Close to You

348 62 2
                                        




Rumah itu sunyi saat Jennie membuka pintu. Lampu ruang tengah menyala setengah. Aroma jahe dan madu tercium samar dari dapur. Ibunya duduk di sofa dengan selimut setengah menutupi kakinya, menonton drama malam seperti biasa.

Tapi malam ini, Jennie tidak menyapa. Tidak melepas tasnya di tangga. Tidak membuka ponsel seperti biasanya. Jennie hanya berdiri di ambang ruang tamu. Diam.

Ibunya menoleh. “Jennie? Kamu baru--”

“Aku... lihat lagi.”

Ibu Jennie langsung mematikan TV. Jennie masih berdiri di tempat, tangan tergenggam erat, tidak menatap ibunya. Matanya kosong. Tapi suaranya jelas. “Aku lihat lagi. Kaya dulu.”

Beberapa detik berlalu dalam sunyi, lalu suara selimut di tarik. Sang ibu perlahan bangkit dari sofa, mendekati Jennie.

“Sayang...” suara ibunya pelan. “Kamu yakin?”

Jennie mengangguk. “Siapa?”

Jennie menahan napas. Lalu menjawab dengan suara rendah.  “Anak baru di sekolah. Jisoo.”

Ibunya tidak langsung bereaksi. Tapi Jennie bisa melihatnya, mata ibunya sedikit membesar seperti terkena hantaman kenangan lama.

Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali topik ini muncul. Jennie menatap ibunya dengan mata yang penuh ketakutan.

“Bu, aku pikir... itu udah hilang. Aku pikir aku udah normal kaya remaja biasanya.”

Ibunya memeluk bahunya. Hangat. Tapi tubuh Jennie tetap gemetar. “Kasih tau semua,” kata ibunya. “Dari awal.”

Jennie mengangguk. Perlahan, ia mulai bercerita.

Tentang pertemuan pertama di kelas, tentang kecelakaan-kecelakaan aneh, tentang pelukan di trotoar dan penglihatan yang muncul seperti mimpi buruk. Tentang rumah kosong, tentang perkataan Jisoo yang terlalu tenang untuk anak SMA.

Ibunya mendengarkan tanpa menyela. Baru setelah Jennie berhenti bicara, ibunya duduk perlahan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa harus kamu lagi...” gumamnya. “Kamu sudah tenang bertahun-tahun, Jennie.”

Jennie menggigit bibir. “Bu… aku harus bantu dia.”

“Sayang, kamu bahkan belum tau siapa dia sebenarnya.”

“Itu kenapa aku harus tau.”

Ibunya menghela napas panjang. “Kalau benar dia akan mati sebentar lagi, kamu yakin kamu bisa menyelamatkannya? Kamu tau kamu nggak pernah bisa mencegah apa yang kamu lihat.”

“Dulu iya,” suara Jennie bergetar. “Tapi aku nggak mau kehilangan orang lain. Bukan kali ini.”

Ibunya menatap mata putrinya dan di sana ia melihat tekad, tapi juga ketakutan. Ia menghela napas, lalu menggenggam tangan Jennie.

“Kalau kamu mau lakukan ini... kamu nggak boleh sendirian lagi.”

Jennie menatap ibunya. “Maksud Ibu?”

“Besok... kita bicara ke seseorang yang dulu bantu kamu waktu itu. Besok kita ke rumahnya.”

Jennie terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia mengangguk pelan.

||••||••||

Hari itu mendung. Awan menggantung rendah seperti peringatan yang belum di lafalkan. Mobil milik ibu Jennie melaju pelan di kawasan tua daerah Bukchon, berhenti di sebuah rumah kecil berdinding batu dan pagar besi hitam yang sedikit berkarat.

OS/MS JENSOO Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang