Dari matahari terbit hingga kini terbit kembali, genggaman tangan Leo masih setia mendekap hangat tangan kiri Juna yang banyak terdapat luka gesek. Ia menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam kuat, sisa-sisa air mata masih tertinggal di pipi tirusnya. Rasa kantuk terus menyerangnya, namun ego dalam dirinya terus memaksa agar mata ini tidak pernah terpejam. Di dalam hatinya, ia takut jika akan melewatkan sesuatu jika matanya terpejam satu menit saja. Ia hanya ingin menemani Juna, barangkali adiknya itu akan terbangun dan membutuhkan sesuatu atau bisa jadi suatu hal terjadi dan ia bisa langsung bergegas memanggil dokter.
Di ruangan itu hanya ada ia dan Juna, semua orang entah pergi kemana ia tak peduli. Saat ini yang paling penting baginya adalah keadaan Juna. Entah sadar atau belum, ia akan selalu berada di sisinya sembari terus memanjatkan doa. Juna adalah adik kesayangannya dan mungkin juga satu-satunya. Bukan berarti ia tidak menganggap kehadiran adiknya yang lain. Namun ia hanya merasa belum siap setelah segala hal yang ia hadapi selama ini, cukup sulit baginya untuk menerima kehadiran mereka yang menurutnya terlalu tiba-tiba.
"Juna, ayo buka matamu..." lirihnya dengan suara serak. Matanya tampak sayu dengan kantungnya yang semakin menghitam.
"Emang gak capek apa merem terus?"
"Ayo bangun... Nanti aku beliin es krim coklat kesukaanmu, deh. Dulu kamu suka banget sekarang juga masih, kan?"
"Aku janji gak akan ngomel lagi kalau kamu mintanya seember..."
"Ayo bangun, Juna..."
Tubuhnya terasa sangat lemas sampai bisa membuat suaranya menghilang. Perutnya meronta minta diisi, kerongkongannya kering minta disiram, matanya juga terasa kering sehingga terus berkedip. Namun si pemilik tubuh terus memaksakan egonya, sama sekali tidak memikirkan akibat yang sudah menantinya.
Brakkk
Pintu ruangan itu terbuka secara kasar hingga menimbulkan suara keras dan berhasil membuat Leo tersentak kaget. Suara kaki melangkah cepat ke arahnya. Belum sempat ia menoleh, tubuhnya sudah lebih dulu ditarik kasar dan dihempaskan begitu saja sehingga membuatnya jatuh ke belakang bersama kursi yang didudukinya.
"Juna! Kenapa kamu jadi seperti ini, Nak?! Apa yang terjadi padamu?" Pertanyaan yang mungkin tidak akan terjawab itu keluar dari mulut wanita yang kini menangis deras. Ia terus mengucapkan kalimat tanya yang terasa sia-sia.
Di sampingnya, ada seorang pria yang berusaha untuk menenangkan dengan mengusap-usap bahunya dan terus mengucapkan kalimat 'Dia akan baik-baik saja' namun ucapannya sama sekali tidak digubris oleh wanita itu. Mereka terus mengoceh seakan tidak sadar dengan apa yang barusan mereka perbuat. Di atas lantai dingin itu, Leo yang sudah terduduk dari posisi jatuhnya yang tidak aesthetic itu terus melemparkan tatapan sinis kepada mereka sambil menggumamkan penghuni kebun binatang dan sesekali meringis kesakitan.
"Datang-datang main serobot aja, monyet!! Kalian pikir gue apaan, anjing!!"
Pintu kembali terbuka, menampilkan Nathan yang sedang menenteng kresek makanan dan sebuah tas besar yang menggantung di bahu kirinya. Senyuman yang semula terpatri sempurna di bibirnya kini lenyap saat melihat keadaan Leo yang memprihatinkan. Ia langsung menghampiri Leo dan berlutut di depannya.
"Kamu kenapa, Le? Kok pucat banget?!" ujarnya khawatir.
"Pa—"
"NATHAN! KAMU APAIN JUNA, HAH?!!" Leo menghela napas berat saat kalimatnya terpotong oleh teriakan wanita yang mendorongnya tadi. Wanita itu langsung mendorong Nathan hingga jatuh terduduk.
Sedangkan Nathan, ia menatap wanita itu dengan ekspresi terkejut. "Kak Nada? Kok—"
"Kamu pikir aku gak akan tahu masalah ini?! Mas Tio kerja di rumah sakit ini kalau kamu lupa!" serobot Nada, memotong kalimat Nathan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
FanfictionKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
