpikir akan seperti apa kedepannya?"
Taecyeon lagi-lagi harus menghela nafas kasar saat melihat Jisoo hanya diam menatap kearah nya dengan tampang wajah tanpa bersalahnya.
"Jisoo-ssi, bisakah-"
"Ssttt...." Jisoo menempelkan jari telunjuknya pada bibir hati miliknya, sehingga membuat ucapan dari Taecyeon terhenti.
"Kau terlalu banyak berbicara, suaramu benar benar membuatku muak." Jisoo berucap dengan nada santainya.
"Jisoo-ssi-"
"Diamlah. Jangan bertindak seakan kau bisa mengaturku, kau bekerja disini karena kebaikan hati dari keluargaku. Dan perlu kau ingat, aku bisa kapan saja menendangmu keluar dari sini, bahkan membuat kehidupanmu hancur sekalipun aku sanggup." ucap Jisoo.
"Jadi, berhenti ikut campur tentangku, tentang apapun itu. Tugasmu, selesaikan masalahnya dan jangan pernah melibatkanku di dalamnya."
Jisoo berdiri dari duduknya dan sedikit memajukan badannya mendekat kearah Taecyeon duduk.
"Kau mengerti kan, Taecyeon seonsaengnim." Jisoo menepuk beberapa kali pipi milik Taecyeon, lalu memilih keluar dari ruangan.
Taecyeon menghembuskan nafasnya kasar, merasa harga dirinya di injak-injak oleh muridnya sendiri.
∞∞
∞∞
"Bagaimana? Semua baik-baik saja bukan?" Krystal bertanya kepada Jisoo.
Begitu Jisoo keluar dari ruangan Taecyeon, Jisoo pergi menuju ruangan khusus untuk mereka berlima, ruangan yang juga di lengkapi dengan berbagai fasilitas. Krystal memilih duduk di samping Jisoo, sementara Irene dan Rose duduk di hadapan Jisoo dan Seulgi duduk di sofa tunggal.
"Kau meragukanku?"
"Tidak, aku hanya bertanya. Apa itu salah?" Krystal tersenyum, tangannya terangkat mengusap sebelah pipi milik Jisoo.
"Tua bangka itu perlu di berikan pelajaran sesekali, agar dia tidak terus ikut campur dalam urusan kita." Seulgi berucap lalu menatap satu persatu sahabatnya.
"Tidak, kau tidak perlu terlalu berlebihan." Irene ikut bersuara, tidak menyetujui ucapan Seulgi.
"Tapi jika kita biarkan saja, dia akan terus memperlakukan kita seperti ini!"
"Lalu apa masalahmu?" Irene bertanya dengan nada ketusnya. "Apa kau takut padanya?"
"Bukan seperti itu Rene, hanya saja-"
"Diamlah Seul, jangan terlalu memikirkannya. Dia akan diam jika dia lelah nantinya, lagi pula bukankah itu pekerjaannya di sini, menertibkan murid dan memastikan tidak ada tindakan bullying yang terjadi?" ucap Rose. "Jadi, biarkan dia bekerja sesuai dengan pekerjaannya, tugas kita hanya bersenang-senang dan membuat dia terus bekerja agar tidak memakan gaji buta."
