"Tolong selamatkan dia, Dok!"
"Kami akan melakukan yang terbaik."
Pintu IGD sengaja ditutup oleh perawat untuk mencegah keluarga pasien masuk supaya tidak menggangu kinerja dokter yang sedang menangani pasien tersebut.
Nathan menghela napas lelah, ia menyugar rambutnya ke belakang. Rasa gelisah masih menghantui pikirannya.
Apakah Aluna baik-baik saja?
Sebenarnya apa yang terjadi pada istri tercintanya itu?
Pagi ini saat ia akan mengambil kunci mobil yang tertinggal di atas kasur kamarnya, ia malah dikejutkan dengan tubuh sang istri yang menggelinding dari atas tangga hingga sampai di hadapannya. Perasaannya hancur bukan main saat melihat keadaan Aluna yang bersimbah darah. Nathan mengakhiri rasa terkejutnya kemudian langsung mendekap istrinya.
"Aluna, sadarlah! Jangan tutup matamu!!" ujarnya panik.
Sedangkan Aluna, ia hanya menatap sendu sambil tersenyum simpul sebelum menutup matanya. Hal itu tentu saja membuat Nathan semakin panik, ia berteriak keras memanggil Aluna.
"ALUNA, SADARLAH!!"
Nathan menggeleng pelan, bermaksud untuk menepis ingatan beberapa jam lalu. Ia tak sanggup melihat wajah nelangsa Aluna yang tak berdaya.
Sementara itu, Axel yang tak sengaja ikut hanya bisa diam termangu. Ia tak tahu pasti apa yang terjadi, dirinya bingung. Ingin sekali ia tahu apa penyebab Aluna bisa terluka seperti itu. Namun mulutnya seolah terkunci, ia tak berani bertanya. Baik pada Nathan maupun Maven yang duduk melamun di sampingnya.
Ia menyalakan ponselnya untuk mengirim pesan pada adiknya.
Chie👽
Kamu dimana?|
Mama ada di rumah sakit|
Kayaknya terluka parah|
Tadi darahnya banyak banget|
Kamu cepetan ke sini|
Aku takut lihat muka Papa sama Kak Maven|
Mereka nyeremin kayak singa|
Chie?|
Woi|
Balas!!|
Axel menghela napas lelah kala tak satupun pesannya dibalas oleh Archie. Ingin sekali jarinya menekan tombol panggilan, namun sekali lagi, ia tak berani. Lagi-lagi ia menghela napas, merasa lelah dengan dirinya sendiri yang terlalu merasa takut seperti ini.
Detik berikutnya, kepalanya menoleh ke arah suara gema langkah kaki beriringan yang mendekat ke arahnya. Langkah kaki itu tampak tergesa-gesa.
Lima orang muncul dari balik tembok yang menjadi penghalang, sesuai dugaan, mereka adalah kelima saudaranya. Huft... Axel akhirnya bisa bernapas lega karena tak lagi merasakan hawa mengerikan dari dua singa di sampingnya ini.
"Chie..." Ia langsung berlari menghampiri kembarannya kemudian mendekapnya erat.
"Kamu kemana aja? Aku chat gak dibalas!!" Ia memukul pelan punggung Archie sebagai bentuk rasa kesalnya. "Aku takut tahu," bisiknya.
Archie membalas pelukan Axel. "Hp ku ketinggalan di kamar. Maaf, ya."
Axel mengangguk sebagai balasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
أدب الهواةKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
