Nathan telah sampai di kediamannya untuk mengantar Axel dan Archie pulang. Setelah memastikan kedua anaknya masuk ke dalam rumah, ia lanjut tancap gas lagi untuk kembali ke rumah sakit. Hatinya merasa tidak tenang untuk meninggalkan bidadarinya yang sedang sakit sendirian di rumah sakit, ralat walaupun di sana ada dua anaknya yang menjaga.
Selepas kepergian Nathan, Axel langsung menarik tangan Archie, mengajaknya masuk ke dalam rumah dengan kasar. Ia tak mengindahkan keluhan Archie dan terus berjalan menuju ke kamarnya.
"Sel, kakiku masih sakit, loh! Hati-hati!" ujar Archie, mengingat kakinya belum sembuh total karena keseleo kemarin. Ia juga merasa heran dengan sikap Axel yang tiba-tiba kasar seperti ini padanya. Padahal biasanya di saat ia sedang sakit, Axel selalu menjadi orang nomor satu yang memberikan perhatian padanya.
Di pertengahan tangga, mereka berpapasan dengan Zayden yang akan turun ke bawah. Axel memberikan sapaan padanya, namun bukannya balasan tetapi Zayden malah menatapnya tajam. Tidak, bukan padanya, tapi pada Archie. Tatapan itu terasa sangat dalam dan tajam, menunjukkan siratan kekecewaan dan marah yang tercampur menjadi satu.
Archie yang ditatap seperti itu hanya memiringkan kepalanya, tanda bingung. Ia juga membalasnya dengan tatapan polos andalannya dengan senyuman tipis sebagai pelengkap. Setelah sepuluh detik berlalu, Zayden memutus adu pandangannya lalu melengos pergi begitu saja.
"Dasar aneh! Gak jelas banget tiba-tiba sinisin orang kayak begitu!" gumam Archie merasa kesal. Namun di detik berikutnya, tangannya kembali ditarik oleh Axel untuk melanjutkan langkahnya ke kamar.
Axel mengunci pintu kamarnya, lalu kembali menggeret Archie untuk duduk di kasur. Kemudian ia mengacak-acak laci mejanya untuk mencari minyak dan salep. Tangannya menggeret kursi belajar dan meletakkannya di depan Archie. Lalu ia mengangkat kaki Archie dengan pelan-pelan dan meletakkannya di atas kursi tersebut. Kemudian ia mulai mengoleskan minyak pada kaki Archie yang keseleo dan mengoleskan salep pada luka-luka lecetnya.
Sementara itu, Archie hanya diam memperhatikan kegiatan kembarannya tersebut. Ia semakin dibuat heran dengan perubahan sikapnya. Apakah ada sesuatu yang mengganggunya?
"Kamu penyebabnya?" tanya Axel dengan tangan yang masih sibuk mengurut kaki Archie.
"Hm?" Archie sedikit membungkukkan badannya ke depan karena suara Axel terlalu lirih di telinganya.
Axel mendongak untuk menatap Archie dengan serius. "Kamu penyebabnya?" tanyanya sekali lagi.
Kedua alis Archie bertaut menandakan kebingungan. Ia gagal menangkap maksud dari pertanyaan Axel. "Maksud kamu?"
Axel menghela napas, kemudian ikut duduk di atas kasur. Menatap Archie serius. "Kamu, penyebab Mama jatuh dari tangga," jelas Axel.
Archie langsung memalingkan wajahnya. Ia menghela napas, rupanya setelah penjelasan panjang lebarnya kemarin, saudara kembarnya sendiri pun tidak percaya padanya dan sekarang malah menuduhnya.
"Kamu dihasut apa sama Kak Zayn, hah? Kamu lebih percaya sama dia daripada saudara kembarmu sendiri?" ujarnya tak percaya.
"Ini bukan tentang percaya atau tidak, Chie. Aku tau semuanya, aku tau gimana sifat dan sikap kamu. Aku tau kemauanmu, tapi kali ini kamu keterlaluan, Chie."
Archie berdecih pelan. "Keterlaluan bagaimana? Itu bahkan tidak sepadan dengan perbuatannya, Sel. Jangan bilang kamu berubah pikiran?!"
"Chie, setelah dipikir-pikir lagi ternyata semua yang udah kamu perbuat selama ini itu akan berakhir sia-sia. Coba kamu pikirkan sekali lagi, mereka yang selama ini udah merawat kita dari kecil, mereka yang udah membiayai hidup kita, dan kamu masih mau membalas semuanya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
FanficKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
