Close to You

419 75 4
                                        






Hari Senin pagi. Langit Seoul di penuhi awan tipis yang belum tau ingin hujan atau tetap menggantung saja. SMA Donghwa kembali riuh, dan seperti biasa, Jennie Kim membuka pintu kelas 2-3 dengan langkah lebar dan senyum lebih cerah dari cahaya lampu lorong.

"Pagi semua~!" serunya sembari melempar tasnya ke bangku.

Seulgi lalu mengangkat wajah dari buku yang di bacanya. "Seseorang kelihatan terlalu semangat untuk hari Senin."

Jennie meletakkan cermin kecil di mejanya dan mulai membenarkan poninya. "Aku punya misi penting minggu ini."

Joy, sambil mengunyah roti krim, memiringkan kepala. "Apa? Nembak Jisoo?"

Jennie nyengir. "Nggak. Belum. Aku mau bikin dia ketawa dulu. Minggu kemarin berhasil bikin dia ngomong beberap kalimat. Minggu ini targetnya, senyum."

Seulgi menggeleng. "Misi hidup lo terlalu berani, Jennie."

Jennie hanya tertawa lalu menoleh ke kanan ke tempat duduk di sebelahnya. Kosong. Tapi tidak lama, suara langkah kaki tenang terdengar dari lorong. Jisoo muncul, masih dengan seragam rapi, rambut berponi menutupi sebagian matanya.

Dia berjalan masuk, duduk tanpa sepatah kata.

Jennie langsung menyapanya, dengan penuh semangat. “Selamat pagi, pangeran kebisuan~”

Jisoo menoleh setengah detik, lalu menatap ke depan lagi.

Jennie tidak menyerah. “Aku bawa ini, lho.” Ia mengeluarkan kotak kecil dari tasnya. “Cokelat mint. Cocok buat cowok misterius yang suka diam-diam kaya kamu.”

“Aku nggak suka manis.”

“Aku juga nggak manis. Tapi kamu tetap suka duduk sebelah aku kan?”

Jisoo tidak menjawab. Tapi ia tidak berpindah tempat, itu sudah cukup.

Beberapa Jam setelahnya, bel istirahat berbunyi. Jennie berjalan di lorong menuju loker siswa, menggenggam minuman kotak sambil sesekali mengedipkan sebelah matanya ke arah siswa laki-laki yang lewat dan mereka langsung salah tingkah, Jennie tertawa kecil melihatnya. Tapi wajahnya berubah serius ketika melihat Jisoo.

Jisoo berdiri sendirian di pojok halaman belakang sekolah. Tempat yang jarang dilalui orang. Ia hanya berdiri, menatap tanah, seolah menunggu sesuatu.

Dan ntah kenapa, Jennie merasa... waspada.

"Kenapa dia selalu sendirian? Dan kenapa tempat dia berdiri... selalu jadi tempat yang berbahaya?"

Tiang basket. Tangga. Dua kejadian, satu korban. Jennie menepis pikiran itu, mencoba kembali ceria, lalu keluar dan menghampiri Jisoo.

“Hei, kamu jadi suka berdiri di sini terus. Nungguin hantu?”

Jisoo menoleh sedikit. “Nggak.”

“Karena kalau iya, aku juga bisa temenin. Aku suka yang aneh-aneh.”

“Aku tau.”

Jennie mengerjap. “Kamu dengerin aku?”

Jisoo hanya menunduk. Tidak menjawab lagi.

Jennie berdiri di depannya, lalu menatap ke tanah. “Eh, kamu sadar nggak sih, hal-hal aneh sering kejadian ke kamu?”

Jisoo hanya diam, tidak menjawab seperti biasa.

“Kayak waktu itu, di tangga. Terus seminggu lalu, ring basket jatuh. Semua orang bilang tiang itu masih kuat. Tapi bisa-bisanya jatuh pas kamu di bawahnya?”

“Cuma kebetulan.”

“Dua kali?”

“...”

Jennie melipat tangan di dada. “Kalau sampai tiga kali, aku bakal bawa kamu ke dukun.”

OS/MS JENSOO Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang