KE-ABSURD-AN JUNA

971 83 6
                                        

"Gue bisa jalan sendiri, Kak." Juna melepaskan rangkulan Leo. Ia tak selemah itu sehingga harus dipapah.

"Gak usah banyak protes. Badan lemes gini nanti kalau gue lepasin Lo ambruk gimana?" balas Leo dengan nada tak santai. Ia sangat khawatir dengan kondisi Juna.

Juna hanya berdecak sebal, ia tak menyanggah lagi karena tahu ia pasti akan kalah jika beradu argumen dengan kakaknya ini.

"Lo pulang bareng sama gue naik mobil, motor Lo biar dibawa Zayn aja," ujar Leo.

"Siap laksanakan," sahut Zayn dengan nada tegas seolah mendapat perintah dari komandan, bahkan ia langsung menegakkan badannya lalu memberikan hormat kepada Leo.

Hal itu sontak membuat Leo memberikan tatapan julidnya. Nih bocah dari dulu emang gak waras.

"Kunci mana kunci?" Zayn menyodorkan tangannya kepada Juna.

"Jangan ngebut-ngebut! Awas aja kalau motor gue sampai kenapa-kenapa!" pesan Juna setelah memberikan kunci motornya.

"Tenang saja, Kakak ku. Akan ku jaga motormu dengan sepenuh hati," ujar Zayn dengan nada lembut dan berpose anggun seperti pangeran.

Juna dan Leo kompak membuat ekspresi jijik sambil berlagak akan muntah.

"Yen, gue ikut!" sahut Zayden.

"Kuy..." Zayn mengangguk menyetujui. Kemudian melangkah pergi menuju parkiran.

Sekitar lima menit sepeninggal Zayn dan Zayden, Nathan datang dengan mobil mewahnya. Kemudian ia turun menghampiri kedua anaknya.

"Cuma berdua? Yang lain kemana?" tanyanya saat hanya melihat dua putranya saja, sedangkan yang empat tidak nampak batang hidungnya.

"Axel sama Archie belum keluar, Pa. Kalau Zayn dan Zayden aku suruh pulang naik motornya Juna," jelas Leo.

Nathan sedikit melotot mendengar itu. "Kenapa kamu suruh mereka pulang naik motor? Itu bahaya, Leo. Mereka sama-sama belum punya SIM. Bagaimana kalau ada apa-apa?"

"Mereka pasti aman kok, Pa. Sekarang kita pikirin Juna dulu, dia perlu ke rumah sakit."

"Loh, Juna kenapa?"

"Dia tadi sesak napas waktu upacara, terus katanya perutnya sakit mulu. Dia juga muntah-muntah, Pa."

"Kok bisa? Kamu habis makan apa, Juna? Ayo kita ke rumah sakit!" Nathan menarik pelan tangan Juna.

Namun Juna menepis tangan itu. "Gak usah lebay, aku gak apa-apa."

"Separah itu kamu bilang gak apa-apa?! Kita harus ke rumah sakit, Papa takut kamu kenapa-kenapa."

Juna menatap lamat Nathan yang menunjukkan raut khawatir. "Oh... ternyata papa masih peduli toh," ujarnya lalu melengos masuk ke dalam mobil.

"Jelas Papa peduli, kamu itu anak Papa!" ujar Nathan sedikit emosi.

Leo menepuk pelan bahu Nathan. "Sudah, Pa. Jangan dengerin kata ngelantur dari Juna, dia lagi sakit. Mulut sama hatinya lagi gak sinkron."

Sementara itu, motor ninja hitam milik Juna tengah melaju kencang di jalan raya, dengan Zayn serta Zayden sebagai pengendaranya. Ia dan Zayden memutuskan untuk tidak langsung pulang, mereka ingin mengitari kota ini atas ide Zayn.

"Yen, jangan ngebut-ngebut anjir. Gue gak pakai helm!!" pekik Zayden yang duduk di jok belakang. Poni yang semula menutupi jidat paripurnanya kita telah terangkat ke belakang menunjukkan jidat mulusnya.

"Gak usah khawatir. Pokoknya Lo pegangan aja!"

Zayden semakin mengeratkan pegangannya pada seragam Zayn karena kakak kembarnya itu semakin menambah kecepatan.

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang