PEMBALASAN

629 47 5
                                        

⚠️ Mengandung kata-kata kasar, mohon untuk tidak ditiru...

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, Maven menghentikan motornya di pinggir jalan jembatan. Ini adalah lokasi yang dikirim oleh Mike padanya 30 menit yang lalu. Melalui pesan, Mike mengatakan jika ban motornya meletus di lokasi ini dan meminta bantuannya untuk segera menjemput. Namun setelah sampai di lokasi Maven dibuat bingung karena tidak menemukan keberadaan Mike di sini. Kemudian ia memilih untuk menghubunginya, tetapi saat ia akan membuka room chatnya dengan Mike, ia dibuat heran dengan sebuah nomor asing yang mengiriminya sebuah foto. Karena penasaran, ia pun membukanya.

"Juna?" Dahinya mengerut dalam, kepalanya menggeleng cepat. Tidak, ia pasti salah lihat. Maven melihat foto itu lagi dengan teliti. Foto yang menunjukkan seseorang yang tergeletak di aspal dengan kepala dan baju yang berdarah-darah.

"Jaket ini..." lirihnya saat melihat logo jaket yang sama seperti yang Juna gunakan tadi. Tanpa pikir panjang ia langsung menancap gas untuk kembali ke tempat pertemuannya dengan Juna tadi.

Di tengah jalan, hujan turun sangat deras, airnya yang menghantam aspal menimbulkan bau yang khas. Maven melirik sekilas ke arah langit, kemudian menambah kecepatan motornya.

Juna, tunggu kakak!

20 menit telah berlalu, perjalanan jauh itu sedikit terpotong karena motor Maven melaju dengan cepat. Dan benar saja, ia dapat melihat tubuh Juna yang masih tergeletak di tengah jalan. Ia langsung berlari cepat ke arahnya.

Tubuhnya meluruh ke bawah, bersimpuh di samping tubuh Juna yang sudah tidak bergerak dengan banyak luka di sekujur tubuhnya. Bahkan genangan air di sekitarnya sampai berwarna merah karena tercampur dengan darahnya.

Ia segera menyalakan ponselnya dan menghubungi ambulans. "CEPAT DATANG KE JALAN MERPATI, ADIK SAYA SEKARAT DAN BUTUH BANTUAN SEGERA!!" teriaknya, lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.

Tangannya mengguncang pelan bahu Juna. "Juna, bangun! Jangan takut-takutin gue kayak begini!" sentaknya sambil terisak.

"SIAPA YANG BERANI BIKIN LO KAYAK GINI, HAH?!"

"SIAPA YANG BERANI SIKSA ADIK GUE??"

"AAGGRRHH!!"

Maven berteriak di bawah hujan, seperti biasa, ia melampiaskan semua emosinya.

"Berisik tau gak?!" tegur Juna terbata-bata. Matanya setengah terbuka.

Lengkungan indah tercipta di bibir Maven. Ingin sekali ia memeluk Juna dengan erat, namun ia takut jika hal itu akan menimbulkan cidera yang lebih parah.

"Juna, Lo harus bertahan, oke! Ambulans akan segera datang," ujarnya.

"Sa-kit, Kak..." ucap Juna sangat lirih, membuat hati Maven tambah sakit melihat penderitaan adiknya.

"Iya, Lo bertahan, ya. Ada gue di sini, Lo pasti selamat!!" ujarnya, berusaha terlihat tegar untuk menyemangati Juna.

Dada Juna bergerak lambat, matanya terpejam saat rasa sakit mendera kepalanya.

Sedangkan Maven, ia terisak, menangis sekeras-kerasnya. Ia merasa bersalah karena lebih mementingkan sahabatnya daripada adiknya sendiri. Andai tadi ia menyuruh Juna untuk segera pulang, mungkin hal keji ini tidak akan terjadi. Maven menyesal, ia sangat menyesali perbuatannya.

"Maafin gue, Jun. Gue gak becus jagain, Lo. Gue gagal... Maaf..." lirihnya sambil terisak. Tangannya menggenggam erat tangan Juna yang mulai dingin. "Tolong jangan tinggalin gue... Tolong..." lirihnya pilu.

Saat mengatakan semua itu, Juna sudah tidak memberikan respon apapun. Matanya terpejam dan tubuhnya dingin. Hujan deras saat ini menjadi saksi bisu, betapa menyesalnya Maven. Apalagi tadi mereka sempat bertengkar, mengadu keegoisan masing-masing. Sungguh, ini bukanlah akhir yang ia mau.

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang