Langkah Jennie cepat, hampir seperti berlari kecil di sepanjang trotoar yang mulai sepi. Langit malam sudah turun penuh, dan lampu-lampu jalan menyala kuning pucat seperti mata-mata lelah yang hanya setengah terbuka.
Tangannya dingin. Keringat dingin menempel di punggung meski suhu udara menggigit. Sepatu putihnya nyaris tidak bersuara saat melewati perempatan kosong, dan ia bahkan tidak sadar bahwa ia menjatuhkan bungeoppang, makanan kesukaan Joy tanpa peduli.
Setibanya di depan rumah, Jennie buru-buru membuka gerbang kecil itu dan mendorong pintu dengan terburu-buru. Begitu masuk, suara TV dari ruang tengah terdengar samar.
“Jennie?” suara ibunya terdengar dari dapur.
Jennie tidak menjawab. Dia hanya menanggalkan sepatunya cepat-cepat, menaiki tangga dua-dua, dan masuk ke kamarnya, membanting pintu pelan tapi tertutup penuh.
Kamar itu sunyi. Dindingnya penuh poster musisi indie Korea, lalu tumpukan buku di rak sebelah jendela, dan lampu gantung kecil berbentuk awan di langit-langit. Biasanya kamar ini terasa hangat, seperti pelukan. Tapi malam ini Jennie berdiri di tengah kamar seperti orang asing.
Tangannya gemetar pelan. Dia perlahan merosot ke tepi ranjang, duduk, menatap lantai yang dingin.
"Itu bukan khayalan." Kata itu keluar dari mulutnya sendiri. Pelan, tapi jelas.
“Aku lihat dia,” bisiknya. “Lagi.”
Tangannya menggenggam pergelangan sendiri, seolah ingin menghentikan gemetar di tubuhnya.
Bayangan itu masih menari di kepalanya. Jisoo tergeletak di tengah jalan, pelipis berdarah.
Wajahnya tenang seperti tertidur. Tapi terlalu sunyi untuk seseorang yang masih hidup.
Jennie menggigit bibir bawahnya. Ia sudah pernah melihat hal seperti ini. Bertahun lalu. Sejak saat itu, ia takut menyentuh orang terlalu dekat. Takut melihat lebih dari yang seharusnya.
Takut tau sesuatu yang tidak bisa ia ubah.
“Kenapa sekarang? Kenapa muncul lagi?” gumamnya.
Jennie berdiri pelan, berjalan ke meja belajar dan membuka laci kecil. Dari situ ia mengeluarkan catatan lusuh berisi tulisan-tulisannya dulu, gambar-gambar, simbol aneh, angka waktu, dan wajah-wajah.
Ada satu kalimat yang tertulis di halaman terakhir. 'Yang akan mati selalu terlihat tenang.'
Jennie mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Apa kamu...” gumamnya lirih, “Akan benar-benar mati, Jisoo?”
Beberapa menit berlalu, Jennie tidak bisa tidur. Ia berdiri di depan jendelanya, menatap langit malam yang kosong.
Di luar, Seoul tetap hidup, lampu jalan, suara mobil, anjing menggonggong di kejauhan. Tapi di dalam dirinya, dunia seperti diam.
“Aku nggak mau kehilangan dia”
Bahkan jika Jennie belum benar-benar memiliki Jisoo. Bahkan jika ia belum tau kenapa hati ini terus tertarik pada laki-laki itu.
Jennie hanya tau bahwa kematian itu nyata. Dan Jennie sudah pernah melihatnya dan tadi, Jennie melihatnya lagi.
••••
••••
Jam di dinding menunjukkan pukul 00.47 waktu setempat. Jennie duduk bersila di atas tempat tidurnya dengan laptop terbuka di pangkuan, layar menyala terang dalam gelap.
Mesin pencarian terbuka, dengan kata kunci. 'Kim Jisoo SMA Donghwa', 'Kim Jisoo transfer student from Busan'. Enter. Enter. Enter. Dan hasilnya? Tidak ada.
Hanya ada ratusan nama Kim Jisoo lain, aktor, musisi, siswa lomba pidato di daerah Daejeon, dan satu penjual daging di Gyeonggi. Tapi tidak ada satupun wajah atau profil yang cocok dengan Jisoo yang duduk di sebelahnya di kelas 2-3.
