Close to You

725 58 3
                                        

Hujan jatuh seperti lembaran kaca, menusuk bumi tanpa ampun, udara menjadi berat, lembab, suara derik sepeda motor, klakson, dan roda mobil tergenang air terdengar dari mana-mana.

Jisoo berjalan di bawah hujan tanpa payung. Langkahnya lambat, tidak terburu-buru. Tidak menghindar, air menetes dari rambutnya yang menutupi sebagian wajah. Seragamnya basah, menempel ke kulit. Tapi dia tidak menggigil. Tidak menoleh.

Seolah hujan tidak mengusiknya, seolah dia memang tidak benar-benar hidup di sini.

Dari seberang jalan, di bawah halte kecil dengan atap bocor, Haemin mengamatinya. Ia sudah mengamati sejak tadi dan mencatat satu pola penting, saat cuaca berubah ekstrem batas antara hidup dan mati pada Jisoo makin tipis.

Jisoo menyeberang jalan di zebra cross yang mulai tergenang. Lampu menyala hijau. Mobil-mobil mulai bergerak.

Dan saat itulah sebuah mobil boks dari arah berlawanan meluncur tanpa kendali, remnya gagal karena jalan licin.

Langsung ke arah Jisoo, orang-orang menjerit. Namun Jisoo tidak bergerak, mata kosongnya hanya menatap lurus. Seperti tidak melihat, atau tidak perduli.

Haemin berlari. Dengan langkah panjang, tubuhnya menembus hujan deras dan suara klakson yang melolong seperti amarah dunia.

Haemin menarik tubuh Jisoo dengan tenaga penuh, jatuh ke pinggir trotoar, tepat saat mobil boks itu meluncur di tempat mereka berdiri beberapa detik sebelumnya.

BRAKKKKK....

Suara benturan mobil menghantam tiang listrik di belakang mereka. Jisoo terduduk di trotoar, basah kuyup, matanya terbuka lebar. Nafasnya tercekat, dadanya naik-turun cepat.

Haemin juga duduk di aspal. Napasnya kasar. Tapi kedua matanya tetap menatap Jisoo penuh penilaian, penuh pengakuan.

Dan saat itu, langkah kaki terdengar mendekat. Jennie, dengan wajah panik, membawa payung transparan di tangannya. Rambutnya juga sedikit basah, matanya langsung membelalak saat melihat keduanya di bawah hujan.

“JISOO!!”

Jennie berlari, lututnya nyaris terjatuh karena jalan licin, lalu berjongkok di sebelah Jisoo.

“HEI! KAMU KENAPA?!” tangannya langsung ke bahu Jisoo. “Kamu.... kamu bisa mati tadi!”

Jisoo tidak menjawab. Dia hanya menatap Jennie.
Tatapan yang kali ini penuh sisa keterkejutan.

“Jennie…” gumamnya pelan, suara yang baru keluar setelah begitu lama.

Jennie nyaris tidak percaya dia bicara. Namun sebelum bisa membalas, Haemin berdiri.

Matanya menyapu mereka berdua. “Kalian harus bicara denganku. Secepatnya,” ucapnya, tenang tapi penuh makna.

Jennie menoleh. “Paman Haemin?”

Jisoo menatap pria itu, lama. “Apa aku kenal sama kamu?” tanyanya.

Haemin menatap balik. “Belum,” katanya singkat. “Tapi saya tau kenapa kamu masih hidup.”

Petir menggelegar di langit, dan di bawah payung, mata Jennie membesar. Hujan masih turun deras. Air menetes dari ujung payung bening yang dipegang Jennie, menetes-netes ke pundak Jisoo yang duduk di pinggir trotoar.

Jisoo belum berdiri. Tubuhnya masih basah kuyup, matanya menatap kosong ke jalan basah di depannya. Mobil yang nyaris menabraknya tadi sudah dievakuasi. Orang-orang mulai bubar. Tapi suara di kepala Jisoo masih berisik.

Jennie berdiri di hadapannya, payung masih dia pegang di atas kepala Jisoo. Rambut Jennie lepek, napasnya naik-turun. Tapi matanya tetap penuh keyakinan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 29, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

OS/MS JENSOO Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang