ANDAI SAJA

1K 76 1
                                        

Archie yang baru saja memasuki kelasnya tiba-tiba ditarik oleh Ginan yang merupakan teman sebangkunya.

"Archie... Aku punya novel baru nih, genre-nya thriller," heboh Ginan menunjukkan novel barunya pada Archie.

"Tentang apa?"

"Tentang balas dendam seseorang kepada keluarganya karena gak pernah dianggap. Seru banget ceritanya!"

"Kamu sudah selesai baca?"

Ginan mengangguk. "Kemarin aku maraton sampai jam dua pagi,"

"Boleh ku pinjam gak? Aku penasaran sama ceritanya,"

Ginan kembali mengangguk kemudian menyerahkan novelnya pada Archie. "Dijaga baik-baik loh. Novel mahal itu,"

"Siap!"

Selain suka futsal, Archie juga gemar membaca, tapi cuma suka baca novel sama komik aja. Kalau disuruh baca buku pelajaran dia bakal langsung kabur. Kalau baca novel, ia suka genre aksi dan thriller. Kenapa? Karena seru. Ia dapat membayangkan bagaimana aksi para tokoh novel itu dalam imajinasinya.

~•000•~

Saat ini Zayden sedang mengantri untuk membeli bakso kantin favoritnya. Antriannya yang panjang membuktikan bahwa bakso ini terjamin enaknya.

Setelah mendapatkan semangkok bakso, ia berjalan menuju tempat duduk yang disediakan. Bakso yang mengepul itu mengeluarkan aroma sedap sehingga membuat Zayden tak sabar untuk segera menyantapnya.

Duk

Pyaarr

Zayden terjatuh begitupula baksonya. Tangannya melepuh karena terkena kuah bakso yang masih panas. Ia menoleh ke belakang, menatap tajam pada orang yang sengaja membuatnya terjatuh. Kemudian ia beralih menatap mangkok bakso yang sudah hancur berkeping-keping. Jika saja orang ini tidak macam-macam, pasti sekarang bulatan daging itu sudah masuk ke dalam perutnya.

"Bangun dong! Masa gitu doang mau nangis?!" ejek orang yang menyandungnya. Kemudian disahuti oleh suara tertawa dari teman-temannya.

Alis Zayden mengernyit. Siapa juga yang nangis? Emang gue cowok apaan gini doang nangis? Batinnya.

Zayden bangkit dari posisinya kemudian berbalik menuju orang yang mengejeknya.

Bugh

Zayden memberikan pukulan keras pada orang itu. Ia merasa tak terima, karena dipermalukan di depan orang banyak seperti ini.

"Salah gue sama lo apa hah?! Kenapa Lo ganggu gue?!" sentaknya.

Dian meringis sakit, tangannya meraba pipi kanannya yang terkena pukulan Zayden.

"Yan, pipi Lo berdarah," ujar temannya.

Pantas saja pipinya terasa perih. Ia melirik pada kepalan tangan Zayden, rupanya terdapat pecahan mangkok digenggamannya.

Ia berdecih. "Makanya kalau jalan tuh hati-hati. Dilihat jalannya, bukan malah ngeliatin bakso Lo aja. Jadinya jatuh kan... Malah nyalahin orang,"

"Tau tuh. Jatuh-jatuh sendiri malah nyalahin orang. Sampe mukul pula," sahut teman Dian.

Zayden memutar bola matanya malas. Ternyata masih ada ya orang yang playing victim seperti mereka.

"Gue gak bakal bales kalau kalian gak mulai duluan." Ia beralih untuk membersihkan sisa tumpahan baksonya. Tak peduli dengan ocehan makhluk liar di belakangnya.

Setelah selesai, ia beranjak pergi. Moodnya sudah hancur karena bakso favoritnya tumpah. Ia malas untuk mengantri lagi.

"Gue duluan," pamit Dian pada teman-temannya kemudian pergi untuk menyusul Zayden.

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang